Ilustrasi: mahasiswaunmmakassar.wordpress.com
“Cintailah produk-produk Indonesia.” Seruan dengan pelafalan yang sedikit terbata-bata oleh pria lansia itu sudah menjadi semacam sugesti bagi para penonton televisi di tanah air. Ia sering muncul pada iklan di televisi swasta, bahkan hampir setiap hari. Memang, kita sebagai bangsa Indonesia harus mencintai produk-produk Indonesia. Toh, Indonesia negara kita sendiri yang mesti dibela dan dicintai sepenuh hati. Tapi pertanyaannya, bagaimana mungkin kita mencintai produk Indonesia bila nama produk itu sendiri tidak mencerminkan identitas Indonesia, seperti Uchida, Maxim, dan sejenisnya?
Kasus lainnya yang tidak mencerminkan
ke-Indonesia-an terjadi pada ajang pemilihan duta bahasa di suatu provinsi
beberapa waktu lalu. Suatu kali, pada fase presenstasi makalah yang seharusnya
menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tiga dari tiga puluh
kandidatnya yang tersisa berulang kali mengujarkan kata “ok”, “next”, “kayak”, “gitu”, dan semacamnya dengan logat ala anak gaul yang tidak ada dalam daftar bahasa Indonesia baku. Hal
ini menjadi semacam kelatahan yang diperlihatkan generasi yang doyan ikut-ikutan. Padahal makalah yang
mereka sampaikan tentang cara menjadikan bahasa Indonesia tuan rumah di
negaranya sendiri. Akan tetapi, bagaimana caranya seseorang duta bahasa akan
mengajak orang lain menggunakan bahasa dengan baik dan benar, terutama bahasa
Indonesia, jika dutanya sendiri tak berbahasa dengan benar—kecuali jika mereka
tukang kibul sejati. Mirisnya, mereka yang seperti itu, lolos jadi finalis.
Kelatahan lainnya, yang secara
kasat mata dapat pula kita amati pada fenomena ramainya pengelola klub
sepakbola Indonesia menunjukkan jati diri sebagai pribadi yang latah. Sebut
saja ada Gresik United (awalnya Persatuan Sepakbola Gresik), Bontang Footbal
Club (awalnya Bontang PKT), Semen Padang Football Club (awalnya Persatuan
Sepakbola Semen Padang), dan lainnya yang tak disebut di sini. Pengelola klub
seperti berlomba untuk menduniakan namanya karena bahasa Inggris adalah bahasa
dunia. Perubahan nama itu memang sedikit menambah kesan bahwa klub-klub
tersebut terdengar, setidaknya, agak lebih modern dan mendunia dengan adanya
embel-embel united dan football
club, sebagaimana halnya klub tenar Liga
Inggris, seperti Manchester United dan Chelsea Football Club. Kedua klub
tersebut memang modern, berprestasi, dan mendunia. Tapi yang perlu diingat,
kedua klub itu berasal dari Inggris dan bangga menggunakan bahasa Inggris.
Kecintaan terhadap bahasa negara
sendiri juga diperlihatkan oleh Real Madrid Club de Futbol alias Real Madrid CF
dan Associazione Calcio Milan alias AC Milan yang merupakan raja sepakbola di
Eropa. Real Madrid CF yang merupakan peraih piala Liga Champion Eropa terbanyak
(10 kali) tetap setia menggunakan bahasa Spanyol, tak mengganti nama menjadi
Real Madrid FC agar modern. Begitupula AC Milan yang mendapat tajuk klub
tersukses di dunia tetap menggunakan istilah Italia associazione calcio sebagai identitas. Mereka tidak mengganti nama
menjadi Milan FC untuk bisa mendunia. Meskipun Milan bukan pelafalan Italia (Milano),
melainkan Inggris. Akan tetapi pelafalan itu tidak di-Italia-kan karena
merupakan bentuk penghargaan klub terhadap pendirinya yang merupakan orang
Inggris. Terlepas dari hal itu, dua klub ini modern dan mendunia bukan karena
nama, tapi karena prestasi. Hal inilah yang selama ini menjadi salah kaprah di
Indonesia. Klub-klub Indonesia lebih peduli akan nama daripada prestasi.
Deretan contoh di atas merupakan
segelintir ketidakbijakan dalam sikap berbahasa. Bahkan kadang seperti
pendiskriminasian bangsa Indonesia terhadap bahasanya sendiri. Masyarakat
Indonesia yang katanya cinta tanah air lebih bangga menggunakan bahasa asing
daripada bahasanya sendiri. Menjadi Indonesia tak cukup dengan memasang bendera
Indonesia pada nama di aplikasi BBM atau pergi ke gunung untuk upacara bendera setiap
perayaan 17 Agustusan. Perlu tindakan menyeluruh dalam mencintai Indonesia,
termasuk menggunakan bahasa Indonesia dengan bangga sebagai identitas
kebangsaan.
André Möller pengamat bahasa dan
penyusun Kamus Swedia-Indonesia bahkan pernah membandingkan secara implisit tentang
perbedaan sikap berbahasa di Swedia dan Indonesia di dalam kolomnya yang dimuat
di Kompas 10 April 2004. André
mengatakan, di Swedia singkatan asing seperti DVD, VCD, dan TV telah men-Swedia—yang
jika dalam bahasa Indonesia dilafalkan dengan /de-ve-de/, /ve-ce-de/, /te-ve/.
Berbeda dengan di Indonesia yang masyarakatnya melafalkan singkatan itu dengan
bahasa Inggris /di-vi-di/, /vi-si-di/, dan /ti-vi/. Jika memang pilihan
masyarakat Indonesia menggunakan bahasa asing sebagai bentuk kemodernan dan
kemenduniaan, Andre berkata, “Mungkin saja orang lain menganggap kami semua
kampungan.” Sebuah tamparan keras dari penduduk negara yang jauh lebih modern
daripada Indonesia yang membuat muka menjadi merah, bahkan lebam. Tamparan yang
tidak akan pernah terasa bila kita memang tidak punya muka. Nah. (*)
Yola Sastra
Dimuat dalam Surat Kabar Singgalang Minggu,
23 Agustus 2015
23 Agustus 2015
