Sabtu, 16 April 2016

Tentang Banjir dan Air yang Tak Kunjung Mengalir

Ilustrasi: Yola Sastra

“Bagaikan menampung air nira, besok penuhnya.” Begitu gerutu saya sekitar sebulan lalu tentang aliran air langganan. Kala itu saya akan mandi hendak pergi ke kampus. Gerutuan itu sempat pula saya tuliskan pada pesan pribadi di aplikasi BBM dan menuai berbagai respon dari teman-teman di kontak saya. Ada yang menanggapi dengan lucu, ada yang mengeluh, tapi ada pula yang menerangkan bahwa penyedia jasa air langganan itu sedang mengalami sedikit kerusakan. Namun, saya tidak menghiraukan jawaban terakhir. Bagi saya, yang penting air mengalir deras, bisa mandi, dan berangkat ke kampus. Saya tetap menggerutu.
Permasalahan itu berlangsung lebih kurang seminggu. Hingga akhirnya masalah tersebut berakhir. Masalah tersebut berakhir seperti aliran air yang juga berhenti mengalir. Masalah baru mengakhiri masalah yang lama.
Sekitar dua minggu lalu, hujan lebat membasahi bumi Kota Padang yang gersang. Sebagian orang menyambutnya dengan suka cita. Bagi kami—saya dan kawan-kawan di kontrakan—yang kekurangan air, hujan waktu itu adalah berkah. Mengakhiri dahaga selama masa paceklik air yang gerah. Akan tetapi, suka cita kemudian berganti duka cita. Hujan yang tak kunjung berhenti sejak sore sampai esok pagi bagai bencana yang tak terduga. Sebagian besar rumah penduduk yang berada di dataran rendah tenggelam dilanda banjir. Barang-barang elektronik, berkas-berkas, dan berbagai macam perkakas yang tak terselamatkan mengalami kerusakan. Tak sedikit warga akhirnya memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Kontrakan kami yang berada di daerah Air Tawar Barat juga mengalami hal yang sama. Tapi, bagi kami, hal seperti ini sudah lumrah. Rumah kami langganan banjir. Hujan sedang saja sudah cukup membuat kami tenggelam. Apalagi hujan lebat, makin karam.
Peringatan Tuhan
“Ini peringatan Tuhan agar kita membersihkan kamar.” Salah seorang kawan berceletuk. Saya dan kawan-kawan yang lain tertawa dan saling menyindir. Beginilah kontrakan kami. Kali terakhir membersihkan kamar adalah sekitar dua bulan lalu—kalau tidak salah waktu itu rumah kami dilanda banjir.
Tatkala hujan mulai berhenti, kami mulai bergegas membersihkan rumah. Air dibuang keluar. Lantai dipel, bersih, mengkilap. Rumah tampak bersih dan enak dipandang. Seketika kami lega, semua kembali seperti semula.
Sayangnya, seperti ujian sekolah, selesai satu soal, bukan berarti semua soal telah selesai. Setelah soal nomor satu selesai, selalu ada soal nomor dua. Biasanya soal nomor dua lebih sulit daripada soal pertama. Setelah kami dianugerahi air yang melimpah ruah, Tuhan kembali mengambilnya. Semuanya.
Air langganan kami tak lagi mengalir. Bahkan tak setetes pun. Ini lebih buruk daripada tiga minggu lalu.
Kami mendapat kabar bahwa banjir di Kota Padang kali ini adalah yang terparah dalam periode satu tahun ini. Banjir tidak hanya merendam perumahan warga, tetapi juga merusak berbagai aset lainnya, seperti rusaknya pipa air langganan kami. Bagi kami yang tak bersumur ini, kabar itu adalah bencana. Kabar itu berarti tidak mandi, tidak mencuci, dan tidak ke kampus. Kami tidak berani ke kampus kalau tidak gosok gigi.
Kabarnya paceklik air ini berlangsung dua hari. Rekan-rekan serumah yang cukup beruang memilih mandi dengan air galon. Segalon sekali mandi. Tukang galon kebanjiran rezeki. Bagi saya dan rekan lainnya, yang untuk memilih menu makan harian saja harus berpikir dua kali, memilih mandi di kampus kami.
Tiga hari kemudian. Kabarnya paceklik air berlangsung tujuh hari. Rekan-rekan yang cukup beruang mulai kehabisan uang. Mereka tak sanggup lagi membeli air galon untuk mandi. Jadilah air masjid setempat menjadi solusi. Dengan sepeda motor pribadi, mereka silih berganti menjemput air mandi.
Sehari berselang air langganan mengadakan pembagian air ke rumah-rumah warga. Kami turut bersuka cita dan ikut menampung air dari sana. Berember-ember air kami angkut dengan becak pinjaman dari tetangga.
Pilihan yang sulit
Pilih mana, air mati atau listrik mati? Pertanyaan itu adalah pilihan yang sulit, terutama bagi anak muda dan mahasiswa seperti kami. Tidak ada air berarti tidak mandi. Namun, tidak ada listrik berarti tidak bisa mengerjakan skripsi.
Satu dua rekan ada yang menjawab pertanyaan yang saya bagikan di pesan pribadi BBM itu. Mereka memilih listrik mati. Apa pasal? Listrik mati bisa diakali. Bisa menumpang ke tempat teman yang listriknya tidak mati. Listrik biasanya mati bergilir. Kita bisa berpindah sesuai alur pemadaman bergilir. Kalau air mati? Apa sanggup menumpang mandi dan mencuci setiap hari?
Masa-masa sulit membuat hubungan persahabatan menjadi sulit. Kesulitan dalam mendapatkan air membuat pertikaian semakin sengit. Ketidakadilan dalam penggunaan air mulai menguji kesabaran. Ada yang tak merasa bersalah. Ada yang merasa dirugikan. Air menjadi komoditi utama yang menyulut berbagai pertengkaran. Untungnya kami cukup dewasa untuk menyelesaikannya. Tidak seperti petinggi sepakbola dan olahraga yang tak cukup dewasa dalam menyelesaikan masalahnya, bahkan hingga saat ini.
Paceklik ini membangkitkan ingatan kami kala sebelumnya yang berfoya-foya dengan air ketika mandi. Tak pernah memikirkan bagaimana nanti kalau tidak ada air. Dan bayangkan, di kala sulit, kami bisa mandi hanya dengan seember air, padahal biasanya sepuas-puasnya. Dan Tuhan mahakuasa.
Tuhan punya rencana yang tak dapat diduga. Awalnya kami berkeluh-kesah karena aliran air langganan yang tak seberapa. Kemudian nikmat yang sedikit itu diambil, hingga semua semakin sulit. Di tengah masa sulit itu Tuhan menguji kami. Apakah mampu bertahan atau mengalah? Setelah melalui itu semua, air kembali mengalir sedikit demi sedikit. Meski air baru mengalir pada tengah malam, tapi kami bersyukur, padahal keadaan saat ini lebih buruk daripada tiga minggu lalu. Hingga akhirnya air kembali mengalir seperti sedia kala; perasaan kami bahagia tak terkira. Begitulah cara Tuhan mengajarkan cara bersyukur kepada kami. 
Yola Sastra
Dimuat dalam Surat Kabar Singgalang Minggu10 April 2016
dengan judul "Tentang Air, Banjir dan Keluh Kesah Mahasiswa"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar