Senin, 15 Februari 2016

Dari Shakespeare, Surianto, hingga Saiton


Apalah artinya sebuah nama? Begitu kata sebagian orang mengutip pendapat Shakespeare. Sebagian orang lainnya yang mengutip hadis berkata, nama adalah doa. Ada pula kaum nasionalis yang berkata, nama menunjukkan identitas suatu suku/bangsa. Namun kata grup band Peterpan, sebuah nama adalah sebuah cerita. Entahlah, terlalu banyak persepsi dan teori tentang nama. Pilihlah pandangan mana yang Anda suka, tetapi jangan lupa sesuaikan dengan konteksnya.
Berbicara soal nama, saya juga punya cerita. Banyak malahan. Entah kenapa nama saya kerapkali mengundang tanda tanya.
“Namamu Yola. Kenapa dipanggil Joel (Jul)?”
“Maaf sebelumnya, Bang. Yola itu nama perempuan, bukan?”
Awak laki-laki, tapi namo kok padusi?
“Kakak Yola yang mana ya?” (Kata kakak di Minang identik dengan perempuan).
Sederet pertanyaan itu kadang-kadang membuat perasaan saya seperti permen nano-nano. Manis, asam, asin, rame rasanya (jangan lupa nadanya seperti yang di iklan ya). Sekali waktu saya tertawa. Sekali waktu saya sedih. Sekali waktu saya marah. Sesekali saya juga sempat termenung. Sepertinya nama saya sebuah kutukan. Untungnya waktu itu saya ingat, nama adalah doa. “Astagfirullahaladzim.”
Perasaan yang campur aduk itu sempat membuat saya rendah diri selama beberapa tahun. Kawan-kawan yang tak terlalu enak memanggil saya dengan nama Yola, akhirnya punya nama baru buat saya. Jola atau Jol—entah bagaimana pula akhirnya bisa berujung menjadi Joel (Jul). Panggilan itu setidaknya membuat saya sedikit terhibur, meskipun tak seutuhnya menghilangkan kegelisahan saya. Pikiran itu berlanjut, sampai akhirnya, sekitar tiga tahun lalu, saya tahu apa makna dari nama Yola Sastra. Saya pun akhirnya hanya tertawa saat ada yang bertanya soal nama. Setelah saya jelaskan, akhirnya mereka mengangguk-angguk mendengarkan cerita saya.
Nama adalah identitas
Meski sempat dibuat gundah gulana karena nama, setidaknya saya tak pernah berniat untuk mengganti nama. Tidak seperti teman saya waktu sekolah dasar, yang seringkali berganti nama, bahkan sampai tiga kali—barangkali ketagihan. Waktu itu karena dia punya cukup banyak masa, kuasa, dan dana untuk ganti nama, jadilah dia mengganti nama sesukanya—waktu itu namanya jadi mirip artis, kalau tidak salah.
Jujur, saya tidak suka dengan cara yang semacam itu. Seperti tak punya identitas saja. Bagi saya nama itu identitas. Kalau orang-orang mengatakan nama Yola adalah nama perempuan, mereka salah. Yola itu nama laki-laki. Buktinya adalah saya. Saya laki-laki. Jadi tak ada alasan sebenarnya untuk tidak pede dengan nama sendiri.
 Namun, akan beda ceritanya bila itu dalam keadaan terpaksa. Seperti yang dialami saudara Tionghoa kita yang terpaksa mengganti namanya dengan nama berbau Indonesia agar tak diburu oleh penguasa semasa 1965 yang sangat benci dengan mereka. Mereka pun terpaksa melepaskan identitasnya agar dapat melanjutkan hidup.
Begitu pula ayah-bundo kita dari Minangkabau yang terpaksa memberikan nama dengan berbau kejawa-jawaan kepada anaknya setelah perang PRRI pada 1958. Konon, hal itu dilakukan dilakukan agar dapat bertahan hidup. Setelah kalah dalam perang PRRI, orang-orang Minangkabau diberantas. Alim-ulama, cadiak pandai, dan para datuak, pokoknya tokoh Minang yang punya pengaruh, semuanya dibunuh. Oleh sebab itu, orang Minang terpaksa meninggalkan identitasnya, terutama soal nama.
Nama-nama yang biasanya diberikan kepada anak, semacam Burhanuddin, Syarifuddin, Syamsul Bahri, dll., berganti dengan yang berbau Jawa, semacam Parmanto, Surianto, dan sejenisnya—meski itu tidak seutuhnya Jawa; Parmanto adalah singakatan dari Parikmalintang dan Toboh (nama daerah di Pariaman); Surianto singkatan dari Surian (nama daerah di Pesisir Selatan) dan Koto (salah satu suku di Minangkabau). Kala itu, katanya, segala urusan akan lebih mudah jika menggunakan nama bukan Minang karena saat itu Minangkabau ditaklukkan dan dikuasai oleh tentara pusat dan orang-orang Jawa (lenteratimur.com, 2012). Saat itu identitas ditanggalkan agar dapat terus hidup.
Apalah arti sebuah nama
            Cerita tentang nama saya barangkali hanya seupil dari sekian kasus tentang nama. Beberapa waktu lalu mungkin Anda pernah mendengar beberapa orang yang punya nama nyeleneh. Kasus yang pertama kali mencuat adalah seorang pria paruh baya yang menyandang nama “Tuhan”. Entah atas dasar apa orang tuanya memberikan nama Yang Maha Esa kepada anaknya itu. Sang pemilik nama juga tidak tahu apa alasannya. Kalau nama adalah doa, apakah benar “Pak Tuhan” nantinya akan punya sifat-sifat seperti Tuhan?
Setelah munculnya Tuhan, media mulai mencari-cari nama unik lainnya untuk meningkatkan rat­ing-nya. Maka kemudian muncullah nama “Saiton” sebagai tandingannya. Saiton atau setan dalam ejaan Indonesia punya konotasi buruk. Saiton mengacu kepada makhluk Tuhan yang paling ingkar. Saiton selalu mengajak manusia untuk berbuat maksiat dan menjauhi jalan yang benar. Tapi apakah kita dapat serta merta mengatakan Pak Saiton juga punya sifat persis sama seperti syaithan?
Barangkali kita tidak dapat menilai seseorang hanya dari namanya. Begitu naif rasanya hanya menilai dari sudut pandang itu. Konsep bahwa nama adalah doa, tak tepat konteksnya bila dipakai pada kasus ini. Seseorang dengan nama yang buruk belum tentu berkelakuan buruk—bukan berarti pula orang tuanya mendoakan anaknya menjadi orang buruk. Buktinya dapat kita lihat pada diri Pak Saiton. Meski namanya mirip setan, tetapi kelakuannya tak seperti setan. Pak Saiton taat beragama, berprestasi, dan bersahaja.
“Belum tentu orang yang namanya baik punya perangai yang baik,” ucap Pak Saiton dalam sebuah wawancara pada suatu media.
Memang, dalam kehidupan masyarakat pada masa kini, banyak yang punya nama-nama indah dan terhormat, namun perangainya tak sesuai nama. Ada yang punya nama Muhammad, tetapi kelakuannya tidak sedikitpun menyerupai Nabi Muhammad saw.. Contohnya politisi Muhammad Nazaruddin. Apakah terpidana korupsi punya sifat seperti nabi? Begitu pula dengan politisi Ahmad Fathanah. Apa benar dia fathanah? Ingat, nama yang baik dapat menjadi buruk karena penyandang namanya berkelakuan buruk.
Sebuah nama sebuah cerita
            Sebuah nama memang sebuah cerita. Tanpa adanya nama, barangkali tidak akan ada yang tahu siapa itu William Shakespeare setelah ia tiada. Begitu banyak cerita dan literatur yang mencantumkan namanya. Atau barangkali yang lebih sederhana, saya tidak akan pernah menuliskan esai tentang nama kepada Anda sekalian kalau nama saya tak punya cerita. Seperti kata pepatah, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Seseorang yang telah tiada, akan selalu hidup bila ia telah punya nama; namanya punya cerita; namanya punya sejarah. Nama di sini tidak hanya soal nama manusia, hal yang sama juga terjadi untuk nama-nama lainnya.
      Sebuah nama akan sangat berharga apabila punya cerita atau sejarah. Saking berharganya, tak jarang terjadi saling klaim dan sengketa memperebutkan nama. Sebut saja ada kisruh klub sepakbola di Indonesia yang berebut nama karena nama klub yang diperebutkannya sudah cukup besar di kancah sepakbola nasional. Atau ada pula perebutan nama antara dua perusahaan yang berebut nama untuk produk yang dihasilkannya. Semuanya dilakukan demikian demi prestise dan keuntungan finansial semata.
       Begitulah kalau kita bercerita soal nama. Akan selalu ada kisah yang takkan ada habisnya untuk diceritakan. Sebuah nama dapat membuat seorang menjadi ternama, tak bisa tertawa, berselisih paham, dan berbagai macam perasaan lainnya. Satu kata nama saja bisa menghasilkan berbagai cerita. Ya begitulah, namanya saja manusia. (*)

Yola Sastra
Diterbitkan dalam Antologi Esai Remaja Sumatra Barat
Satu Vespa Sejuta Saudara, "Uyee"!
 Balai Bahasa Sumatra Barat, Desember 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar