Kamis, 03 September 2015

Tentang Kamu pada Suatu Sore bersama Kawan

Ilustrasi: Meri Susanti

Sore ini, aku begitu kalut hingga tersesat dalam kabut—kiriman Jambi dan sekitarnya. Aku kehilangan arah. Kepada ujung suatu entah. Terombang-ambing tanpa tujuan, tanpa pegangan, bagai umbang yang sekilas kuamati dibolak-balik ombak di tepian pantai sebelum malam menjelang.
Aku terjebak dalam diam. Sebuah kata yang ingin kuucapkan kepadamu (seseorang yang ada dalam kepalaku) dengan segera kutelan. Rasanya pahit, sepahit empedu yang akhirnya membuat lidahku bertambah kelu. Membuatku semakin hening dalam diamku. Sementara, bergudang-gudang kata telah antre di kerongkongan hingga ujung sebuah kepala.
Hari ini seperti puncak sebuah kesal. Muaranya sebuah kekecewaan. Tapi, aku tak punya alasan, oleh sebab apa aku kesal. Dan kenapa harus ada kecewa.
Aku lebih suka menyebut keadaan ini sebuah takdir. Takdir, kata seorang tokoh—entahlah, aku lupa namanya siapa—didefinisikan sebagai suatu keadaan yang begitu sulit didefinisikan. Takdir, katanya, berarti suatu kondisi saat manusia tak dapat merumuskan, membuktikan, dan memastikan, kenapa sesuatu terjadi, dan akhirnya ia menyerahkannya kepada Tuhan. Aku tak dapat memastikan apa yang sedang terjadi. Aku juga menyerahkannya kepada Tuhan.
Untunglah, saat itu aku punya seorang kawan yang berkerelaan mendengarkan keluhanku. Kami bercerita menghabiskan petang, bersama dua mangkuk pensi dan semangkuk langkitang. Sembari mencucut, kami lanjut beradu mulut. Ia, sesekali berkomentar. Sesekali memberi masukan. Sesekali memberi pujian. Sesekali memberi dukungan. Sesekali hingga beberapa kali, membuatku menyelipkan kepadanya sebuah senyuman.
Katanya, kalau aku kecewa karena cinta, itu sebuah biasa. Kawanku itu berkata tentang dirinya, “Aku mencintai dia (seseorang yang ada dalam kepala kawanku itu) sampai batas kecewaku.” Bila kawanku itu berhenti mencintai kecintaannya, berarti segitulah batas kekecewaannya.
Mestinya aku juga begitu. Mencintaimu sampai batas kekecewaanku—andai kau tahu, batas kekecewaanku adalah saat aku tak mampu lagi menatapmu. Kuharap aku tak pernah kecewa hingga aku bisa menatapmu sepanjang yang aku mau—maunya.
Kawanku yang satu itu, coba menghiburku. Hiburnya, ombak yang mencak-mencak di hadapan kami dapat melepaskan segenap kegaduhan. Dan perkataannya bisa menghadirkan sebuah ketenangan. Haha, terima kasih. Engkau memang pandai, kawanku. Bagiku, ombak yang gaduh itu juga menyadarkanku, ada yang lebih gaduh, lebih gundah, lebih ribut, lebih heboh dari segala yang ada dalam benakku. Itu membuatku bersyukur. Sebagaimana aku bisa bersyukur terhadap kabut pagi ini yang membuatku bisa menatap matahari—kuningnya pekat seperti telur itik mata sapi.  
Waktu adalah sesuatu yang penting dalam hidup. Bila seseorang mau meluangkan waktu untukmu, berarti kamu orang yang penting baginya, begitu kata kawanku itu. Harusnya aku meluangkan waktu untukmu. Agar kamu tahu, kamu begitu penting bagiku. Kuharap kamu mau meluangkan waktu untukku. Agar aku merasa penting bagimu.
Terima kasih kawanku yang telah mau mendengarkan ceritaku tentang kamu. Kuharap kamu membacanya.
Padang, 3 September 2015
Yola Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar