Kamis, 03 September 2015

Tentang Kamu pada Suatu Sore bersama Kawan

Ilustrasi: Meri Susanti

Sore ini, aku begitu kalut hingga tersesat dalam kabut—kiriman Jambi dan sekitarnya. Aku kehilangan arah. Kepada ujung suatu entah. Terombang-ambing tanpa tujuan, tanpa pegangan, bagai umbang yang sekilas kuamati dibolak-balik ombak di tepian pantai sebelum malam menjelang.
Aku terjebak dalam diam. Sebuah kata yang ingin kuucapkan kepadamu (seseorang yang ada dalam kepalaku) dengan segera kutelan. Rasanya pahit, sepahit empedu yang akhirnya membuat lidahku bertambah kelu. Membuatku semakin hening dalam diamku. Sementara, bergudang-gudang kata telah antre di kerongkongan hingga ujung sebuah kepala.
Hari ini seperti puncak sebuah kesal. Muaranya sebuah kekecewaan. Tapi, aku tak punya alasan, oleh sebab apa aku kesal. Dan kenapa harus ada kecewa.
Aku lebih suka menyebut keadaan ini sebuah takdir. Takdir, kata seorang tokoh—entahlah, aku lupa namanya siapa—didefinisikan sebagai suatu keadaan yang begitu sulit didefinisikan. Takdir, katanya, berarti suatu kondisi saat manusia tak dapat merumuskan, membuktikan, dan memastikan, kenapa sesuatu terjadi, dan akhirnya ia menyerahkannya kepada Tuhan. Aku tak dapat memastikan apa yang sedang terjadi. Aku juga menyerahkannya kepada Tuhan.
Untunglah, saat itu aku punya seorang kawan yang berkerelaan mendengarkan keluhanku. Kami bercerita menghabiskan petang, bersama dua mangkuk pensi dan semangkuk langkitang. Sembari mencucut, kami lanjut beradu mulut. Ia, sesekali berkomentar. Sesekali memberi masukan. Sesekali memberi pujian. Sesekali memberi dukungan. Sesekali hingga beberapa kali, membuatku menyelipkan kepadanya sebuah senyuman.
Katanya, kalau aku kecewa karena cinta, itu sebuah biasa. Kawanku itu berkata tentang dirinya, “Aku mencintai dia (seseorang yang ada dalam kepala kawanku itu) sampai batas kecewaku.” Bila kawanku itu berhenti mencintai kecintaannya, berarti segitulah batas kekecewaannya.
Mestinya aku juga begitu. Mencintaimu sampai batas kekecewaanku—andai kau tahu, batas kekecewaanku adalah saat aku tak mampu lagi menatapmu. Kuharap aku tak pernah kecewa hingga aku bisa menatapmu sepanjang yang aku mau—maunya.
Kawanku yang satu itu, coba menghiburku. Hiburnya, ombak yang mencak-mencak di hadapan kami dapat melepaskan segenap kegaduhan. Dan perkataannya bisa menghadirkan sebuah ketenangan. Haha, terima kasih. Engkau memang pandai, kawanku. Bagiku, ombak yang gaduh itu juga menyadarkanku, ada yang lebih gaduh, lebih gundah, lebih ribut, lebih heboh dari segala yang ada dalam benakku. Itu membuatku bersyukur. Sebagaimana aku bisa bersyukur terhadap kabut pagi ini yang membuatku bisa menatap matahari—kuningnya pekat seperti telur itik mata sapi.  
Waktu adalah sesuatu yang penting dalam hidup. Bila seseorang mau meluangkan waktu untukmu, berarti kamu orang yang penting baginya, begitu kata kawanku itu. Harusnya aku meluangkan waktu untukmu. Agar kamu tahu, kamu begitu penting bagiku. Kuharap kamu mau meluangkan waktu untukku. Agar aku merasa penting bagimu.
Terima kasih kawanku yang telah mau mendengarkan ceritaku tentang kamu. Kuharap kamu membacanya.
Padang, 3 September 2015
Yola Sastra

Rabu, 02 September 2015

Kapan Anda Wisuda?

Ilustrasi: http://bahasa.aquila-style.com/

Pertanyaan pada judul di atas kadang menjadi sangat sensitif bagi mahasiswa tertentu. Percakapan yang hangat dan bersahabat, seketika buyar saat pertanyaan itu terlontar. Memang, banyak yang mengimpikan bisa diwisuda secepatnya, selain hemat biaya, juga bisa dicap sebagai mahasiswa luar biasa karena dapat lulus lebih cepat dari yang lainnya. Namun, tak sedikit pula yang memilih untuk terlebih dahulu berkarya selama menjadi mahasiswa.
Di samping itu, ada pula sebuah pertanyaan yang sering terlontar tentang wisuda. Isinya sebuah pilihan. Wisuda tepat waktu atau wisuda di waktu yang tepat? Saya rasa, akan berbagai jawaban yang didapatkan tentang pertanyaan itu. Lalu, apa maknanya? Mari kita kaji.
Wisuda tepat waktu berarti wisuda sesuai jangka waktu rata-rata. Biasanya tiga setengah sampai empat tahun. Wisuda tepat waktu, tidak memperhatikan apakah bekal yang dimiliki mahasiswa yang bersangkutan sudah cukup atau belum, yang penting wisuda sesuai tuntunan kurikulum. Yang wisuda lebih dari empat tahun atau delapan semester berarti tidak tepat waktu. Mahasiswa seperti itu sering dianggap sebagai mahasiswa yang tersingkir dari ketatnya kehidupan perkuliahan. Atau, dianggap pula sebagai mahasiswa yang tidak serius dan cuma menghabiskan uang orang tua.
Di sisi sebaliknya, ada yang namanya wisuda di waktu yang tepat. Artinya seseorang diwisuda di saat yang tepat. Jangka waktunya terserah, mau tiga setengah tahun atau tujuh tahun. Terserah, yang penting wisuda. Wisuda di saat yang tepat berarti bahwa mahasiswa yang bersangkut memilih, apakah ia sudah layak diwisuda atau tidak. Jika ilmu yang didapatnya di sebuah perguruan tinggi dirasa sudah cukup maka dia akan wisuda. Jika dirasa belum dia akan menunda wisudanya. Ilmu di sini tidak terbatas pada ilmu yang didapat saat kuliah. Tetapi juga termasuk ilmu yang didapat saat berkegiatan di luar jam kuliah. Seperti berorganisasi, berwirausaha, melakukan penelitian, pengabdian masyarakat, dan lainnya.
Dari segi hasil, terkadang, ada yang wisuda tepat waktu, namun bekalnya kurang cukup untuk menghadapi dunia kerja. Sehingga, tak sedikit orang yang wisuda tiga setengah tahun—menurut pengamatan saya—yang terlunta-lunta tidak dapat kerja. Mereka sepertinya belum siap dan belum cukup pengalaman dalam menghadapi tantangan hidup. Namun, sebaliknya, ada pula mahasiswa yang wisudanya lima tahun atau bahkan tujuh tahun, bernasib lebih baik dari yang wisuda tepat waktu. Setelah wisuda mereka langsung dicari pekerjaan, kadang tanpa harus melamar. Begitulah wisuda di waktu yang tepat.
Terserah mau kuliah berapa tahun dan diwisuda kapan. Mau tiga setengah tahun, empat tahun, lima tahun, atau bahkan tujuh tahun, terserah. Yang jelas, wisudalah di saat yang tepat. Jika ilmu yang didapat dirasa sudah cukup, wisudalah. Jika belum, tundalah sampai bekal itu cukup.
Kuliah merupakan tempat untuk mengembangkan diri. Belajar tentang kehidupan dan dunia kerja. Saat kuliah, reguklah ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Hal-hal yang nanti akan menjadi bekal untuk hidup selepas kuliah. Ibarat pendaki gunung, ia harus membawa bekal makanan dan minuman sebanyak kebutuhannya. Kalau kurang, pendaki itu tentunya terlunta-lunta di atas gunung, padahal tujuan masih jauh. Begitu pula kehidupan. (*)
Yola Sastra
Dimuat dalam Surat Kabar Singgalang Minggu
30 Agustus 2015

Minggu, 23 Agustus 2015

Menjadi Indonesia

Ilustrasi: mahasiswaunmmakassar.wordpress.com

“Cintailah produk-produk Indonesia.” Seruan dengan pelafalan yang sedikit terbata-bata oleh pria lansia itu sudah menjadi semacam sugesti bagi para penonton televisi di tanah air. Ia sering muncul pada iklan di televisi swasta, bahkan hampir setiap hari. Memang, kita sebagai bangsa Indonesia harus mencintai produk-produk Indonesia. Toh, Indonesia negara kita sendiri yang mesti dibela dan dicintai sepenuh hati. Tapi pertanyaannya, bagaimana mungkin kita mencintai produk Indonesia bila nama produk itu sendiri tidak mencerminkan identitas Indonesia, seperti Uchida, Maxim, dan sejenisnya?
Kasus lainnya yang tidak mencerminkan ke-Indonesia-an terjadi pada ajang pemilihan duta bahasa di suatu provinsi beberapa waktu lalu. Suatu kali, pada fase presenstasi makalah yang seharusnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tiga dari tiga puluh kandidatnya yang tersisa berulang kali mengujarkan kata “ok”, “next”, “kayak”, “gitu”, dan semacamnya dengan logat ala anak gaul yang tidak ada dalam daftar bahasa Indonesia baku. Hal ini menjadi semacam kelatahan yang diperlihatkan generasi yang doyan ikut-ikutan. Padahal makalah yang mereka sampaikan tentang cara menjadikan bahasa Indonesia tuan rumah di negaranya sendiri. Akan tetapi, bagaimana caranya seseorang duta bahasa akan mengajak orang lain menggunakan bahasa dengan baik dan benar, terutama bahasa Indonesia, jika dutanya sendiri tak berbahasa dengan benar—kecuali jika mereka tukang kibul sejati. Mirisnya, mereka yang seperti itu, lolos jadi finalis.
Kelatahan lainnya, yang secara kasat mata dapat pula kita amati pada fenomena ramainya pengelola klub sepakbola Indonesia menunjukkan jati diri sebagai pribadi yang latah. Sebut saja ada Gresik United (awalnya Persatuan Sepakbola Gresik), Bontang Footbal Club (awalnya Bontang PKT), Semen Padang Football Club (awalnya Persatuan Sepakbola Semen Padang), dan lainnya yang tak disebut di sini. Pengelola klub seperti berlomba untuk menduniakan namanya karena bahasa Inggris adalah bahasa dunia. Perubahan nama itu memang sedikit menambah kesan bahwa klub-klub tersebut terdengar, setidaknya, agak lebih modern dan mendunia dengan adanya embel-embel united dan  football club, sebagaimana halnya klub tenar Liga Inggris, seperti Manchester United dan Chelsea Football Club. Kedua klub tersebut memang modern, berprestasi, dan mendunia. Tapi yang perlu diingat, kedua klub itu berasal dari Inggris dan bangga menggunakan bahasa Inggris.
Kecintaan terhadap bahasa negara sendiri juga diperlihatkan oleh Real Madrid Club de Futbol alias Real Madrid CF dan Associazione Calcio Milan alias AC Milan yang merupakan raja sepakbola di Eropa. Real Madrid CF yang merupakan peraih piala Liga Champion Eropa terbanyak (10 kali) tetap setia menggunakan bahasa Spanyol, tak mengganti nama menjadi Real Madrid FC agar modern. Begitupula AC Milan yang mendapat tajuk klub tersukses di dunia tetap menggunakan istilah Italia associazione calcio sebagai identitas. Mereka tidak mengganti nama menjadi Milan FC untuk bisa mendunia. Meskipun Milan bukan pelafalan Italia (Milano), melainkan Inggris. Akan tetapi pelafalan itu tidak di-Italia-kan karena merupakan bentuk penghargaan klub terhadap pendirinya yang merupakan orang Inggris. Terlepas dari hal itu, dua klub ini modern dan mendunia bukan karena nama, tapi karena prestasi. Hal inilah yang selama ini menjadi salah kaprah di Indonesia. Klub-klub Indonesia lebih peduli akan nama daripada prestasi.
Deretan contoh di atas merupakan segelintir ketidakbijakan dalam sikap berbahasa. Bahkan kadang seperti pendiskriminasian bangsa Indonesia terhadap bahasanya sendiri. Masyarakat Indonesia yang katanya cinta tanah air lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada bahasanya sendiri. Menjadi Indonesia tak cukup dengan memasang bendera Indonesia pada nama di aplikasi BBM atau pergi ke gunung untuk upacara bendera setiap perayaan 17 Agustusan. Perlu tindakan menyeluruh dalam mencintai Indonesia, termasuk menggunakan bahasa Indonesia dengan bangga sebagai identitas kebangsaan.
André Möller pengamat bahasa dan penyusun Kamus Swedia-Indonesia bahkan pernah membandingkan secara implisit tentang perbedaan sikap berbahasa di Swedia dan Indonesia di dalam kolomnya yang dimuat di Kompas 10 April 2004. André mengatakan, di Swedia singkatan asing seperti DVD, VCD, dan TV telah men-Swedia—yang jika dalam bahasa Indonesia dilafalkan dengan /de-ve-de/, /ve-ce-de/, /te-ve/. Berbeda dengan di Indonesia yang masyarakatnya melafalkan singkatan itu dengan bahasa Inggris /di-vi-di/, /vi-si-di/, dan /ti-vi/. Jika memang pilihan masyarakat Indonesia menggunakan bahasa asing sebagai bentuk kemodernan dan kemenduniaan, Andre berkata, “Mungkin saja orang lain menganggap kami semua kampungan.” Sebuah tamparan keras dari penduduk negara yang jauh lebih modern daripada Indonesia yang membuat muka menjadi merah, bahkan lebam. Tamparan yang tidak akan pernah terasa bila kita memang tidak punya muka. Nah. (*)
Yola Sastra
Dimuat dalam Surat Kabar Singgalang Minggu
23 Agustus 2015

Senin, 27 Juli 2015

Yang Memimpikan Malam

Ilustrasi: deviantart.net

Inilah kisah tentang sang pemimpi. Yang selalu membutuhkan malam, untuk dapat terus bermimpi. Baginya siang adalah sisi dunia yang lain. Yang terlalu hiruk dan pikuk, menghambat setiap kesenangan duniawi.
Malam adalah yang terindah. Dari sekian waktu yang menjegal, hanya malam yang dapat memberi sedikit mabuk pada kantuk. Yang membuatnya hanyut dalam peluk.
Malam memberi sebuah kesunyian. Kesunyian yang menjanjikan sebuah keintiman, menyejukkan. Ia memberikan sebuah kekuatan bagi pemimpi untuk terus hebat dalam setiap pertarungan kehidupan. Ia memberikan nyawa pada raga untuk tak gontai melangkahi garis nasib. Nasib dapat ditulis ulang, direvisi, atau dihabisi—kalau ada malam.
Lalu bulan? Bulan adalah cerita lain. Ia sahabat malam dan pemimpi yang senantiasa memberi senyum. Menyumbat keluh dan menyinarkan harapan. Bulan datang sebagai kawan, menawarkan kelembutan. Bila malam dan mimpi tak kunjung akur, bulanlah pengkalibrasi sejati.
Ilustrasi: bibeh.com
Kadang malam cemburu akan bulan yang terlalu rapat dengan mimpi. Tapi malam kadang tak tahu, ia membuat mimpi jadi pencemburu. Malam selalu dipasangkan dengan siang. Sedangkan mimpi dipasangkan dengan kehampaan.
Bila siang adalah api, malam adalah air. Siang mengobarkan cemburu. Malam memadamkannya. Tetapi setiap pemadaman, selalu ada asap yang mengaburkan mata memandang. Pemimpi tersesat dalam lingkar ketidakpastian.
Pemimpi tak suka senja. Senja adalah keraguan. Senja menggerogoti mimpi antara iya atau tidak. Entah nyata atau ilusi. Tapi, entah kenapa, malam terlalu dekat dengan senja. Padahal ada magrib yang selalu mengawasi.
“Kasihan pemimpi,” kata sebuah hati.
“Hidup adalah ketidakpastian,” kata sebuah kepala.
“Dan dia butuh kepercayaan,” kata sebuah naluri.
Semuanya berterima. Tapi pemimpi lebih percaya naluri. Naluri memberikan kepastian di tengah kebimbangan. Kepastian yang menenangkan di dalam kesemuan. Dan itu lebih dari cukup untuk meyakinkan.

Bersambung….


Padang, 27 Juli 2015
Yola Sastra

Minggu, 12 Juli 2015

Kesalahan Berbahasa dan Fungsi Agen Bahasa


Ilustrasi: www.kompasiana.com

Bagi manusia, bahasa tak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Tanpa bahasa, manusia tidak dapat hidup. Bahasa diciptakan manusia sebagai media untuk berkomunikasi. Dan kita pun tahu, manusia itu makhluk sosial yang butuh manusia lain, salah satunya dalam hal berkomunikasi.
Karena pentingnya bahasa, kita dituntut untuk berbahasa secara baik dan benar. Sesuai dengan konvensi para pembuat dan ahli bahasa. Kita tidak dapat mengubah bahasa seenaknya, apabila tidak ada kesepakatan dari banyak orang, masyarakat pengguna bahasa.
Banyak kesalahan dalam berbahasa, contohnya dalam penggunaan kata “bergeming”. Bergeming berarti diam. Tidak bergeming berarti tidak diam, atau bergerak. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, dalam karya sastra umumnya, ditemukan penggunaan kata tidak bergeming yang mengacu pada makna diam. Hal ini tentu kontras sekali antara makna kata sebenarnya dengan makna kata yang dimaksudkan penulis atau pembicara.
Kata lainnya yang sering disalahgunakan adalah senonoh dan seronok. Senonoh berarti sopan. Seronok berarti enak dilihat. Namun, karena sering digunakan untuk mengemukakan hal negatif, seperti tidak senonoh atau kurang seronok, maka konotasi dua kata tersebut menjadi negatif. Akibatnya sekarang banyak yang menggunakan senonoh untuk menyatakan tidak sopan dan seronok untuk menyatakan tidak enak dilihat. Padahal makna sejatinya kontradiktif dengan makna yang sekarang mulai berkembang di tengah masyarakat.
Penyimpangan ini terjadi karena sang penutur kata tersebut hanya asal pakai kata, tanpa tahu maknanya. Hal ini terlihat pula dengan seringnya didengar orang yang mengucapkan kata “instruksi” untuk menyatakan “interupsi” di dalam rapat atau debat, “intensif” untuk menyatakan “insentif”, “interprestasi” untuk menyatakan “interpretasi”, dan banyak penyalahgunaan kata lainnya. Padahal seperti yang telah dikemukakan tadi, beda kata beda maknanya.
Kesalahan-kesalah itu tentu akan menciptakan kekacauan komunikasi. Bagi yang tahu makna aslinya maka akan lain pemahamannya. Bagi yang tidak tahu lain pula pahamnya. Untuk masalah kecil ini mungkin tidak terlalu berpengaruh. Tapi untuk hal urgen, barangkali ini akan membahayakan. Misalnya, ada dua orang yang salah paham saat terjebak di tengah-tengah jembatan yang nyaris rubuh karena lapuk. Di bawah jembatan itu ada bahaya yang mengancam, yakni sungai yang dalam dan penuh dengan buaya. Salah seorang di antara mereka berkata, “Jangan bergeming!” dengan maksud, “jangan bergerak” agar jembatannya tidak rubuh. Lawan bicaranya yang paham dengan maksud sebenarnya, kemudian “bergerak” karena maksud dari kata-kata itu, “jangan diam”. Akhirnya, karena kesalahpahaman, jembatan pun rubuh dan mereka tenggelam dalam sebuah celaka. Kesalahpahaman seperti ini tentu sangat berbahaya bagi para pengguna bahasa.
Peran agen bahasa
Kesalahan berbahasa seperti yang telah disebut harus segera dituntaskan. Harus segera diluruskan oleh para agen bahasa. Agen yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang paham dan peduli terhadap bahasa Indonesia. Terutama mahasiswa dan dosen bahasa Indonesia. Inilah kesempatan mereka sebenarnya untuk menunjukkan keahliannya. Menunjukkan fungsinya sebagai orang yang mendalami ilmu bahasa Indonesia.
Orang-orang yang paham dan peduli dengan bahasa Indonesia itu harus segera meluruskan kesalahan-kesalahan berbahasa yang terjadi di tengah masyarakat. Tak perlu muluk-muluk, mulai saja dari diri sendiri. Sebab, tak sedikit pula orang yang mendalami bahasa Indonesia yang malah melakukan kesalahan itu sendiri. Benahi diri. Jangan sampai tunggak nan mambao rabah. Jangan sampai agen bahasa sebagai tonggak yang semestinya menegakkan bahasa Indonesia, malah menjatuhkan bahasa itu sendiri.
Setelah berbenah diri, maka langkah selanjutnya adalah meluruskan penggunaan bahasa di lingkungan sekitar. Jika menemukan sanak, saudara, atau kawan yang salah dalam menggunakan bahasa, segera luruskan dan beri pemahaman. Jika lingkungan sekitar telah dapat menggunakan bahasa secara baik dan benar, niscaya kebenaran berbahasa itu akan menyebar ke masyarakat lainnya, sehingga perlahan-lahan akan mengurangi kesalahan penggunaan bahasa di Indonesia.
Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa negara, dan bahasa persatuan Indonesia. Kita sebagai bangsa Indonesia, yang mencintai negara, seharusnya menjaga dan menghargai bahasa Indonesia. Caranya, menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, serta meluruskan kesalahan berbahasa. (*)
Yola Sastra
Dimuat dalam Surat Kabar Singgalang Minggu, 7 Juni 2015

Sabtu, 25 April 2015

Nan Pandai

Ilustrasi: http://4.bp.blogspot.com/

Jenuh tidak ada pekerjaan setelah lebaran, akhirnya saya putuskan untuk ikut menjemput pasir dengan Pak Etek. Dengan mobil pick up kecil kami menyusuri jalan menuju daerah Lubuak Batingkok, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota. Di tepi Sungai Sinamar, tampak para penambang sedang memuat pasir ke atas bak mobil. Tiga mobil berjejer di tepian itu. Ada pick up, ada juga truk ukuran besar. Dari arah lain, di hulu sungai, tampak seorang penambang membawa hasil jerihnya dengan sampan sambil sesekali mendayung.
Asyik mengamati para penambang bekerja, saya tergelitik mendengar celotehan salah seorang pemilik mobil. Tampak tiga orang laki-laki paruh baya sedang maota ditemani segelas kopi di sisi masing-masing.
Ceritanya tentang bersawah. Salah seorang paota berkata, lebih baik menyuruh orang yang tidak pandai bersawah daripada orang yang pandai. Dua paota lainnya termenung. Kenapa demikian?
Nan tidak pandai akan bekerja lebih baik daripada nan pandai. Misalnya saja mencangkul sawah. Nan tidak pandai akan mencangkul tunggul padi sampai hancur—karena tidak tahu trik. Sehingga lumpur sawah akan lebur dan menyatu dengan tunggul. Lumpur menjadi lembur. Dan padi akan tumbuh subur. Memperkerjakan nan tidak pandai juga menghemat biaya. Nan tidak pandai bisa dibayar murah karena kurang pengalaman. Namun pekerjaannya dinilai lebih efektif dan efisien bagi pemilik sawah.
Sedangkan nan pandai—banyak pengalaman—punya trik-trik sendiri agar pekerjaannya lebih mudah. Apabila mencangkul, nan pandai tidak akan mencangkul tunggul sampai habis. Cukup dengan membalik tunggul dua kali balik, kerja pun selesai. Memang terlihat bersih di atas permukaan, namun tunggul dan lumpur tidak lebur sehingga pertumbuhan padi terhambat. Memperkerjakan nan pandai akan memboroskan biaya. Bayaran mahal, namun hasil tak maksimal.
Sesaat saya merenung. Menimbang benar tidaknya pernyataan itu. Namun karena kekurangan waktu berpikir—atau barangkali sedang tidak mau berpikir—saya pun menunda memikirkannya.
Setelah tiga puluh menit menunggu, pasir kami pun selesai dimuat. Saatnya untuk mengangkut pasir pulang. Di tengah perjalanan, cerita tentang nan pandai pun berlanjut. Kali ini Pak Etek yang memulai. “Beginilah orang nan pandai bekerja,” celetuknya. Dan kali ini, saya pula yang tercengang seperti dua paota tadi.
Kata Pak Etek, pasir yang kami angkut lebih ringan dari sebelumnya. Ini tentu ada kaitannya dengan kisah nan pandai tadi. Orang nan tidak pandai akan memuat pasir dengan bertumpuk-tumpuk. Dengan demikian pasir yang dinaikkan menjadi padat dan isinya sudah tentu banyak. Sedangkan nan pandai akan menaikkan pasir dengan mengirai. Dengan demikian pasir yang naik ke mobil menjadi gembur. Pasir yang dimuat akan lebih sedikit. Beban akan lebih ringan dan pekerjaan penambang tentu juga lebih ringan.
Lalu, pada tataran lebih tinggi ada pula kisah nan pandai. Semisal pegawai negeri atau pejabat negara lainnya. Banyak kita dapati PNS senior—tentunya sudah pandai—bekerja dengan santai. Pandai bermain dengan aturan, namun hidupnya sangat permai. Sedangkan PNS baru akan berusaha bekerja keras. Menunjukkan dedikasinya untuk perubahan. Namun karena dianggap belum pandai, usaha itu kurang dihargai.
Ada pula kisah tentang beberapa anggota DPR yang tentu saja sudah pandai. Pandai memikat hati rakyat. Pandai membuat peraturan. Tapi, pandai juga mencuri-curi waktu untuk tidur di tengah-tengah jam rapat. Kerja santai, nasib permai.
Begitulah fenomena orang pandai. Semakin tinggi sekolah semakin pandai. Kerja semakin santai. Hidup pun semakin permai. Tapi ingat pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, sesekali tentu akan tergerapai juga.
Payakumbuh, 31 Oktober 2014

Yola Sastra

Jumat, 24 April 2015

Ibu itu, Aneh!


Ilustrasi: kapanlagi.com

Ibu itu, yang berkaca mata persegi, berkumis tipis, dan berbaju coklat dengan stelan jilbab hitam pudar, gelisah di bangku bagian belakang Trans Padang. Seorang laki-laki dewasa, kira-kita 28 tahun, tiba-tiba duduk di sebelahnya. Mata ibu itu jadi tak henti-henti mendelik curiga. Ia berhati-hati, menjaga agar tak sesenti pun tubuhnya tersentuh oleh laki-laki itu.
Sebelumnya, ia damai. Tenggelam dengan buku Suamiku adalah Surgaku yang dibacanya sejak saya mengamati dua menit lalu. Namun, ketenangan segera berubah setelah penumpang sebelahnya pergi dan si laki-laki berkumis tipis itu datang.
            Ibu itu, seolah-olah merasa ada yang ingin menyergap. Raut wajahnya selalu awas. Beruntunglah penderitaannya berakhir. Akhirnya ibu itu pindah, setelah ada penumpang di kursi seberang yang turun di salah satu perhentian.
            Bagi saya, ibu itu aneh. Entahlah, saya jarang, bahkan belum pernah bertemu dengan orang seperti dia. Biasanya, laki-laki dan perempuan, tak pernah peduli, bagian tubuhnya bersentuhan atau tidak dengan lawan jenisnya masing-masing. Hal itu sepertinya sudah lumrah di kampung Malinkundang ini. Dalam hati, saya menerka-nerka, barangkali ada kisah traumatik yang selalu menghantui ibu itu. Saya belum dapat menyimpulkan. Siapa yang aneh. Apakah ibu itu? Atau lingkungannya? Kadang bila kita terjebak di antara sekian banyak orang aneh, kita dianggap aneh.
            Bus berhenti lagi. Saya tidak tahu, terminal apa namanya. Beberapa penumpang naik berdesak-desakan. Rombongan itu terbagi dua. Separuh pergi ke depan. Sisanya duduk atau berdiri di belakang.
Seorang bapak berbadan besar tinggi, berbaju oranye, dengan rambut mulai beruban, berdiri tepat di depan si ibu. Ibu itu terancam lagi. Matanya tak henti-henti mendelik sang bapak. Kakinya bergerak-gerak kaku, menghindari kemungkinan bersentuhan dengan lawan jenisnya itu. Penumpang lainnya, walaupun seperti acuh, mulai memandangi sang ibu. Benarkah dia aneh? Saya mulai terpengaruh. Saya pikir ibu itu benar-benar aneh. Pikir saya, biasa saja bila laki-laki dan perempuan itu bersentuhan karena keadaan yang berdesak-desakan di atas angkutan umum. Tuhan pasti tahu, tidak ada yang berlaku macam-macam. Tidak ada niat. Mungkin ibu itu terlalu berlebihan. Dan…, sedikit aneh.
Saya tak henti-hentinya mengamati ibu itu. Penasaran. Apa ia benar-benar aneh? Dari yang saya lihat, ibu itu berwajah teduh. Sosok ibu penyayang dan cinta suami. Tapi kenapa berlebihan seperti itu? Atau, saya kah aneh?
Bus berhenti lagi. Tiga terminal telah lewat sejak pertama saya naik di simpang dekat Jasaraharja. Beberapa penumpang turun. Disambut dengan segerombolan lagi penumpang yang naik. Sang bapak yang “mengganggu” itu pindah, duduk di kursi kosong. Tapi, belum habis malang, sang ibu kesal kembali. Seorang anak laki-laki jangkung berseragam kuning, mungkin anak SMP, lewat di depannya. Saya tidak melihat pasti, apakah kaki ibu itu terinjak atau tersenggol. Yang jelas, ibu itu terlihat gusar. Seperti ada sesuatu yang sudah lama dijaganya, kemudian direnggut tiba-tiba.
Mata ibu itu, tak henti-hentinya memandangi anak laki-laki yang membuatnya kesal. Buku yang dari tadi akrab dengannya, diabaikan. Ibu itu terus memandangi. Anak laki-laki tadi terus merunduk. Takut dengan ibu yang selalu memandanginya itu. Ibu itu terus memandangi. Seraya mencari posisi yang tepat untuk terus dan terus memandangi. Ia ingin anak laki-laki itu membalas tatapannya yang mengatakan, Kamu salah, kamu harus minta maaf. Tapi upaya itu gagal. Jangankan membalas, anak itu makin tepekur.
Ah, ibu itu aneh. Kejam. Terlalu berlebihan. Biasa saja toh terinjak di atas bus kota. Harusnya dia mahfum. Itulah resikonya naik kendaraan umum. Berdesak-desakan dan terinjak sana-sini. Saya juga pernah diinjak, terjepit, bahkan terbakar oleh api rokok penumpang. Saya tidak dendam. Sumpah. Ibu itu aneh.
Lama menatap tanpa ditanggapi, ibu itu tiba-tiba memanggil petugas tiket. Mau apa dia? Saya menggumam. Ibu itu menyodorkan uang dua ribu. Kemudian berkata, “Tolong berikan tiket ini kepada anak berbaju kuning itu.” Nah, itu lebih aneh lagi. Kali ini saya tersenyum.

Padang, 24 April 2015

Yola Sastra

Rabu, 01 April 2015

Spiritualis Kritis



Judul              : Simple Miracle
Penulis          : Ayu Utami
Penerbit        : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan         : I, Oktober 2014
Tebal              : 177 Halaman

“Aneh, ibuku mengajarkan aku ragu akan hantu, tapi ia mengajari aku beriman perihal Tuhan.” (hal 12)
Apa beda hantu dengan Tuhan? Dari segi bunyi, sama saja. Hantu adalah kebalikan bunyi dari Tuhan. Tuhan kebalikan bunyi dari hantu. Kalau dieja cepat-cepat, jadinya, Tuhantuhantuhantuhantuhan. Sama kan? Dari segi wujudnya pun begitu. Hantu dan Tuhan sama-sama tidak bisa dibuktikan secara material dan objektif. Keduanya tidak dapat dilihat kasat mata. Keduanya tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Namun, di balik dari kesamaan itu, ada prinsip mendasar yang membuat hantu dan Tuhan berbeda sama sekali. Hantu tidak datang dengan paket nilai-nilai, sedangkan Tuhan datang dengan paket nilai-nilai. Hantu tidak datang dengan etika dan ajaran. Tuhan justru datang membawa etika dan ajaran. Kepercayaan terhadap hantu tidak membawa manusia ke mana-mana. Sebaliknya, kepercayaan terhadap Tuhan membawa manusia ke suatu arah, dan tentunya lebih baik.
Konsep-konsep seperti inilah yang sering dipergulatkan Aku di dalam pikirannya. Sikap kritis dan skeptis membuatnya selalu meragukan hal-hal gaib yang tak kasat mata, bahkan untuk konsep tentang Tuhan. Prinsip ini pun membuatnya terjebak dalam proses pencarian Tuhan yang begitu rumit. Dan layaknya sejarah pemikiran Eropa, Aku juga melalui periode religiusitas, sekularisme, dan pasca-sekularisme.
Pada periode religiusitas, Aku sempat menjadi pribadi yang taat. Bahkan sering berkirim surat secara intim dengan Tuhan. Namun, memasuki usia 20-an Aku mulai meninggalkan Tuhan. Aku memilih nalar dalam menimbang baik-buruk sesuatu dan mengenyampingkan ayat-ayat Tuhan. Periode ini dinamai sebagai sekularisme. Lalu, memasuki periode pasca-sekularisme, Aku kembali menjadi makhluk bertuhan, tetapi dapat menyeimbangkan antara religi dan nalar. Aku mengistilahkannya dengan “Spiritualisme Kritis”, yaitu penghargaan terhadap yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis (hal 12).
Dalam Mukjizat Sederhana ini—demikian kira-kira terjemahan bahasa Indonesianya—Ayu Utami ingin menyampaikan bahwa agama bukanlah sebuah keyakinan yang harus diterima mentah-mentah, tanpa proses berpikir kritis. Agama harus dijadikan alat untuk menciptakan perdamaian, bukan permusuhan yang nyatanya bertentangan dengan ajaran Tuhan.
Bagian pertama dari Seri Spiritualisme Kritis ini mengambil tema tentang “Doa dan Arwah”. Dan sesuai tema, isinya memang tak jauh-jauh dari doa dan arwah. Betapa kekuatan doa dapat mengantarkan manusia dalam mendapatkan mukjizat sederhana, namun sangat berharga. Selain itu, berbagai kisah tentang makhluk gaib juga bergentayangan, nyaris di setiap babnya. Lalu, menyadur judul, novel ini memang ditulis dengan simpel. Tidak seperti novel sastra lainnya yang rumit dan kadang menjemukan, Simple Miracle disampaikan secara ringan, mengalir, namun tidak abai terhadap nilai-nilai.

Yola Sastra
Dimuat dalam SKK Ganto edisi 183 November-Desember 2014 dengan judul Spritualis, Namun Kritis.



Jumat, 16 Januari 2015

Liburan Oh Liburan


Masa liburan kadang membawa suka dan duka. Ada yang suka. Ada pula yang berduka. Bagi yang suka, liburan adalah saat yang menyenangkan. Liburan adalah saatnya berlibur. Saatnya bertemu dengan keluarga, bertemu sanak famili, dan saat bertemu dengan teman sejawat. Liburan adalah saatnya berekreasi, mengunjungi tempat-tempat wisata, atau mengerjakan hal-hal yang menyenangkan lainnya. Lalu, bagaimana dengan orang menganggap liburan sebagai duka?
Bagi orang yang tak dapat berlibur, sebab rumah jauh atau ada perihal lain, liburan adalah masa-masa yang tidak menyenangkan. Liburan adalah saat-saat yang membosankan sebab tak ada kegiatan. Terlebih bagi mahasiswa yang kuliah di perantauan. Sudahlah tak dapat berlibur, kerjaan pun tak ada. Sekedar maota saja bahkan tak bisa. Bagaimana akan maota jika lawan ota tak ada. Kadang, liburan membuat orang sadar bahwa masa kuliah itu masa yang menyenangkan—setidaknya tidak membosankan.
Mengunjungi tempat-tempat wisata? Mustahil. Uang tak ada. Meski pun ada yang berbaik hati menyumbang, lagi-lagi, tak bisa. Kawan tak ada. Macam mana nak berlibur seorang diri, seperti ayam kehilangan induk. Kemari meraba-raba, tanpa arah dan tujuan.
Bagi yang bisa pulang, liburan kadang juga menjadi duka. Bolehlah senang seminggu, melepas rindu kepada keluarga. Sehabis itu? Bosan pula. Syukur-syukur ada pekerjaan yang bisa dilakukan, setidaknya membantu orang tua. Kalau tidak? Bosan lagi. Tak ada kawan. Sebab banyak kawan yang sedang berjuang menuntut ilmu di rantau orang. Atau ada pula yang sedang banting tulang mencari nafkah di kampung seberang.
Kadang, karena sudah terlalu lama di rantau orang, saat pulang kita merasa seperti orang asing. Padahal kita ada di kampung sendiri. Butuh waktu yang lama untuk beradaptasi. Setidaknya 30 hari.
Membunuh bosan
            Satu-satunya cara agar tidak bosan saat liburan adalah dengan ‘membunuh’ bosan. Dengan melakukan hal-hal yang bermanfaat dan menyenangkan bosan dapat terbunuh dengan sendirinya. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah menghabiskan waktu dengan menulis. Syukur-syukur tulisannya bagus, dapat terbit di media massa—lumayan, dapat honor. Kalau tidak terbit? Ya sudah, setidaknya jadikan latihan menulis. Kan tidak ada salahnya latihan. Lagi pula, sebenarnya kalau untuk jadi penulis tidak butuh bakat. Yang dibutuhkan hanya latihan, latihan, dan latihan.
            Jika tidak suka menulis? Mungkin bisa membaca. Hitung-hitung untuk menambah wawasan. Menambah pengetahuan. Syukur-syukur nanti iri dengan orang yang membuat bacaan, bisa jadi motivasi untuk menulis deh.
            Kalau tidak suka menulis dan membaca bagaimana? Mungkin bisa cari alternatif lain. Mungkin olah raga. Membakar lemak dan kalori membuat tubuh sehat dan fit. Tapi saya sarankan, jangan pilih sepakbola. Lho, kenapa? Tidak ada kawan. Nanti bosan. Hahaha. :D :D
            Banyak hal bermanfaat yang dapat dilakukan saat liburan. Terserah mau pilih yang mana. Yang jelas tidak membuat bosan dan yang penting menyenangkan. Sebab, liburan adalah waktunya untuk ‘bersenang-senang’. Saat untuk mengistirahatkan otak dan menyegarkan pikiran.
Selamat liburan.


 Padang, 7 Januari 2015
Yola Sastra

Kamis, 01 Januari 2015

Tentang Malam Ini, Api Kembang, dan Batas


Adalah penyesalan jika lupa menuliskan resolusi setahun lalu. Tidak jelas. Apa yang telah dicapai, apa yang telah diusahakan, dan apa yang tidak pernah terpikirkan. Maka sebelum malam kemarin kusempatkan menulis beberapa poin harapan—tepatnya angan-angan. Yang akan diwujudkan. Atau sedikitnya diusahakan.
Tahun ini dimulai dengan kuap. Sebagai penanda hari ini memang telah malam, saat ia berganti. Dengan setengah gelas kafein, aku coba bertahan untuk tetap nyalang. Berbagi cerita. Mendengarkan. Atau sekadar bergurau tentang masa depan. Bukan hanya masa depan aku. Masa depan dia (si bukan manusia, G). Dan masa depan orang lain yang kelak akan menjalankan si dia. Tapi jangan cemburu karena aku tidak bercerita tentangmu. Bukan berarti kamu tak berarti. Namun, tentang kamu, sudah jauh-jauh hari aku berdiskusi. Meski tidak ada dalam resolusi.
Banyak yang ingin diwujudkan tahun ini. Tentang obsesi, ambisi, ataupun mimpi. Maaf, aku lupa mengecek kamus. Lupa membandingkan dan mencari, diksi yang tepat untuk resolusi yang tepat. Kapan harus disebut obsesi. Kapan disebut ambisi. Atau kapan disebut mimpi. Tapi, bagaimana pun, mulai hari ini, sebagaimana janji, kutulis serangkai kata-kata sebagai bukti.
Malam ini malam…
Malam ini, kami sepakat, menyebutnya, “malam silaturahmi”. Kami enggan, bahkan tidak mau menyebutnya, malam tahun baru. Yaaaa, maksudnya kami tidak ingin disebut merayakan tahun baru. Karena ini, bukanlah hari raya yang ada dalam kepercayaan yang sedang kami imani. Yaaaa, meski yang dilakukan juga tidak beda dengan yang lain, yang secara sukarela menyebut merayakannya. Tetapi, kami menghindari sebutan semacam ini. Jadi 48 jam sebelum malam ini, kami memberi pengertian. Memberi batasan. Malam ini, malam berkumpulnya para alumni dan dewan ahli.
            Malam ini, malam melepas rindu. Bertemu dengan sahabat jauh, yang lama sudah tak bertemu. Malam ini malam pelepas tanya. Baik-baikkah saudara kami di sana? Dan sebagian tanya terjawab. Sebagian saudara, mampir dan mau menghabiskan malam dengan kami. Menyanyikan beberapa lagu. Atau melontarkan berbagai lelucon. Dan yang masih belum terjawab, mungkin, akan dijawab lain kali.
            Malam ini, juga malamnya makan-makan. Dimulai dengan makan. Diakhiri dengan makan. Selain saat acara—yang bikin peserta bertanya-tanya, bingung, dan ingin pindah ke pesta tetangga—mulut tak henti-hentinya mengunyah. Mengunyah nasi. Mengunyah lauk. Mengunyah gorengan. Mengunyah gorengan hadiah tetangga. Mengunyah karupuak leak. Dan mengunyah lainnya. Apa saja yang bisa dikunyah. Semua mengunyah. Hingga malam ini bosan dengan kunyahan. Hingga aku, kamu, dan kita bosan mengunyah. Dan saat itu, berakhirlah sebuah kenikmatan.
Api kembang dan batas
Ada api meledak dan mengembang saat inti tak sanggup lagi terbang. Ini adalah nyata, bahwa semua ada batasnya. Saat inti api sudah di batas ambang, ia meledak, memancarkan ratusan percikan yang disambut sorak sorai para pemandang. Begitu pula dengan malam ini, malam ujung dan batas. Yang menandai bahwa tahun pun juga punya batas. Dan setiap batas dan ujung—ada juga yang menyebut puncak—pada malam ini, disambut dengan sorak sorai.
Tetapi, yang perlu diingat, meskipun inti api sudah mencapai batas. Meskipun tahun sudah mencapai batas. Bukan berarti semuanya berakhir. Ini bukanlah akhir dari segalanya. Pembatas adalah awal untuk suatu yang baru. Akan ada lagi inti yang terbang dan meledak lagi di ujung batas. Akan ada lagi tahun baru yang akan melanjutkan tahun yang sudah mencapai batas.
Dan tentang batas, aku ingat slogan “sabar ada batasnya”. Kadang aku tergelak. Dalam kehidupan kita, ini nyata. Meski kadang tidak terucap, pada praktik, ini ada. Selalu ada yang meledak saat sabarnya di sudah di ambang batas. Dan saat di batas, seakan semua sabar telah habis. Tetapi ingat kawan, saat sabarmu sudah di ambang batas, jangan pikir sabarmu telah habis. Selalu ada sabar lain, saat sabar yang ini sudah ada di batas. Batas hanyalah pembatas, dari satu tingkat, ke tingkat yang lebih tinggi. Jika, sabar sudah ada di batas, maka berarti, Tuhan menuntutmu untuk segera memulai sabar lainnya, yang lebih dahsyat.
Begitu pula, dengan malam ini. Seperti filosofi batas tadi, batas tahun bukan berarti segalanya telah berakhir. Tetapi awal untuk segala yang baru. Malam ini bukanlah akhir untuk menjadi orang baik. Malam ini bukanlah akhir untuk menjadi orang hebat. Tetapi malam ini adalah awal untuk kita, untuk menjadi orang yang lebih baik dan lebih hebat lagi.

Padang, 1 Januari 2015
Yola Sastra