Tahun ini dimulai dengan kuap. Sebagai
penanda hari ini memang telah malam, saat ia berganti. Dengan setengah gelas
kafein, aku coba bertahan untuk tetap nyalang. Berbagi cerita. Mendengarkan.
Atau sekadar bergurau tentang masa depan. Bukan hanya masa depan aku. Masa
depan dia (si bukan manusia, G). Dan masa depan orang lain yang kelak akan
menjalankan si dia. Tapi jangan cemburu karena aku tidak bercerita tentangmu.
Bukan berarti kamu tak berarti. Namun, tentang kamu, sudah jauh-jauh hari aku
berdiskusi. Meski tidak ada dalam resolusi.
Banyak yang ingin diwujudkan tahun
ini. Tentang obsesi, ambisi, ataupun mimpi. Maaf, aku lupa mengecek kamus. Lupa
membandingkan dan mencari, diksi yang tepat untuk resolusi yang tepat. Kapan
harus disebut obsesi. Kapan disebut ambisi. Atau kapan disebut mimpi. Tapi,
bagaimana pun, mulai hari ini, sebagaimana janji, kutulis serangkai kata-kata
sebagai bukti.
Malam ini malam…
Malam ini, kami sepakat,
menyebutnya, “malam silaturahmi”. Kami enggan, bahkan tidak mau menyebutnya,
malam tahun baru. Yaaaa, maksudnya kami tidak ingin disebut merayakan tahun
baru. Karena ini, bukanlah hari raya yang ada dalam kepercayaan yang sedang
kami imani. Yaaaa, meski yang dilakukan juga tidak beda dengan yang lain, yang
secara sukarela menyebut merayakannya. Tetapi, kami menghindari sebutan semacam
ini. Jadi 48 jam sebelum malam ini, kami memberi pengertian. Memberi batasan.
Malam ini, malam berkumpulnya para alumni dan dewan ahli.
Malam
ini, malam melepas rindu. Bertemu dengan sahabat jauh, yang lama sudah tak
bertemu. Malam ini malam pelepas tanya. Baik-baikkah saudara kami di sana? Dan
sebagian tanya terjawab. Sebagian saudara, mampir dan mau menghabiskan malam
dengan kami. Menyanyikan beberapa lagu. Atau melontarkan berbagai lelucon. Dan
yang masih belum terjawab, mungkin, akan dijawab lain kali.
Malam
ini, juga malamnya makan-makan. Dimulai dengan makan. Diakhiri dengan makan.
Selain saat acara—yang bikin peserta bertanya-tanya, bingung, dan ingin pindah
ke pesta tetangga—mulut tak henti-hentinya mengunyah. Mengunyah nasi. Mengunyah
lauk. Mengunyah gorengan. Mengunyah gorengan hadiah tetangga. Mengunyah karupuak leak. Dan mengunyah lainnya.
Apa saja yang bisa dikunyah. Semua mengunyah. Hingga malam ini bosan dengan
kunyahan. Hingga aku, kamu, dan kita bosan mengunyah. Dan saat itu, berakhirlah
sebuah kenikmatan.
Api kembang
dan batas
Ada api meledak dan mengembang
saat inti tak sanggup lagi terbang. Ini adalah nyata, bahwa semua ada batasnya.
Saat inti api sudah di batas ambang, ia meledak, memancarkan ratusan percikan
yang disambut sorak sorai para pemandang. Begitu pula dengan malam ini, malam
ujung dan batas. Yang menandai bahwa tahun pun juga punya batas. Dan setiap
batas dan ujung—ada juga yang menyebut puncak—pada malam ini, disambut dengan
sorak sorai.
Tetapi, yang perlu diingat,
meskipun inti api sudah mencapai batas. Meskipun tahun sudah mencapai batas.
Bukan berarti semuanya berakhir. Ini bukanlah akhir dari segalanya. Pembatas
adalah awal untuk suatu yang baru. Akan ada lagi inti yang terbang dan meledak
lagi di ujung batas. Akan ada lagi tahun baru yang akan melanjutkan tahun yang
sudah mencapai batas.
Dan tentang batas, aku ingat
slogan “sabar ada batasnya”. Kadang aku tergelak. Dalam kehidupan kita, ini
nyata. Meski kadang tidak terucap, pada praktik, ini ada. Selalu ada yang
meledak saat sabarnya di sudah di ambang batas. Dan saat di batas, seakan semua
sabar telah habis. Tetapi ingat kawan, saat sabarmu sudah di ambang batas,
jangan pikir sabarmu telah habis. Selalu ada sabar lain, saat sabar yang ini
sudah ada di batas. Batas hanyalah pembatas, dari satu tingkat, ke tingkat yang
lebih tinggi. Jika, sabar sudah ada di batas, maka berarti, Tuhan menuntutmu
untuk segera memulai sabar lainnya, yang lebih dahsyat.
Begitu pula, dengan malam ini.
Seperti filosofi batas tadi, batas tahun bukan berarti segalanya telah
berakhir. Tetapi awal untuk segala yang baru. Malam ini bukanlah akhir untuk
menjadi orang baik. Malam ini bukanlah akhir untuk menjadi orang hebat. Tetapi
malam ini adalah awal untuk kita, untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih
hebat lagi.
Padang, 1 Januari 2015
Yola Sastra

Tidak ada komentar:
Posting Komentar