Ilustrasi: Yola Sastra
“Bagaikan menampung air nira, besok
penuhnya.” Begitu gerutu saya sekitar sebulan lalu tentang aliran air
langganan. Kala itu saya akan mandi hendak pergi ke kampus. Gerutuan itu sempat
pula saya tuliskan pada pesan pribadi di aplikasi BBM dan menuai berbagai
respon dari teman-teman di kontak saya. Ada yang menanggapi dengan lucu, ada
yang mengeluh, tapi ada pula yang menerangkan bahwa penyedia jasa air langganan
itu sedang mengalami sedikit kerusakan. Namun, saya tidak menghiraukan jawaban
terakhir. Bagi saya, yang penting air mengalir deras, bisa mandi, dan berangkat
ke kampus. Saya tetap menggerutu.
Permasalahan itu berlangsung
lebih kurang seminggu. Hingga akhirnya masalah tersebut berakhir. Masalah
tersebut berakhir seperti aliran air yang juga berhenti mengalir. Masalah baru
mengakhiri masalah yang lama.
Sekitar dua minggu lalu, hujan
lebat membasahi bumi Kota Padang yang gersang. Sebagian orang menyambutnya
dengan suka cita. Bagi kami—saya dan kawan-kawan di kontrakan—yang kekurangan
air, hujan waktu itu adalah berkah. Mengakhiri dahaga selama masa paceklik air
yang gerah. Akan tetapi, suka cita kemudian berganti duka cita. Hujan yang tak
kunjung berhenti sejak sore sampai esok pagi bagai bencana yang tak terduga.
Sebagian besar rumah penduduk yang berada di dataran rendah tenggelam dilanda
banjir. Barang-barang elektronik, berkas-berkas, dan berbagai macam perkakas
yang tak terselamatkan mengalami kerusakan. Tak sedikit warga akhirnya memilih
mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Kontrakan kami yang berada di
daerah Air Tawar Barat juga mengalami hal yang sama. Tapi, bagi kami, hal
seperti ini sudah lumrah. Rumah kami langganan banjir. Hujan sedang saja sudah
cukup membuat kami tenggelam. Apalagi hujan lebat, makin karam.
Peringatan
Tuhan
“Ini peringatan Tuhan agar kita
membersihkan kamar.” Salah seorang kawan berceletuk. Saya dan kawan-kawan yang
lain tertawa dan saling menyindir. Beginilah kontrakan kami. Kali terakhir
membersihkan kamar adalah sekitar dua bulan lalu—kalau tidak salah waktu itu
rumah kami dilanda banjir.
Tatkala hujan mulai berhenti, kami
mulai bergegas membersihkan rumah. Air dibuang keluar. Lantai dipel, bersih,
mengkilap. Rumah tampak bersih dan enak dipandang. Seketika kami lega, semua
kembali seperti semula.
Sayangnya, seperti ujian
sekolah, selesai satu soal, bukan berarti semua soal telah selesai. Setelah soal
nomor satu selesai, selalu ada soal nomor dua. Biasanya soal nomor dua lebih
sulit daripada soal pertama. Setelah kami dianugerahi air yang melimpah ruah,
Tuhan kembali mengambilnya. Semuanya.
Air langganan kami tak lagi
mengalir. Bahkan tak setetes pun. Ini lebih buruk daripada tiga minggu lalu.
Kami mendapat kabar bahwa
banjir di Kota Padang kali ini adalah yang terparah dalam periode satu tahun
ini. Banjir tidak hanya merendam perumahan warga, tetapi juga merusak berbagai
aset lainnya, seperti rusaknya pipa air langganan kami. Bagi kami yang tak
bersumur ini, kabar itu adalah bencana. Kabar itu berarti tidak mandi, tidak
mencuci, dan tidak ke kampus. Kami tidak berani ke kampus kalau tidak gosok
gigi.
Kabarnya paceklik air ini
berlangsung dua hari. Rekan-rekan serumah yang cukup beruang memilih mandi
dengan air galon. Segalon sekali mandi. Tukang galon kebanjiran rezeki. Bagi
saya dan rekan lainnya, yang untuk memilih menu makan harian saja harus
berpikir dua kali, memilih mandi di kampus kami.
Tiga hari kemudian. Kabarnya
paceklik air berlangsung tujuh hari. Rekan-rekan yang cukup beruang mulai
kehabisan uang. Mereka tak sanggup lagi membeli air galon untuk mandi. Jadilah
air masjid setempat menjadi solusi. Dengan sepeda motor pribadi, mereka silih
berganti menjemput air mandi.
Sehari berselang air langganan
mengadakan pembagian air ke rumah-rumah warga. Kami turut bersuka cita dan ikut
menampung air dari sana. Berember-ember air kami angkut dengan becak pinjaman
dari tetangga.
Pilihan
yang sulit
Pilih mana, air mati atau
listrik mati? Pertanyaan itu adalah pilihan yang sulit, terutama bagi anak muda
dan mahasiswa seperti kami. Tidak ada air berarti tidak mandi. Namun, tidak ada
listrik berarti tidak bisa mengerjakan skripsi.
Satu dua rekan ada yang
menjawab pertanyaan yang saya bagikan di pesan pribadi BBM itu. Mereka memilih
listrik mati. Apa pasal? Listrik mati bisa diakali. Bisa menumpang ke tempat
teman yang listriknya tidak mati. Listrik biasanya mati bergilir. Kita bisa
berpindah sesuai alur pemadaman bergilir. Kalau air mati? Apa sanggup menumpang
mandi dan mencuci setiap hari?
Masa-masa sulit membuat
hubungan persahabatan menjadi sulit. Kesulitan dalam mendapatkan air membuat
pertikaian semakin sengit. Ketidakadilan dalam penggunaan air mulai menguji
kesabaran. Ada yang tak merasa bersalah. Ada yang merasa dirugikan. Air menjadi
komoditi utama yang menyulut berbagai pertengkaran. Untungnya kami cukup dewasa
untuk menyelesaikannya. Tidak seperti petinggi sepakbola dan olahraga yang tak
cukup dewasa dalam menyelesaikan masalahnya, bahkan hingga saat ini.
Paceklik ini membangkitkan
ingatan kami kala sebelumnya yang berfoya-foya dengan air ketika mandi. Tak
pernah memikirkan bagaimana nanti kalau tidak ada air. Dan bayangkan, di kala
sulit, kami bisa mandi hanya dengan seember air, padahal biasanya
sepuas-puasnya. Dan Tuhan mahakuasa.
Tuhan punya rencana yang tak
dapat diduga. Awalnya kami berkeluh-kesah karena aliran air langganan yang tak
seberapa. Kemudian nikmat yang sedikit itu diambil, hingga semua semakin sulit.
Di tengah masa sulit itu Tuhan menguji kami. Apakah mampu bertahan atau
mengalah? Setelah melalui itu semua, air kembali mengalir sedikit demi sedikit.
Meski air baru mengalir pada tengah malam, tapi kami bersyukur, padahal keadaan
saat ini lebih buruk daripada tiga minggu lalu. Hingga akhirnya air kembali
mengalir seperti sedia kala; perasaan kami bahagia tak terkira. Begitulah cara
Tuhan mengajarkan cara bersyukur kepada kami.
Yola Sastra
Dimuat dalam Surat Kabar Singgalang Minggu, 10 April 2016
dengan judul "Tentang Air, Banjir dan Keluh Kesah Mahasiswa"

Tidak ada komentar:
Posting Komentar