Masa liburan kadang membawa suka
dan duka. Ada yang suka. Ada pula yang berduka.
Bagi yang suka, liburan adalah saat yang menyenangkan. Liburan adalah saatnya
berlibur. Saatnya bertemu dengan keluarga, bertemu sanak famili, dan saat
bertemu dengan teman sejawat. Liburan adalah saatnya berekreasi, mengunjungi
tempat-tempat wisata, atau mengerjakan hal-hal yang menyenangkan lainnya. Lalu,
bagaimana dengan orang menganggap liburan sebagai duka?
Bagi orang yang tak dapat
berlibur, sebab rumah jauh atau ada perihal lain, liburan adalah masa-masa yang
tidak menyenangkan. Liburan adalah saat-saat yang membosankan sebab tak ada
kegiatan. Terlebih bagi mahasiswa yang kuliah di perantauan. Sudahlah tak dapat
berlibur, kerjaan pun tak ada. Sekedar maota
saja bahkan tak bisa. Bagaimana akan maota
jika lawan ota tak ada. Kadang,
liburan membuat orang sadar bahwa masa kuliah itu masa yang
menyenangkan—setidaknya tidak membosankan.
Mengunjungi tempat-tempat wisata?
Mustahil. Uang tak ada. Meski pun ada yang berbaik hati menyumbang, lagi-lagi,
tak bisa. Kawan tak ada. Macam mana nak berlibur seorang diri, seperti ayam
kehilangan induk. Kemari meraba-raba, tanpa arah dan tujuan.
Bagi yang bisa pulang, liburan
kadang juga menjadi duka. Bolehlah senang seminggu, melepas rindu kepada
keluarga. Sehabis itu? Bosan pula. Syukur-syukur ada pekerjaan yang bisa
dilakukan, setidaknya membantu orang tua. Kalau tidak? Bosan lagi. Tak ada
kawan. Sebab banyak kawan yang sedang berjuang menuntut ilmu di rantau orang.
Atau ada pula yang sedang banting tulang mencari nafkah di kampung seberang.
Kadang, karena sudah terlalu lama
di rantau orang, saat pulang kita merasa seperti orang asing. Padahal kita ada
di kampung sendiri. Butuh waktu yang lama untuk beradaptasi. Setidaknya 30
hari.
Membunuh bosan
Satu-satunya cara agar tidak
bosan saat liburan adalah dengan ‘membunuh’ bosan. Dengan melakukan hal-hal
yang bermanfaat dan menyenangkan bosan dapat terbunuh dengan sendirinya. Salah
satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah menghabiskan waktu dengan menulis.
Syukur-syukur tulisannya bagus, dapat terbit di media massa—lumayan, dapat
honor. Kalau tidak terbit? Ya sudah, setidaknya jadikan latihan menulis. Kan
tidak ada salahnya latihan. Lagi pula, sebenarnya kalau untuk jadi penulis
tidak butuh bakat. Yang dibutuhkan hanya latihan, latihan, dan latihan.
Jika
tidak suka menulis? Mungkin bisa membaca. Hitung-hitung untuk menambah wawasan.
Menambah pengetahuan. Syukur-syukur nanti iri dengan orang yang membuat bacaan,
bisa jadi motivasi untuk menulis deh.
Kalau
tidak suka menulis dan membaca bagaimana? Mungkin bisa cari alternatif lain.
Mungkin olah raga. Membakar lemak dan kalori membuat tubuh sehat dan fit. Tapi
saya sarankan, jangan pilih sepakbola. Lho, kenapa? Tidak ada kawan. Nanti
bosan. Hahaha. :D :D
Banyak
hal bermanfaat yang dapat dilakukan saat liburan. Terserah mau pilih yang mana.
Yang jelas tidak membuat bosan dan yang penting menyenangkan. Sebab, liburan
adalah waktunya untuk ‘bersenang-senang’. Saat untuk mengistirahatkan otak dan
menyegarkan pikiran.
Selamat
liburan.
Yola Sastra

