Ilustrasi: Meri Susanti
Sore ini, aku begitu kalut hingga
tersesat dalam kabut—kiriman Jambi dan sekitarnya. Aku kehilangan arah. Kepada ujung
suatu entah. Terombang-ambing tanpa tujuan, tanpa pegangan, bagai umbang yang
sekilas kuamati dibolak-balik ombak di tepian pantai sebelum malam menjelang.
Aku terjebak dalam diam. Sebuah kata
yang ingin kuucapkan kepadamu (seseorang yang ada dalam kepalaku) dengan segera
kutelan. Rasanya pahit, sepahit empedu yang akhirnya membuat lidahku bertambah kelu.
Membuatku semakin hening dalam diamku. Sementara, bergudang-gudang kata telah
antre di kerongkongan hingga ujung sebuah kepala.
Hari ini seperti puncak sebuah
kesal. Muaranya sebuah kekecewaan. Tapi, aku tak punya alasan, oleh sebab apa
aku kesal. Dan kenapa harus ada kecewa.
Aku lebih suka menyebut keadaan
ini sebuah takdir. Takdir, kata seorang tokoh—entahlah, aku lupa namanya siapa—didefinisikan
sebagai suatu keadaan yang begitu sulit didefinisikan. Takdir, katanya, berarti
suatu kondisi saat manusia tak dapat merumuskan, membuktikan, dan memastikan,
kenapa sesuatu terjadi, dan akhirnya ia menyerahkannya kepada Tuhan. Aku tak
dapat memastikan apa yang sedang terjadi. Aku juga menyerahkannya kepada Tuhan.
Untunglah, saat itu aku punya seorang
kawan yang berkerelaan mendengarkan keluhanku. Kami bercerita menghabiskan petang, bersama dua mangkuk pensi dan semangkuk
langkitang. Sembari mencucut, kami
lanjut beradu mulut. Ia, sesekali berkomentar. Sesekali memberi masukan. Sesekali
memberi pujian. Sesekali memberi dukungan. Sesekali hingga beberapa kali,
membuatku menyelipkan kepadanya sebuah senyuman.
Katanya, kalau aku kecewa karena
cinta, itu sebuah biasa. Kawanku itu berkata tentang dirinya, “Aku mencintai dia (seseorang yang ada dalam kepala kawanku itu) sampai batas kecewaku.” Bila kawanku itu berhenti mencintai kecintaannya,
berarti segitulah batas kekecewaannya.
Mestinya aku juga begitu. Mencintaimu
sampai batas kekecewaanku—andai kau tahu, batas kekecewaanku adalah saat aku
tak mampu lagi menatapmu. Kuharap aku tak pernah kecewa hingga aku bisa
menatapmu sepanjang yang aku mau—maunya.
Kawanku yang satu itu, coba
menghiburku. Hiburnya, ombak yang mencak-mencak
di hadapan kami dapat melepaskan segenap kegaduhan. Dan perkataannya bisa
menghadirkan sebuah ketenangan. Haha, terima kasih. Engkau memang pandai,
kawanku. Bagiku, ombak yang gaduh itu juga menyadarkanku, ada yang lebih gaduh,
lebih gundah, lebih ribut, lebih heboh dari segala yang ada dalam benakku. Itu membuatku
bersyukur. Sebagaimana aku bisa bersyukur terhadap kabut pagi ini yang membuatku
bisa menatap matahari—kuningnya pekat seperti telur itik mata sapi.
Waktu adalah sesuatu yang penting
dalam hidup. Bila seseorang mau meluangkan waktu untukmu, berarti kamu orang
yang penting baginya, begitu kata kawanku itu. Harusnya aku meluangkan waktu
untukmu. Agar kamu tahu, kamu begitu penting bagiku. Kuharap kamu mau
meluangkan waktu untukku. Agar aku merasa penting bagimu.
Terima kasih kawanku yang telah
mau mendengarkan ceritaku tentang kamu. Kuharap kamu membacanya.
Padang, 3 September 2015
Yola Sastra

