Minggu, 20 Oktober 2019

Selamat Jalan Adik Manis, Habiskan Masa Mudamu di Surga

Foto profil Alan Riza

Dapat dibilang, Oktober ini, Oktober kelabu. Begitu banyak kejadian yang bikin sedih. Mulai dari gonjang-ganjing kehidupan pribadi, masalah kerjaan, hingga fenomena alam yang tidak mengasyikkan. Namun, di antara itu semua, ada yang lebih menyesakkan: kehilangan sahabat.

Saya dalam perjalanan ke Sawahlunto, Rabu (16/10/2019) siang. Tiba-tiba saja di sebuah grup percakapan WA, saya dapat kabar salah satu sahabat lama, Fadlan Riza atau akrab disapa Alan (19), sudah tiada. Kabar duka ini membuat saya berpikir panjang selama berkendara.

Sebenarnya, kakak Alan, yang juga sahabat sebangku perkuliahan saya di Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Negeri Padang sejak 2012, sudah mengabarkan kalau Alan sedang tidak sehat. Namun, sebagaimana kabar kakaknya minggu lalu, saya kira sakitnya tidak serius. Saya terus melanjutkan perjalanan ke Sawahlunto untuk menunaikan ibadah liputan.

Bagi saya, kepergian Alan adalah kehilangan besar. Ia adik manis sekaligus sahabat yang sudah lama tak berjumpa dan tak bercerita. Meskipun lama tak berhubungan, kami tetap bersahabat--you know, tidak ada mantan sahabat.

Perkenalan saya dengan Alan bermula dari persahabatan saya dengan kakaknya. Walakin, hubungan saya dan Alan punya dimensi berbeda dengan hubungan saya dengan kakaknya. Balas membalas pesan di Facebook sejak 19 Juli 2013 menjadi pembuka jalan. Selain itu, kami juga bertukar kontak untuk berbalas SMS dan sesekali bertegur sapa lewat telpon.


duniaku.idntimes.com

Dalam korespondensi kami di kejauhan--saya kuliah di Padang, sedangkan Alan di rumahnya di Agam--kami sering berbagi cerita soal komik dan anime Doraemon, anime One Piece, dan Moto GP. Alan setahu saya adalah penggemar Marc Marquez. Saya sendiri penggemar pebalap gaek The Doctor Valentino Rossi.

Selama bertahun-tahun korespondensi, kami belum pernah bertemu sekali pun. Saya tidak pernah berkunjung ke rumahnya karena sibuk dengan kuliah. Alan, setahu dan selama berkorespondensi dengan saya, tidak pernah ke Padang karena menggunakan kursi roda. Sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah.

Kakaknya jadi perantara dalam korespondensi di kejauhan. Alan beberapa kali meminta dikirimi anime/movie Doraemon dan One Piece. Saya dengan senang hati berbagi karena dapat teman untuk berbagi keseruan dua kisah itu. Sesekali, saya yang menawarkan ke Alan kalau ada koleksi baru.



Korespondensi kami lancar hingga dua tahun. Namun, 17 Juni 2014, korespondensi kami sempat terhenti. Bermula dari kartu Alan yang rusak, salah satu nomor saya tidak lagi aktif, hingga pergeseran perilaku bermedia sosial. Pada masa itu, saya mulai meninggalkan Facebook dan beralih ke Instagram. Kesibukan saya di pers kampus barangkali turut andil.

Pada 26 Maret 2015, Alan mulai kembali membangun percakapan di Facebook:
"bang yolaaa...
Nomor hp abang indak aktif lai..??
acok alan sms tapi (ndak-red) masuak, alan telpon gai indak masuak bang..??
lah ganti nomor bang...???
T_T"

Pesan itu saya balas dengan menjelaskan kalau salah satu nomor telepon saya tidak lagi dipakai. Saya hanya punya satu slot untuk kartu. Malangnya, itu percakapan kami untuk terakhir kalinya via Facebook. Pertanyaan saya soal kabar tak pernah berbalas. Dan malangnya, saya tidak sadar karena sudah tak lagi bermain Facebook seperti dulu.

Saya baru tahu itu percakapan kami terakhir kali saat menulis artikel ini. Kesedihan mendalam di hati.

Walaupun tidak lagi berkorespondensi, beruntungnya untuk sekali seumur hidup, saya bersua dengan Alan di rumahnya. Tidak beruntungnya, kami bertemu dalam suasana bersedih. Pada 20 November 2016, saya melayat ke rumahnya. Ayahnya tiada malam sebelumnya.


duniaku.com


Dalam keramaian siang itu, saya mencari-carinya. Berupaya mencocokkan Alan dengan foto di Facebook-nya. Wajah aslinya, sebagai adik-adik manis lainnya, cerah tak berdosa. Menjelang pulang, saya menghampiri. Bersalaman. "Semangat, Lan. Bang Yola," kata saya coba memperkenalkan diri, tapi tidak yakin Alan tahu kalau itu saya.

Itu pertemuan pertama dan terakhir kami. Tidak beruntungnya lagi, kami tidak pernah bertemu di saat-saat terakhir. Kami tidak sempat saling berucap kata selamat jalan.

Ini menambah daftar penyesalan saya karena kehilangan sahabat saat tak lagi saling menyapa. Saya tak berpikir akan kehilangan Alan seperti kehilangan Nurul Suryani, sahabat dan kakak saya--saya tidak punya kakak perempuan. Mereka meninggalkan saya dalam usia yang masih sangat muda.

Selamat jalan adik manis. Habiskan masa mudamu di surga.

Rumah Ikhlas, Padang, 20 Oktober 2019

Jumat, 11 November 2016

Impresi dari Tanah Deli

Keterangan Foto: Peserta, pemateri, dan panitia Pena Persma LPM Dinamika UIN Sumatra Utara berfoto dengan anak-anak dan relawan Rumah Baca Desa Perbaji, Sabtu (24/10/2015). f/Doc.

Kabut asap mengiringi langkah saya ketika menginjakkan kaki untuk pertama kali di Tanah Deli. Sejauh mata memandang, tampak gedung-gedung, rumah-rumah, dan berbagai benda lainnya kabur disaputi asap hasil kebakaran di provinsi tetangga. Untungnya hal itu tak mengaburkan niat saya dan dua rekan lainnya sebagai perwakilan Surat Kabar Kampus Ganto UNP untuk mengikuti pelatihan nasional pers mahasiswa di UIN Sumatra Utara, Rabu—Minggu (21—25/10/2015).
Perjalanan panjang dari Kota Padang memang cukup melelahkan. Selama kurang lebih 24 jam kami harus berdesak-desakan menumpang bus antarlintas Sumatra. Belum lagi hiruk pikuk para penumpang semakin membuat gerah suasana. Hanya penasaran yang terus membuat kami bertahan. Hingga akhirnya semua terbayar lunas ketika bus berhenti di sebuah terminal di Kota Medan.
Kota ini saya sebut kota teladan. Kenapa? Karena Medan memang teladan. Ini tidak hanya karena penduduknya punya Stadion Teladan dan SMA Teladan. Ini tidak pula karena mereka memberikan nama yang nyeleneh pada makanan. Orang sana punya mie balap—barangkali cara buatnya yang balap, mungkin cara makannya harus balap, atau bisa juga makannya sambil balapan, entahlah; mie level (level 1—5), kentang ngebor, logam burger, bakso dangdut, dan nama-nama aneh lainnya. Karena itu? Bukan.
Medan jadi teladan karena masyarakatnya yang bersahabat. Boleh saja orang sana punya wajah yang sangar, logat yang keras, atau gaya bicara yang ceplas-ceplos (apa adanya), tapi tidak dengan hati mereka. Hati mereka barangkali lebih lembut dari sutra. Di samping itu, kota ini juga menjunjung tinggi toleransi dalam beragama. Dua penganut agama mayoritas di sana, Islam dan Kristen, bisa hidup rukun secara berdampingan—setidaknya inilah yang saya rasakan selama di sana.
***
Mengikuti pelatihan jurnalistik adalah tujuan utama saya mengunjungi bumi Sumatra Utara. Bersama 26 wartawan kampus lainnya dari 16 lembaga pers mahasiswa se-Indonesia, saya belajar bagaimana cara meliput di daerah bencana. Selama di tempat pelatihan—tepatnya di rumah pengasingan Bung Karno di Berastagi—kami diajarkan cara mengambil foto oleh mantan fotografer Reuters, Tarmizi Harva. Selain itu, kami juga mendapat materi tentang bagaimana meliput di daerah bencana oleh wartawan Metro TV Medan, M. Harizal; prosedur operasi standar (SOP) oleh Koordinator Daerah Prioritas Kota Medan Program Pendidikan, Bambang F. Wibowo; bencana dan penanggulangannya oleh Plt. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Karo, Matius Sembiring; dan pemateri lainnya.
Setelah mendapatkan berbagai teori seputar liputan bencana, peserta pelatihan pun diterjunkan ke lapangan untuk melakukan reportase. Liputan dilakukan di Desa Perbaji, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo. Desa ini adalah salah satu daerah yang terkena dampak dari erupsi Gunung Sinabung. Agar tetap aman selama proses peliputan, para wartawan muda tersebut ditemani oleh Bambang F. Wibowo.
Kondisi di Desa Perbaji cukup memprihatinkan. Hampir setiap hari, terutama saat hujan turun, desa dibanjiri lahar dingin dari kawah Gunung Sinabung. Sebagian besar warga Desa Perbaji yang bekerja sebagai petani saat ini kehilangan mata pencahariannya akibat bencana Gunung Sinabung dalam beberapa tahun terakhir. Ladang yang mereka tanami, seperti kopi, tomat, dan bawang, habis dirusak abu vulkanik dan banjir lahar dingin. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, banyak warga desa yang terpaksa menjadi buruh tani di desa lain karena tak bisa menggarap ladangnya sendiri.
Meski desa rawan bencana, sebagian besar warga masih memilih untuk tinggal di sana. Perbaji adalah tempat mereka dilahirkan dan dibesarkan. Nenek moyang mereka juga berasal dari sana. Tidak mungkin mereka meninggalkan dan melupakan asal-usul mereka.
Walaupun kondisi Perbaji menyiratkan cerita sedih, setidaknya ada hal yang membuat hati saya sedikit bergembira. Di desa, terdapat sebuah rumah baca lengkap dengan berbagai buku sebagai koleksinya. Katanya, hampir setiap hari anak-anak desa bermain membaca di sana. “Setidaknya mereka masih punya masa depan,” begitu kata hati saya.
***
Field trip ke Danau Toba menjadi semacam hadiah bagi saya dan rekan-rekan pers mahasiswa setelah berlatih meliput bencana. Dengan menumpang kapal feri sekitar satu jam perjalanan dari Kelurahan Prapat, kami menuju Huta Siallagan, sebuah kampung yang terdapat di Desa Ambarita, Kecamatan Simanindo, Pulau Samosir. Sayangnya, di sepanjang perjalanan kami gagal menikmati indahnya pesona Danau Toba karena tertutup oleh tebalnya kabut asap. Namun, itu bukanlah soal. Saya masih tetap bisa menikmati wisata budaya selama berada di sana.
Di Kampung Siallagan saya jatuh cinta dengan tortor. Tarian ini seolah menjadi candu yang tak pernah lepas dari ingatan; ia begitu berkesan. Di sela-sela menyimak cerita pemandu wisata seputar Huta Siallagan—mulai dari cerita seputar rumah adat hingga orang Batak makan orang—kami mendapat kesempatan untuk manortor (menari tortor). Sebelum menari, penari harus mengenakan ulos (semacam songket) dan topi khas Batak, memang begitu tradisinya.
Total ada tiga kali kami ber-manortor pada kesempatan itu. Namun, yang paling berkesan adalah tortor yang diiringi lagu Gemufamire versi Batak—lagu ini berasal dari Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tariannya begitu energik dan atraktif. Begitu pula dengan musik dan gebukan gondang yang menggebu-gebu; begitu menarik. Tarian ini membuat kami semua bersemangat dan wajah penuh dengan canda tawa.
Saya akui, saya jatuh cinta—mungkin kami juga jatuh cinta. Saking jatuh cintanya saya dengan tortor, tarian ini sampai-sampai menjadi penghantar perpisahan kami di bus pada malam hari saat menuju Kota Medan. Semua kenangan; meliput bencana, bercanda-tawa di sore hari, mengantuk bersama mendengarkan materi, bernyanyi-nyanyi sepanjang malam, dan tingkah laku menggelikan lainnya, seolah semakin terpatri.
Begitulah. Perjalanan itu sudah berlalu dua bulan lalu. Namun kenangan bersama teman-teman, masih tergambar jelas dalam ingatan. Di sana, saya menemukan betapa indahnya persahabatan. Sebuah ingatan yang terlalu indah untuk dilupakan. (*)

Yola Sastra
Artikel ini sebelumnya pernah diterbitkan 
di Surat Kabar Kampus Ganto UNP edisi 189, NovemberDesember 2015

Sabtu, 16 April 2016

Tentang Banjir dan Air yang Tak Kunjung Mengalir

Ilustrasi: Yola Sastra

“Bagaikan menampung air nira, besok penuhnya.” Begitu gerutu saya sekitar sebulan lalu tentang aliran air langganan. Kala itu saya akan mandi hendak pergi ke kampus. Gerutuan itu sempat pula saya tuliskan pada pesan pribadi di aplikasi BBM dan menuai berbagai respon dari teman-teman di kontak saya. Ada yang menanggapi dengan lucu, ada yang mengeluh, tapi ada pula yang menerangkan bahwa penyedia jasa air langganan itu sedang mengalami sedikit kerusakan. Namun, saya tidak menghiraukan jawaban terakhir. Bagi saya, yang penting air mengalir deras, bisa mandi, dan berangkat ke kampus. Saya tetap menggerutu.
Permasalahan itu berlangsung lebih kurang seminggu. Hingga akhirnya masalah tersebut berakhir. Masalah tersebut berakhir seperti aliran air yang juga berhenti mengalir. Masalah baru mengakhiri masalah yang lama.
Sekitar dua minggu lalu, hujan lebat membasahi bumi Kota Padang yang gersang. Sebagian orang menyambutnya dengan suka cita. Bagi kami—saya dan kawan-kawan di kontrakan—yang kekurangan air, hujan waktu itu adalah berkah. Mengakhiri dahaga selama masa paceklik air yang gerah. Akan tetapi, suka cita kemudian berganti duka cita. Hujan yang tak kunjung berhenti sejak sore sampai esok pagi bagai bencana yang tak terduga. Sebagian besar rumah penduduk yang berada di dataran rendah tenggelam dilanda banjir. Barang-barang elektronik, berkas-berkas, dan berbagai macam perkakas yang tak terselamatkan mengalami kerusakan. Tak sedikit warga akhirnya memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Kontrakan kami yang berada di daerah Air Tawar Barat juga mengalami hal yang sama. Tapi, bagi kami, hal seperti ini sudah lumrah. Rumah kami langganan banjir. Hujan sedang saja sudah cukup membuat kami tenggelam. Apalagi hujan lebat, makin karam.
Peringatan Tuhan
“Ini peringatan Tuhan agar kita membersihkan kamar.” Salah seorang kawan berceletuk. Saya dan kawan-kawan yang lain tertawa dan saling menyindir. Beginilah kontrakan kami. Kali terakhir membersihkan kamar adalah sekitar dua bulan lalu—kalau tidak salah waktu itu rumah kami dilanda banjir.
Tatkala hujan mulai berhenti, kami mulai bergegas membersihkan rumah. Air dibuang keluar. Lantai dipel, bersih, mengkilap. Rumah tampak bersih dan enak dipandang. Seketika kami lega, semua kembali seperti semula.
Sayangnya, seperti ujian sekolah, selesai satu soal, bukan berarti semua soal telah selesai. Setelah soal nomor satu selesai, selalu ada soal nomor dua. Biasanya soal nomor dua lebih sulit daripada soal pertama. Setelah kami dianugerahi air yang melimpah ruah, Tuhan kembali mengambilnya. Semuanya.
Air langganan kami tak lagi mengalir. Bahkan tak setetes pun. Ini lebih buruk daripada tiga minggu lalu.
Kami mendapat kabar bahwa banjir di Kota Padang kali ini adalah yang terparah dalam periode satu tahun ini. Banjir tidak hanya merendam perumahan warga, tetapi juga merusak berbagai aset lainnya, seperti rusaknya pipa air langganan kami. Bagi kami yang tak bersumur ini, kabar itu adalah bencana. Kabar itu berarti tidak mandi, tidak mencuci, dan tidak ke kampus. Kami tidak berani ke kampus kalau tidak gosok gigi.
Kabarnya paceklik air ini berlangsung dua hari. Rekan-rekan serumah yang cukup beruang memilih mandi dengan air galon. Segalon sekali mandi. Tukang galon kebanjiran rezeki. Bagi saya dan rekan lainnya, yang untuk memilih menu makan harian saja harus berpikir dua kali, memilih mandi di kampus kami.
Tiga hari kemudian. Kabarnya paceklik air berlangsung tujuh hari. Rekan-rekan yang cukup beruang mulai kehabisan uang. Mereka tak sanggup lagi membeli air galon untuk mandi. Jadilah air masjid setempat menjadi solusi. Dengan sepeda motor pribadi, mereka silih berganti menjemput air mandi.
Sehari berselang air langganan mengadakan pembagian air ke rumah-rumah warga. Kami turut bersuka cita dan ikut menampung air dari sana. Berember-ember air kami angkut dengan becak pinjaman dari tetangga.
Pilihan yang sulit
Pilih mana, air mati atau listrik mati? Pertanyaan itu adalah pilihan yang sulit, terutama bagi anak muda dan mahasiswa seperti kami. Tidak ada air berarti tidak mandi. Namun, tidak ada listrik berarti tidak bisa mengerjakan skripsi.
Satu dua rekan ada yang menjawab pertanyaan yang saya bagikan di pesan pribadi BBM itu. Mereka memilih listrik mati. Apa pasal? Listrik mati bisa diakali. Bisa menumpang ke tempat teman yang listriknya tidak mati. Listrik biasanya mati bergilir. Kita bisa berpindah sesuai alur pemadaman bergilir. Kalau air mati? Apa sanggup menumpang mandi dan mencuci setiap hari?
Masa-masa sulit membuat hubungan persahabatan menjadi sulit. Kesulitan dalam mendapatkan air membuat pertikaian semakin sengit. Ketidakadilan dalam penggunaan air mulai menguji kesabaran. Ada yang tak merasa bersalah. Ada yang merasa dirugikan. Air menjadi komoditi utama yang menyulut berbagai pertengkaran. Untungnya kami cukup dewasa untuk menyelesaikannya. Tidak seperti petinggi sepakbola dan olahraga yang tak cukup dewasa dalam menyelesaikan masalahnya, bahkan hingga saat ini.
Paceklik ini membangkitkan ingatan kami kala sebelumnya yang berfoya-foya dengan air ketika mandi. Tak pernah memikirkan bagaimana nanti kalau tidak ada air. Dan bayangkan, di kala sulit, kami bisa mandi hanya dengan seember air, padahal biasanya sepuas-puasnya. Dan Tuhan mahakuasa.
Tuhan punya rencana yang tak dapat diduga. Awalnya kami berkeluh-kesah karena aliran air langganan yang tak seberapa. Kemudian nikmat yang sedikit itu diambil, hingga semua semakin sulit. Di tengah masa sulit itu Tuhan menguji kami. Apakah mampu bertahan atau mengalah? Setelah melalui itu semua, air kembali mengalir sedikit demi sedikit. Meski air baru mengalir pada tengah malam, tapi kami bersyukur, padahal keadaan saat ini lebih buruk daripada tiga minggu lalu. Hingga akhirnya air kembali mengalir seperti sedia kala; perasaan kami bahagia tak terkira. Begitulah cara Tuhan mengajarkan cara bersyukur kepada kami. 
Yola Sastra
Dimuat dalam Surat Kabar Singgalang Minggu10 April 2016
dengan judul "Tentang Air, Banjir dan Keluh Kesah Mahasiswa"



Senin, 15 Februari 2016

Dari Shakespeare, Surianto, hingga Saiton


Apalah artinya sebuah nama? Begitu kata sebagian orang mengutip pendapat Shakespeare. Sebagian orang lainnya yang mengutip hadis berkata, nama adalah doa. Ada pula kaum nasionalis yang berkata, nama menunjukkan identitas suatu suku/bangsa. Namun kata grup band Peterpan, sebuah nama adalah sebuah cerita. Entahlah, terlalu banyak persepsi dan teori tentang nama. Pilihlah pandangan mana yang Anda suka, tetapi jangan lupa sesuaikan dengan konteksnya.
Berbicara soal nama, saya juga punya cerita. Banyak malahan. Entah kenapa nama saya kerapkali mengundang tanda tanya.
“Namamu Yola. Kenapa dipanggil Joel (Jul)?”
“Maaf sebelumnya, Bang. Yola itu nama perempuan, bukan?”
Awak laki-laki, tapi namo kok padusi?
“Kakak Yola yang mana ya?” (Kata kakak di Minang identik dengan perempuan).
Sederet pertanyaan itu kadang-kadang membuat perasaan saya seperti permen nano-nano. Manis, asam, asin, rame rasanya (jangan lupa nadanya seperti yang di iklan ya). Sekali waktu saya tertawa. Sekali waktu saya sedih. Sekali waktu saya marah. Sesekali saya juga sempat termenung. Sepertinya nama saya sebuah kutukan. Untungnya waktu itu saya ingat, nama adalah doa. “Astagfirullahaladzim.”
Perasaan yang campur aduk itu sempat membuat saya rendah diri selama beberapa tahun. Kawan-kawan yang tak terlalu enak memanggil saya dengan nama Yola, akhirnya punya nama baru buat saya. Jola atau Jol—entah bagaimana pula akhirnya bisa berujung menjadi Joel (Jul). Panggilan itu setidaknya membuat saya sedikit terhibur, meskipun tak seutuhnya menghilangkan kegelisahan saya. Pikiran itu berlanjut, sampai akhirnya, sekitar tiga tahun lalu, saya tahu apa makna dari nama Yola Sastra. Saya pun akhirnya hanya tertawa saat ada yang bertanya soal nama. Setelah saya jelaskan, akhirnya mereka mengangguk-angguk mendengarkan cerita saya.
Nama adalah identitas
Meski sempat dibuat gundah gulana karena nama, setidaknya saya tak pernah berniat untuk mengganti nama. Tidak seperti teman saya waktu sekolah dasar, yang seringkali berganti nama, bahkan sampai tiga kali—barangkali ketagihan. Waktu itu karena dia punya cukup banyak masa, kuasa, dan dana untuk ganti nama, jadilah dia mengganti nama sesukanya—waktu itu namanya jadi mirip artis, kalau tidak salah.
Jujur, saya tidak suka dengan cara yang semacam itu. Seperti tak punya identitas saja. Bagi saya nama itu identitas. Kalau orang-orang mengatakan nama Yola adalah nama perempuan, mereka salah. Yola itu nama laki-laki. Buktinya adalah saya. Saya laki-laki. Jadi tak ada alasan sebenarnya untuk tidak pede dengan nama sendiri.
 Namun, akan beda ceritanya bila itu dalam keadaan terpaksa. Seperti yang dialami saudara Tionghoa kita yang terpaksa mengganti namanya dengan nama berbau Indonesia agar tak diburu oleh penguasa semasa 1965 yang sangat benci dengan mereka. Mereka pun terpaksa melepaskan identitasnya agar dapat melanjutkan hidup.
Begitu pula ayah-bundo kita dari Minangkabau yang terpaksa memberikan nama dengan berbau kejawa-jawaan kepada anaknya setelah perang PRRI pada 1958. Konon, hal itu dilakukan dilakukan agar dapat bertahan hidup. Setelah kalah dalam perang PRRI, orang-orang Minangkabau diberantas. Alim-ulama, cadiak pandai, dan para datuak, pokoknya tokoh Minang yang punya pengaruh, semuanya dibunuh. Oleh sebab itu, orang Minang terpaksa meninggalkan identitasnya, terutama soal nama.
Nama-nama yang biasanya diberikan kepada anak, semacam Burhanuddin, Syarifuddin, Syamsul Bahri, dll., berganti dengan yang berbau Jawa, semacam Parmanto, Surianto, dan sejenisnya—meski itu tidak seutuhnya Jawa; Parmanto adalah singakatan dari Parikmalintang dan Toboh (nama daerah di Pariaman); Surianto singkatan dari Surian (nama daerah di Pesisir Selatan) dan Koto (salah satu suku di Minangkabau). Kala itu, katanya, segala urusan akan lebih mudah jika menggunakan nama bukan Minang karena saat itu Minangkabau ditaklukkan dan dikuasai oleh tentara pusat dan orang-orang Jawa (lenteratimur.com, 2012). Saat itu identitas ditanggalkan agar dapat terus hidup.
Apalah arti sebuah nama
            Cerita tentang nama saya barangkali hanya seupil dari sekian kasus tentang nama. Beberapa waktu lalu mungkin Anda pernah mendengar beberapa orang yang punya nama nyeleneh. Kasus yang pertama kali mencuat adalah seorang pria paruh baya yang menyandang nama “Tuhan”. Entah atas dasar apa orang tuanya memberikan nama Yang Maha Esa kepada anaknya itu. Sang pemilik nama juga tidak tahu apa alasannya. Kalau nama adalah doa, apakah benar “Pak Tuhan” nantinya akan punya sifat-sifat seperti Tuhan?
Setelah munculnya Tuhan, media mulai mencari-cari nama unik lainnya untuk meningkatkan rat­ing-nya. Maka kemudian muncullah nama “Saiton” sebagai tandingannya. Saiton atau setan dalam ejaan Indonesia punya konotasi buruk. Saiton mengacu kepada makhluk Tuhan yang paling ingkar. Saiton selalu mengajak manusia untuk berbuat maksiat dan menjauhi jalan yang benar. Tapi apakah kita dapat serta merta mengatakan Pak Saiton juga punya sifat persis sama seperti syaithan?
Barangkali kita tidak dapat menilai seseorang hanya dari namanya. Begitu naif rasanya hanya menilai dari sudut pandang itu. Konsep bahwa nama adalah doa, tak tepat konteksnya bila dipakai pada kasus ini. Seseorang dengan nama yang buruk belum tentu berkelakuan buruk—bukan berarti pula orang tuanya mendoakan anaknya menjadi orang buruk. Buktinya dapat kita lihat pada diri Pak Saiton. Meski namanya mirip setan, tetapi kelakuannya tak seperti setan. Pak Saiton taat beragama, berprestasi, dan bersahaja.
“Belum tentu orang yang namanya baik punya perangai yang baik,” ucap Pak Saiton dalam sebuah wawancara pada suatu media.
Memang, dalam kehidupan masyarakat pada masa kini, banyak yang punya nama-nama indah dan terhormat, namun perangainya tak sesuai nama. Ada yang punya nama Muhammad, tetapi kelakuannya tidak sedikitpun menyerupai Nabi Muhammad saw.. Contohnya politisi Muhammad Nazaruddin. Apakah terpidana korupsi punya sifat seperti nabi? Begitu pula dengan politisi Ahmad Fathanah. Apa benar dia fathanah? Ingat, nama yang baik dapat menjadi buruk karena penyandang namanya berkelakuan buruk.
Sebuah nama sebuah cerita
            Sebuah nama memang sebuah cerita. Tanpa adanya nama, barangkali tidak akan ada yang tahu siapa itu William Shakespeare setelah ia tiada. Begitu banyak cerita dan literatur yang mencantumkan namanya. Atau barangkali yang lebih sederhana, saya tidak akan pernah menuliskan esai tentang nama kepada Anda sekalian kalau nama saya tak punya cerita. Seperti kata pepatah, harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama. Seseorang yang telah tiada, akan selalu hidup bila ia telah punya nama; namanya punya cerita; namanya punya sejarah. Nama di sini tidak hanya soal nama manusia, hal yang sama juga terjadi untuk nama-nama lainnya.
      Sebuah nama akan sangat berharga apabila punya cerita atau sejarah. Saking berharganya, tak jarang terjadi saling klaim dan sengketa memperebutkan nama. Sebut saja ada kisruh klub sepakbola di Indonesia yang berebut nama karena nama klub yang diperebutkannya sudah cukup besar di kancah sepakbola nasional. Atau ada pula perebutan nama antara dua perusahaan yang berebut nama untuk produk yang dihasilkannya. Semuanya dilakukan demikian demi prestise dan keuntungan finansial semata.
       Begitulah kalau kita bercerita soal nama. Akan selalu ada kisah yang takkan ada habisnya untuk diceritakan. Sebuah nama dapat membuat seorang menjadi ternama, tak bisa tertawa, berselisih paham, dan berbagai macam perasaan lainnya. Satu kata nama saja bisa menghasilkan berbagai cerita. Ya begitulah, namanya saja manusia. (*)

Yola Sastra
Diterbitkan dalam Antologi Esai Remaja Sumatra Barat
Satu Vespa Sejuta Saudara, "Uyee"!
 Balai Bahasa Sumatra Barat, Desember 2015

Sabtu, 13 Februari 2016

Anjing

Ilustrasi: http://4.bp.blogspot.com

Anjing adalah jawaban dari pertanyaan hewan apa yang paling setia. Karena kesetiaannya itu, ia rela sepanjang hari menjaga rumah majikannya. Anjing akan dengan senang hati menggonggong apabila rumah majikannya itu dalam keadaan tidak aman. Barangkali, ada maling atau orang yang dicurigai sebagai maling menyatroni kediaman tuannya. Bahkan tak jarang terdengar kisah tentang anjing yang rela mati demi menyelamatkan tuannya dari tindakan perampokan dan berbagai tindak kejahatannya.
Dalam negara demokrasi, juga ada yang berperan sebagai ‘anjing’. Sebutannya, anjing penjaga (watch dog) yang diemban oleh pers. Pers merupakan pilar keempat demokrasi setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Sesuai perannya, pers memang menjadi anjing yang menjaga berjalannya roda demokrasi di Indonesia. Pers berperan sebagai kontrol sosial. Jika ada yang tidak berjalan sebagaimana mestinya, pers akan melapor kepada majikannya, masyarakat.
Hal yang sama juga ada di tingkat kampus. Kampus juga punya anjing penjaga. Namanya pers mahasiswa. Kedudukannya sama dengan pers biasa. Menjadi kontrol sosial di tempat ia berada. Bedanya, jika pers umum dijalankan oleh wartawan profesional, pers mahasiswa dijalankan oleh mahasiswa yang semiprofesional. Kendati belum sepenuhnya profesional, kualitas karya yang dihasilkan pers mahasiswa sama, bahkan ada yang melebihi media yang profesional lainnya. Hanya saja, yang menjalankannya masih berstatus mahasiswa.
Akan tetapi, belakangan ini, kedua ‘anjing’ itu seolah-olah sudah berganti majikan. Mereka sepertinya bukan lagi milik masyarakat. Mereka bukan lagi milik kebenaran. Pers umum dikekang oleh para pemilik modal. Kebebasan wartawan untuk menjalankan tugasnya dibatasi. Wartawan yang asal muasalnya adalah pembela kebenaran, terpaksa mengikuti daripada tak diberi makan. Semua berita harus sesuai dengan keinginan para pemilik kepentingan.
Begitu pula dengan pers mahasiswa. Tak sedikit pers mahasiswa yang dikekang oleh para petinggi kampus. Seperti yang terjadi pada Pers Mahasiswa Lentera Universitas Kristen Satya Wacana yang beberapa waktu lalu dibredel rektornya sendiri karena memuat laporan yang tak sesuai dengan keinginan—rektor berdalih bahwa para awak Lentera tak melaporkan konten majalahnya sebelum cetak.
Pada kasus lain, jika ada pemberitaan pers mahasiswa yang sedikit tajam, langsung dikecam dan diancam. “Besok tak dikasih dana untuk cetak,” kata para pengancam—padahal dananya adalah dana kemahasiswaan hasil sumbangan UKT mahasiswa. “Janganlah kritis-kritis amat,” kata sebagian lainnya—padahal apa yang dilaporkan oleh para wartawan kampus adalah untuk kepentingan masyarakat kampus. Dan dari mana pula datang logikanya mahasiswa diminta untuk tidak kritis, sementara itulah marwah dan jati dirinya.
Kembali lagi, pers mahasiswa adalah kontrol sosial di lingkungan kampus, bukan corong pemilik kekuasaan untuk menyuarakan berbagai kepentingan. Pers mahasiswa melaporkan hal-hal yang tidak beres di kampus agar segera diperbaiki. Pers mahasiswa melaporkan berbagai tindakan yang tak sesuai aturan untuk segera diluruskan, terutama apabila mahasiswa yang dirugikan.
Semoga kedua anjing itu segera dikembalikan kepada pemiliknya. Pers dan pers mahasiswa adalah milik masyarakat. Masyarakat umum dan masyarakat kampus. Bukan milik para pemilik modal. Bukan milik para petinggi kampus.
Dan dengarlah wahai para anjing, kembalilah kepada tuanmu. Bila ada yang tidak beres bertindaklah. Menggonggonglah. Demi kebenaran! (*)

Yola Sastra
Dimuat dalam SKK Ganto edisi 188 Oktober 2015

Kamis, 14 Januari 2016

Cahaya Matahari Lahir Hari Ini

Ilustrasi: http://id.gutbilder.com/


Hari ini Kamis, 14 Januari 2016. Dua puluh empat tahun lalu, sebuah Cahaya Matahari lahir. Meski kecil, ia mencerahkan. Mencerahkan siangku yang kelabu.

Aku ingat betul, seorang yang kau panggil Abang mengenalkanku padamu. Waktu itu, awal 2012. Katanya, kita sejurusan. Jadilah ini sebagai pemicu aku mencarimu.

Tersebutlah pada sebuah siang, kita berkenalan. Di bawah pencakar langit kampus ungu. Berbagai sorot mata mengarah padamu—tentu juga kepadaku. Tapi kita tak ambil pusing, begitu banyak hal yang memusingkan yang perlu kita pikirkan.

Katamu aku hadir sebagai sedikit harapan. Sedahan kayu, yang setidaknya dapat melindungi tubuh mungilmu di kala hujan.

Waktu itu, sebuah masalah akan pencarian kekasih abadi menerpamu. Adalah aku—katamu—yang setidaknya mau mendengarkan apa yang kamu kesahkan. Dan itu berlanjut, berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan. Hingga akhirnya tercetuslah sebuah harapan, aku pendengarmu; kamu pendengarku.

Setidaknya kehadiranku—katamu—menghadirkan sebuah tenaga yang membangkitkanmu dari titik paling rendah dalam hidupmu. Hingga kamu menghadiahkan aku sebuah sajak, sebagai bukti bahwa aku adalah saudaramu yang terlahir dari ayah dan rahim yang berbeda.

I NEED SOME POWER

Jika harus jujur
hal apa yang dapat membuatku bahagia dan tersenyum,
aku akan menjawab
aku tak ingin dilukai
aku tak ingin melihat kesombongan, keangkuhan
aku tak ingin dianggap rendah
Saat ini
Keangkuhan sedang kuhadapi
kebutaan seseorang terhadap kata
Ia menutup mata hatinya untuk segalanya
segalanya yang dulu selalu ada di belakangnya
Bahkan ia menutupnya untuk orang yang paling berjasa dalam hidupnya
Saat ini dan selamanya
aku hanya ingin bebas darinya tanpa harus beranjak darinya
aku akan menangguhkan hatiku untuk segalanya
aku tak ingin lemah di hadapnnya.
Untuk saat ini
aku ingin bersyukur
aku memiliki secercah cahaya
Membangkitkan aku dari keterpurukanku
Mengangkatku dari jatuhku
Selamatkan aku dari hancur itu.
Terima kasih adikku…
Semoga segala kebaikanmu dibalas Allah
dan semoga saja aku jadi saudaramu
saudara yang sanggup membuatmu bahagia.
Selamanya….
Tak ada simbol apapun untuk mengungkapkan terima kasihku
Hanya waktu yang kupunya, saat ini milikmu saudaraku…
Kasih sayang dari saudara
Hanya itu yang sanggup kuberi
Dan sebuah janjiku padamu
Untuk selalu ada di sisimu…

Terima kasih My Sastra Brother

Februari 2012
NS



Dalam belasan bulan setelah itu, kita hidup dalam sebuah fase kenormalan—tertawa, menangis, bermain, bersenandung, berharap, berjuang, berdiaman, bermaafan, berbaikan, dan berber lainnya. 

Semuanya kita lewati setiap hari.

Hingga akhirnya suatu hari, sebuah rumah mengalihkan dimensiku. Sebuah rumah berdinding yang perlahan membatasiku memandangimu. Perlahan-lahan, aku mulai membelakangi. Dan kamu terlalu lelah untuk meneriaki. Itu berlangsung berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Hingga kamu tamat. Dan tak setangkai bunga pun sempat kuantarkan kepadamu.

Aku terlalu malu untuk menampakkan wajah padamu.

Sesekali, aku masih mengintip ke balik dindingmu. Cuma sesekali. Habis itu tak lagi. Maaf aku terlalu sibuk dengan duniaku. Dan kamu sepertinya sudah menemukan saudara lainnya yang lebih bisa mendengarkanmu di setiap hari-harimu.

Aku terlalu malu untuk menampakkan wajah padamu.

Entah berapa tahun aku menghilangkanmu dari kepalaku. Entah berapa tahun pula aku tak berusaha mencarimu di kepalaku. Tapi aku yakin, kamu masih ada. Hingga sebuah petaka datang mendera.

Suatu hari di pertengahan September tahun lalu, sebuah kabar menghunus jantungku. Saat itu aku baru pulang dari rumahku. Beberapa detik, aku tak bisa berkata, tak bisa berpikir, tak bisa berbicara; tak bisa apa-apa. Bahkan untuk sekadar menintikkan air mata aku tak bisa. Air itu terlalu kering; habis mengalir, membanjiri relung jiwaku yang kosong sebab lama tak kamu tinggali.

Dua puluh empat kini tak jadi. Hanya sebuah doa dengan sepenuh hati, kubisikkan pagi ini. Semoga dapat menjadi penghibur hati dan menemanimu di ruang sepi.

Maaf, aku tak sempat membisikkan kata “maaf” ke telingamu.

Rumah Sepi, 14 Januari 2016
Yola Sastra


NB: Maaf aku tak menepati janji untuk mengundangmu di hari kelulusanku nanti.