Ilustrasi: deviantart.net
Inilah kisah tentang sang pemimpi.
Yang selalu membutuhkan malam, untuk dapat terus bermimpi. Baginya siang adalah
sisi dunia yang lain. Yang terlalu hiruk dan pikuk, menghambat setiap kesenangan
duniawi.
Malam adalah yang terindah. Dari sekian
waktu yang menjegal, hanya malam yang dapat memberi sedikit mabuk pada kantuk. Yang
membuatnya hanyut dalam peluk.
Malam memberi sebuah kesunyian.
Kesunyian yang menjanjikan sebuah keintiman, menyejukkan. Ia memberikan sebuah
kekuatan bagi pemimpi untuk terus hebat dalam setiap pertarungan kehidupan. Ia memberikan
nyawa pada raga untuk tak gontai melangkahi garis nasib. Nasib dapat ditulis
ulang, direvisi, atau dihabisi—kalau ada malam.
Lalu bulan? Bulan adalah cerita
lain. Ia sahabat malam dan pemimpi yang senantiasa memberi senyum. Menyumbat keluh
dan menyinarkan harapan. Bulan datang sebagai kawan, menawarkan kelembutan.
Bila malam dan mimpi tak kunjung akur, bulanlah pengkalibrasi sejati.
![]() |
| Ilustrasi: bibeh.com |
Kadang malam cemburu akan bulan
yang terlalu rapat dengan mimpi. Tapi malam kadang tak tahu, ia membuat mimpi
jadi pencemburu. Malam selalu dipasangkan dengan siang. Sedangkan mimpi
dipasangkan dengan kehampaan.
Bila siang adalah api, malam
adalah air. Siang mengobarkan cemburu. Malam memadamkannya. Tetapi setiap
pemadaman, selalu ada asap yang mengaburkan mata memandang. Pemimpi tersesat dalam
lingkar ketidakpastian.
Pemimpi tak suka senja. Senja
adalah keraguan. Senja menggerogoti mimpi antara iya atau tidak. Entah nyata
atau ilusi. Tapi, entah kenapa, malam terlalu dekat dengan senja. Padahal ada
magrib yang selalu mengawasi.
“Kasihan pemimpi,” kata sebuah
hati.
“Hidup adalah ketidakpastian,”
kata sebuah kepala.
“Dan dia butuh kepercayaan,” kata
sebuah naluri.
Semuanya berterima. Tapi pemimpi
lebih percaya naluri. Naluri memberikan kepastian di tengah kebimbangan. Kepastian
yang menenangkan di dalam kesemuan. Dan itu lebih dari cukup untuk meyakinkan.
Bersambung….
Padang, 27 Juli 2015
Yola Sastra


