Minggu, 20 Oktober 2019

Selamat Jalan Adik Manis, Habiskan Masa Mudamu di Surga

Foto profil Alan Riza

Dapat dibilang, Oktober ini, Oktober kelabu. Begitu banyak kejadian yang bikin sedih. Mulai dari gonjang-ganjing kehidupan pribadi, masalah kerjaan, hingga fenomena alam yang tidak mengasyikkan. Namun, di antara itu semua, ada yang lebih menyesakkan: kehilangan sahabat.

Saya dalam perjalanan ke Sawahlunto, Rabu (16/10/2019) siang. Tiba-tiba saja di sebuah grup percakapan WA, saya dapat kabar salah satu sahabat lama, Fadlan Riza atau akrab disapa Alan (19), sudah tiada. Kabar duka ini membuat saya berpikir panjang selama berkendara.

Sebenarnya, kakak Alan, yang juga sahabat sebangku perkuliahan saya di Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Padang sejak 2012, sudah mengabarkan kalau Alan sedang tidak sehat. Namun, sebagaimana kabar kakaknya minggu lalu, saya kira sakitnya tidak serius. Saya terus melanjutkan perjalanan ke Sawahlunto untuk menunaikan ibadah liputan.

Bagi saya, kepergian Alan adalah kehilangan besar. Ia adik manis sekaligus sahabat yang sudah lama tak berjumpa dan tak bercerita. Meskipun lama tak berhubungan, kami tetap bersahabat--you know, tidak ada mantan sahabat.

Perkenalan saya dengan Alan bermula dari persahabatan saya dengan kakaknya. Walakin, hubungan saya dan Alan punya dimensi berbeda dengan hubungan saya dengan kakaknya. Balas membalas pesan di Facebook sejak 19 Juli 2013 menjadi pembuka jalan. Selain itu, kami juga bertukar kontak untuk berbalas SMS dan sesekali bertegur sapa lewat telpon.


duniaku.idntimes.com

Dalam korespondensi kami di kejauhan--saya kuliah di Padang, sedangkan Alan di rumahnya di Agam--kami sering berbagi cerita soal komik dan anime Doraemon, anime One Piece, dan Moto GP. Alan setahu saya adalah penggemar Marc Marquez. Saya sendiri penggemar pebalap gaek The Doctor Valentino Rossi.

Selama bertahun-tahun korespondensi, kami belum pernah bertemu sekali pun. Saya tidak pernah berkunjung ke rumahnya karena sibuk dengan kuliah. Alan, setahu dan selama berkorespondensi dengan saya, tidak pernah ke Padang karena menggunakan kursi roda. Sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah.

Kakaknya jadi perantara dalam korespondensi di kejauhan. Alan beberapa kali meminta dikirimi anime/movie Doraemon dan One Piece. Saya dengan senang hati berbagi karena dapat teman untuk berbagi keseruan dua kisah itu. Sesekali, saya yang menawarkan ke Alan kalau ada koleksi baru.



Korespondensi kami lancar hingga dua tahun. Namun, 17 Juni 2014, korespondensi kami sempat terhenti. Bermula dari kartu Alan yang rusak, salah satu nomor saya tidak lagi aktif, hingga pergeseran perilaku bermedia sosial. Pada masa itu, saya mulai meninggalkan Facebook dan beralih ke Instagram. Kesibukan saya di pers kampus barangkali turut andil.

Pada 26 Maret 2015, Alan mulai kembali membangun percakapan di Facebook:
"bang yolaaa...
Nomor hp abang indak aktif lai..??
acok alan sms tapi (ndak-red) masuak, alan telpon gai indak masuak bang..??
lah ganti nomor bang...???
T_T"

Pesan itu saya balas dengan menjelaskan kalau salah satu nomor telepon saya tidak lagi dipakai. Saya hanya punya satu slot untuk kartu. Malangnya, itu percakapan kami untuk terakhir kalinya via Facebook. Pertanyaan saya soal kabar tak pernah berbalas. Dan malangnya, saya tidak sadar karena sudah tak lagi bermain Facebook seperti dulu.

Saya baru tahu itu percakapan kami terakhir kali saat menulis artikel ini. Kesedihan mendalam di hati.

Walaupun tidak lagi berkorespondensi, beruntungnya untuk sekali seumur hidup, saya bersua dengan Alan di rumahnya. Tidak beruntungnya, kami bertemu dalam suasana bersedih. Pada 20 November 2016, saya melayat ke rumahnya. Ayahnya tiada malam sebelumnya.


duniaku.com


Dalam keramaian siang itu, saya mencari-carinya. Berupaya mencocokkan Alan dengan foto di Facebook-nya. Wajah aslinya, sebagai adik-adik manis lainnya, cerah tak berdosa. Menjelang pulang, saya menghampiri. Bersalaman. "Semangat, Lan. Bang Yola," kata saya coba memperkenalkan diri, tapi tidak yakin Alan tahu kalau itu saya.

Itu pertemuan pertama dan terakhir kami. Tidak beruntungnya lagi, kami tidak pernah bertemu di saat-saat terakhir. Kami tidak sempat saling berucap kata selamat jalan.

Ini menambah daftar penyesalan saya karena kehilangan sahabat saat tak lagi saling menyapa. Saya tak berpikir akan kehilangan Alan seperti kehilangan Nurul Suryani, sahabat dan kakak saya--saya tidak punya kakak perempuan. Mereka meninggalkan saya dalam usia yang masih sangat muda.

Selamat jalan adik manis. Habiskan masa mudamu di surga.

Rumah Ikhlas, Padang, 20 Oktober 2019

Tidak ada komentar:

Posting Komentar