Keterangan Foto: Peserta, pemateri, dan panitia Pena Persma LPM Dinamika UIN Sumatra Utara berfoto dengan anak-anak dan relawan Rumah Baca Desa Perbaji, Sabtu (24/10/2015). f/Doc.
Kabut asap mengiringi langkah saya ketika menginjakkan kaki untuk pertama kali di Tanah Deli. Sejauh mata memandang, tampak gedung-gedung, rumah-rumah, dan berbagai benda lainnya kabur disaputi asap hasil kebakaran di provinsi tetangga. Untungnya hal itu tak mengaburkan niat saya dan dua rekan lainnya sebagai perwakilan Surat Kabar Kampus Ganto UNP untuk mengikuti pelatihan nasional pers mahasiswa di UIN Sumatra Utara, Rabu—Minggu (21—25/10/2015).
Perjalanan panjang dari Kota Padang memang cukup melelahkan. Selama kurang lebih 24 jam kami harus berdesak-desakan menumpang bus antarlintas Sumatra. Belum lagi hiruk pikuk para penumpang semakin membuat gerah suasana. Hanya penasaran yang terus membuat kami bertahan. Hingga akhirnya semua terbayar lunas ketika bus berhenti di sebuah terminal di Kota Medan.
Kota ini saya sebut kota teladan. Kenapa? Karena Medan memang teladan. Ini tidak hanya karena penduduknya punya Stadion Teladan dan SMA Teladan. Ini tidak pula karena mereka memberikan nama yang nyeleneh pada makanan. Orang sana punya mie balap—barangkali cara buatnya yang balap, mungkin cara makannya harus balap, atau bisa juga makannya sambil balapan, entahlah; mie level (level 1—5), kentang ngebor, logam burger, bakso dangdut, dan nama-nama aneh lainnya. Karena itu? Bukan.
Medan jadi teladan karena masyarakatnya yang bersahabat. Boleh saja orang sana punya wajah yang sangar, logat yang keras, atau gaya bicara yang ceplas-ceplos (apa adanya), tapi tidak dengan hati mereka. Hati mereka barangkali lebih lembut dari sutra. Di samping itu, kota ini juga menjunjung tinggi toleransi dalam beragama. Dua penganut agama mayoritas di sana, Islam dan Kristen, bisa hidup rukun secara berdampingan—setidaknya inilah yang saya rasakan selama di sana.
***
Mengikuti pelatihan jurnalistik adalah tujuan utama saya mengunjungi bumi Sumatra Utara. Bersama 26 wartawan kampus lainnya dari 16 lembaga pers mahasiswa se-Indonesia, saya belajar bagaimana cara meliput di daerah bencana. Selama di tempat pelatihan—tepatnya di rumah pengasingan Bung Karno di Berastagi—kami diajarkan cara mengambil foto oleh mantan fotografer Reuters, Tarmizi Harva. Selain itu, kami juga mendapat materi tentang bagaimana meliput di daerah bencana oleh wartawan Metro TV Medan, M. Harizal; prosedur operasi standar (SOP) oleh Koordinator Daerah Prioritas Kota Medan Program Pendidikan, Bambang F. Wibowo; bencana dan penanggulangannya oleh Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karo, Matius Sembiring; dan pemateri lainnya.
Setelah mendapatkan berbagai teori seputar liputan bencana, peserta pelatihan pun diterjunkan ke lapangan untuk melakukan reportase. Liputan dilakukan di Desa Perbaji, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo. Desa ini adalah salah satu daerah yang terkena dampak dari erupsi Gunung Sinabung. Agar tetap aman selama proses peliputan, para wartawan muda tersebut ditemani oleh Bambang F. Wibowo.
Kondisi di Desa Perbaji cukup memprihatinkan. Hampir setiap hari, terutama saat hujan turun, desa dibanjiri lahar dingin dari kawah Gunung Sinabung. Sebagian besar warga Desa Perbaji yang bekerja sebagai petani saat ini kehilangan mata pencahariannya akibat bencana Gunung Sinabung dalam beberapa tahun terakhir. Ladang yang mereka tanami, seperti kopi, tomat, dan bawang, habis dirusak abu vulkanik dan banjir lahar dingin. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, banyak warga desa yang terpaksa menjadi buruh tani di desa lain karena tak bisa menggarap ladangnya sendiri.
Meski desa rawan bencana, sebagian besar warga masih memilih untuk tinggal di sana. Perbaji adalah tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. Nenek moyang mereka juga berasal dari sana. Tidak mungkin mereka meninggalkan dan melupakan asal-usul mereka.
Walaupun kondisi Perbaji menyiratkan cerita sedih, setidaknya ada hal yang membuat hati saya sedikit bergembira. Di desa, terdapat sebuah rumah baca lengkap dengan berbagai buku sebagai koleksinya. Katanya, hampir setiap hari anak-anak desa bermain membaca di sana. “Setidaknya mereka masih punya masa depan,” begitu kata hati saya.
***
Field trip ke Danau Toba menjadi semacam hadiah bagi saya dan rekan-rekan pers mahasiswa setelah berlatih meliput bencana. Dengan menumpang kapal feri sekitar satu jam perjalanan dari Kelurahan Prapat, kami menuju Huta Siallagan, sebuah kampung yang terdapat di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir. Sayangnya, di sepanjang perjalanan kami gagal menikmati indahnya pesona Danau Toba karena tertutup oleh tebalnya kabut asap. Namun, itu bukanlah soal. Saya masih tetap bisa menikmati wisata budaya selama berada di sana.
Di Kampung Siallagan saya jatuh cinta dengan tortor. Tarian ini seolah menjadi candu yang tak pernah lepas dari ingatan; ia begitu berkesan. Di sela-sela menyimak cerita pemandu wisata seputar Huta Siallagan—mulai dari cerita seputar rumah adat hingga orang Batak makan orang—kami mendapat kesempatan untuk manortor (menari tortor). Sebelum menari, penari harus mengenakan ulos (semacam songket) dan topi khas Batak, memang begitu tradisinya.
Total ada tiga kali kami ber-manortor pada kesempatan itu. Namun, yang paling berkesan adalah tortor yang diiringi lagu Gemufamire versi Batak—lagu ini berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tariannya begitu energik dan atraktif. Begitu pula dengan musik dan gebukan gondang yang menggebu-gebu; begitu menarik. Tarian ini membuat kami semua bersemangat dan wajah penuh dengan canda tawa.
Saya akui, saya jatuh cinta—mungkin kami juga jatuh cinta. Saking jatuh cintanya saya dengan tortor, tarian ini sampai-sampai menjadi penghantar perpisahan kami di bus pada malam hari saat menuju Kota Medan. Semua kenangan; meliput bencana, bercanda-tawa di sore hari, mengantuk bersama mendengarkan materi, bernyanyi-nyanyi sepanjang malam, dan tingkah laku menggelikan lainnya, seolah semakin terpatri.
Begitulah. Perjalanan itu sudah berlalu dua bulan lalu. Namun kenangan bersama teman-teman, masih tergambar jelas dalam ingatan. Di sana, saya menemukan betapa indahnya persahabatan. Sebuah ingatan yang terlalu indah untuk dilupakan. (*)
Yola Sastra
Artikel ini sebelumnya pernah diterbitkan
di Surat Kabar Kampus Ganto UNP edisi 189, November—Desember 2015




