Senin, 27 Juli 2015

Yang Memimpikan Malam

Ilustrasi: deviantart.net

Inilah kisah tentang sang pemimpi. Yang selalu membutuhkan malam, untuk dapat terus bermimpi. Baginya siang adalah sisi dunia yang lain. Yang terlalu hiruk dan pikuk, menghambat setiap kesenangan duniawi.
Malam adalah yang terindah. Dari sekian waktu yang menjegal, hanya malam yang dapat memberi sedikit mabuk pada kantuk. Yang membuatnya hanyut dalam peluk.
Malam memberi sebuah kesunyian. Kesunyian yang menjanjikan sebuah keintiman, menyejukkan. Ia memberikan sebuah kekuatan bagi pemimpi untuk terus hebat dalam setiap pertarungan kehidupan. Ia memberikan nyawa pada raga untuk tak gontai melangkahi garis nasib. Nasib dapat ditulis ulang, direvisi, atau dihabisi—kalau ada malam.
Lalu bulan? Bulan adalah cerita lain. Ia sahabat malam dan pemimpi yang senantiasa memberi senyum. Menyumbat keluh dan menyinarkan harapan. Bulan datang sebagai kawan, menawarkan kelembutan. Bila malam dan mimpi tak kunjung akur, bulanlah pengkalibrasi sejati.
Ilustrasi: bibeh.com
Kadang malam cemburu akan bulan yang terlalu rapat dengan mimpi. Tapi malam kadang tak tahu, ia membuat mimpi jadi pencemburu. Malam selalu dipasangkan dengan siang. Sedangkan mimpi dipasangkan dengan kehampaan.
Bila siang adalah api, malam adalah air. Siang mengobarkan cemburu. Malam memadamkannya. Tetapi setiap pemadaman, selalu ada asap yang mengaburkan mata memandang. Pemimpi tersesat dalam lingkar ketidakpastian.
Pemimpi tak suka senja. Senja adalah keraguan. Senja menggerogoti mimpi antara iya atau tidak. Entah nyata atau ilusi. Tapi, entah kenapa, malam terlalu dekat dengan senja. Padahal ada magrib yang selalu mengawasi.
“Kasihan pemimpi,” kata sebuah hati.
“Hidup adalah ketidakpastian,” kata sebuah kepala.
“Dan dia butuh kepercayaan,” kata sebuah naluri.
Semuanya berterima. Tapi pemimpi lebih percaya naluri. Naluri memberikan kepastian di tengah kebimbangan. Kepastian yang menenangkan di dalam kesemuan. Dan itu lebih dari cukup untuk meyakinkan.

Bersambung….


Padang, 27 Juli 2015
Yola Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar