Sabtu, 25 April 2015

Nan Pandai

Ilustrasi: http://4.bp.blogspot.com/

Jenuh tidak ada pekerjaan setelah lebaran, akhirnya saya putuskan untuk ikut menjemput pasir dengan Pak Etek. Dengan mobil pick up kecil kami menyusuri jalan menuju daerah Lubuak Batingkok, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota. Di tepi Sungai Sinamar, tampak para penambang sedang memuat pasir ke atas bak mobil. Tiga mobil berjejer di tepian itu. Ada pick up, ada juga truk ukuran besar. Dari arah lain, di hulu sungai, tampak seorang penambang membawa hasil jerihnya dengan sampan sambil sesekali mendayung.
Asyik mengamati para penambang bekerja, saya tergelitik mendengar celotehan salah seorang pemilik mobil. Tampak tiga orang laki-laki paruh baya sedang maota ditemani segelas kopi di sisi masing-masing.
Ceritanya tentang bersawah. Salah seorang paota berkata, lebih baik menyuruh orang yang tidak pandai bersawah daripada orang yang pandai. Dua paota lainnya termenung. Kenapa demikian?
Nan tidak pandai akan bekerja lebih baik daripada nan pandai. Misalnya saja mencangkul sawah. Nan tidak pandai akan mencangkul tunggul padi sampai hancur—karena tidak tahu trik. Sehingga lumpur sawah akan lebur dan menyatu dengan tunggul. Lumpur menjadi lembur. Dan padi akan tumbuh subur. Memperkerjakan nan tidak pandai juga menghemat biaya. Nan tidak pandai bisa dibayar murah karena kurang pengalaman. Namun pekerjaannya dinilai lebih efektif dan efisien bagi pemilik sawah.
Sedangkan nan pandai—banyak pengalaman—punya trik-trik sendiri agar pekerjaannya lebih mudah. Apabila mencangkul, nan pandai tidak akan mencangkul tunggul sampai habis. Cukup dengan membalik tunggul dua kali balik, kerja pun selesai. Memang terlihat bersih di atas permukaan, namun tunggul dan lumpur tidak lebur sehingga pertumbuhan padi terhambat. Memperkerjakan nan pandai akan memboroskan biaya. Bayaran mahal, namun hasil tak maksimal.
Sesaat saya merenung. Menimbang benar tidaknya pernyataan itu. Namun karena kekurangan waktu berpikir—atau barangkali sedang tidak mau berpikir—saya pun menunda memikirkannya.
Setelah tiga puluh menit menunggu, pasir kami pun selesai dimuat. Saatnya untuk mengangkut pasir pulang. Di tengah perjalanan, cerita tentang nan pandai pun berlanjut. Kali ini Pak Etek yang memulai. “Beginilah orang nan pandai bekerja,” celetuknya. Dan kali ini, saya pula yang tercengang seperti dua paota tadi.
Kata Pak Etek, pasir yang kami angkut lebih ringan dari sebelumnya. Ini tentu ada kaitannya dengan kisah nan pandai tadi. Orang nan tidak pandai akan memuat pasir dengan bertumpuk-tumpuk. Dengan demikian pasir yang dinaikkan menjadi padat dan isinya sudah tentu banyak. Sedangkan nan pandai akan menaikkan pasir dengan mengirai. Dengan demikian pasir yang naik ke mobil menjadi gembur. Pasir yang dimuat akan lebih sedikit. Beban akan lebih ringan dan pekerjaan penambang tentu juga lebih ringan.
Lalu, pada tataran lebih tinggi ada pula kisah nan pandai. Semisal pegawai negeri atau pejabat negara lainnya. Banyak kita dapati PNS senior—tentunya sudah pandai—bekerja dengan santai. Pandai bermain dengan aturan, namun hidupnya sangat permai. Sedangkan PNS baru akan berusaha bekerja keras. Menunjukkan dedikasinya untuk perubahan. Namun karena dianggap belum pandai, usaha itu kurang dihargai.
Ada pula kisah tentang beberapa anggota DPR yang tentu saja sudah pandai. Pandai memikat hati rakyat. Pandai membuat peraturan. Tapi, pandai juga mencuri-curi waktu untuk tidur di tengah-tengah jam rapat. Kerja santai, nasib permai.
Begitulah fenomena orang pandai. Semakin tinggi sekolah semakin pandai. Kerja semakin santai. Hidup pun semakin permai. Tapi ingat pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, sesekali tentu akan tergerapai juga.
Payakumbuh, 31 Oktober 2014

Yola Sastra

Jumat, 24 April 2015

Ibu itu, Aneh!


Ilustrasi: kapanlagi.com

Ibu itu, yang berkaca mata persegi, berkumis tipis, dan berbaju coklat dengan stelan jilbab hitam pudar, gelisah di bangku bagian belakang Trans Padang. Seorang laki-laki dewasa, kira-kita 28 tahun, tiba-tiba duduk di sebelahnya. Mata ibu itu jadi tak henti-henti mendelik curiga. Ia berhati-hati, menjaga agar tak sesenti pun tubuhnya tersentuh oleh laki-laki itu.
Sebelumnya, ia damai. Tenggelam dengan buku Suamiku adalah Surgaku yang dibacanya sejak saya mengamati dua menit lalu. Namun, ketenangan segera berubah setelah penumpang sebelahnya pergi dan si laki-laki berkumis tipis itu datang.
            Ibu itu, seolah-olah merasa ada yang ingin menyergap. Raut wajahnya selalu awas. Beruntunglah penderitaannya berakhir. Akhirnya ibu itu pindah, setelah ada penumpang di kursi seberang yang turun di salah satu perhentian.
            Bagi saya, ibu itu aneh. Entahlah, saya jarang, bahkan belum pernah bertemu dengan orang seperti dia. Biasanya, laki-laki dan perempuan, tak pernah peduli, bagian tubuhnya bersentuhan atau tidak dengan lawan jenisnya masing-masing. Hal itu sepertinya sudah lumrah di kampung Malinkundang ini. Dalam hati, saya menerka-nerka, barangkali ada kisah traumatik yang selalu menghantui ibu itu. Saya belum dapat menyimpulkan. Siapa yang aneh. Apakah ibu itu? Atau lingkungannya? Kadang bila kita terjebak di antara sekian banyak orang aneh, kita dianggap aneh.
            Bus berhenti lagi. Saya tidak tahu, terminal apa namanya. Beberapa penumpang naik berdesak-desakan. Rombongan itu terbagi dua. Separuh pergi ke depan. Sisanya duduk atau berdiri di belakang.
Seorang bapak berbadan besar tinggi, berbaju oranye, dengan rambut mulai beruban, berdiri tepat di depan si ibu. Ibu itu terancam lagi. Matanya tak henti-henti mendelik sang bapak. Kakinya bergerak-gerak kaku, menghindari kemungkinan bersentuhan dengan lawan jenisnya itu. Penumpang lainnya, walaupun seperti acuh, mulai memandangi sang ibu. Benarkah dia aneh? Saya mulai terpengaruh. Saya pikir ibu itu benar-benar aneh. Pikir saya, biasa saja bila laki-laki dan perempuan itu bersentuhan karena keadaan yang berdesak-desakan di atas angkutan umum. Tuhan pasti tahu, tidak ada yang berlaku macam-macam. Tidak ada niat. Mungkin ibu itu terlalu berlebihan. Dan…, sedikit aneh.
Saya tak henti-hentinya mengamati ibu itu. Penasaran. Apa ia benar-benar aneh? Dari yang saya lihat, ibu itu berwajah teduh. Sosok ibu penyayang dan cinta suami. Tapi kenapa berlebihan seperti itu? Atau, saya kah aneh?
Bus berhenti lagi. Tiga terminal telah lewat sejak pertama saya naik di simpang dekat Jasaraharja. Beberapa penumpang turun. Disambut dengan segerombolan lagi penumpang yang naik. Sang bapak yang “mengganggu” itu pindah, duduk di kursi kosong. Tapi, belum habis malang, sang ibu kesal kembali. Seorang anak laki-laki jangkung berseragam kuning, mungkin anak SMP, lewat di depannya. Saya tidak melihat pasti, apakah kaki ibu itu terinjak atau tersenggol. Yang jelas, ibu itu terlihat gusar. Seperti ada sesuatu yang sudah lama dijaganya, kemudian direnggut tiba-tiba.
Mata ibu itu, tak henti-hentinya memandangi anak laki-laki yang membuatnya kesal. Buku yang dari tadi akrab dengannya, diabaikan. Ibu itu terus memandangi. Anak laki-laki tadi terus merunduk. Takut dengan ibu yang selalu memandanginya itu. Ibu itu terus memandangi. Seraya mencari posisi yang tepat untuk terus dan terus memandangi. Ia ingin anak laki-laki itu membalas tatapannya yang mengatakan, Kamu salah, kamu harus minta maaf. Tapi upaya itu gagal. Jangankan membalas, anak itu makin tepekur.
Ah, ibu itu aneh. Kejam. Terlalu berlebihan. Biasa saja toh terinjak di atas bus kota. Harusnya dia mahfum. Itulah resikonya naik kendaraan umum. Berdesak-desakan dan terinjak sana-sini. Saya juga pernah diinjak, terjepit, bahkan terbakar oleh api rokok penumpang. Saya tidak dendam. Sumpah. Ibu itu aneh.
Lama menatap tanpa ditanggapi, ibu itu tiba-tiba memanggil petugas tiket. Mau apa dia? Saya menggumam. Ibu itu menyodorkan uang dua ribu. Kemudian berkata, “Tolong berikan tiket ini kepada anak berbaju kuning itu.” Nah, itu lebih aneh lagi. Kali ini saya tersenyum.

Padang, 24 April 2015

Yola Sastra

Rabu, 01 April 2015

Spiritualis Kritis



Judul              : Simple Miracle
Penulis          : Ayu Utami
Penerbit        : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan         : I, Oktober 2014
Tebal              : 177 Halaman

“Aneh, ibuku mengajarkan aku ragu akan hantu, tapi ia mengajari aku beriman perihal Tuhan.” (hal 12)
Apa beda hantu dengan Tuhan? Dari segi bunyi, sama saja. Hantu adalah kebalikan bunyi dari Tuhan. Tuhan kebalikan bunyi dari hantu. Kalau dieja cepat-cepat, jadinya, Tuhantuhantuhantuhantuhan. Sama kan? Dari segi wujudnya pun begitu. Hantu dan Tuhan sama-sama tidak bisa dibuktikan secara material dan objektif. Keduanya tidak dapat dilihat kasat mata. Keduanya tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Namun, di balik dari kesamaan itu, ada prinsip mendasar yang membuat hantu dan Tuhan berbeda sama sekali. Hantu tidak datang dengan paket nilai-nilai, sedangkan Tuhan datang dengan paket nilai-nilai. Hantu tidak datang dengan etika dan ajaran. Tuhan justru datang membawa etika dan ajaran. Kepercayaan terhadap hantu tidak membawa manusia ke mana-mana. Sebaliknya, kepercayaan terhadap Tuhan membawa manusia ke suatu arah, dan tentunya lebih baik.
Konsep-konsep seperti inilah yang sering dipergulatkan Aku di dalam pikirannya. Sikap kritis dan skeptis membuatnya selalu meragukan hal-hal gaib yang tak kasat mata, bahkan untuk konsep tentang Tuhan. Prinsip ini pun membuatnya terjebak dalam proses pencarian Tuhan yang begitu rumit. Dan layaknya sejarah pemikiran Eropa, Aku juga melalui periode religiusitas, sekularisme, dan pasca-sekularisme.
Pada periode religiusitas, Aku sempat menjadi pribadi yang taat. Bahkan sering berkirim surat secara intim dengan Tuhan. Namun, memasuki usia 20-an Aku mulai meninggalkan Tuhan. Aku memilih nalar dalam menimbang baik-buruk sesuatu dan mengenyampingkan ayat-ayat Tuhan. Periode ini dinamai sebagai sekularisme. Lalu, memasuki periode pasca-sekularisme, Aku kembali menjadi makhluk bertuhan, tetapi dapat menyeimbangkan antara religi dan nalar. Aku mengistilahkannya dengan “Spiritualisme Kritis”, yaitu penghargaan terhadap yang spiritual tanpa mengkhianati nalar kritis (hal 12).
Dalam Mukjizat Sederhana ini—demikian kira-kira terjemahan bahasa Indonesianya—Ayu Utami ingin menyampaikan bahwa agama bukanlah sebuah keyakinan yang harus diterima mentah-mentah, tanpa proses berpikir kritis. Agama harus dijadikan alat untuk menciptakan perdamaian, bukan permusuhan yang nyatanya bertentangan dengan ajaran Tuhan.
Bagian pertama dari Seri Spiritualisme Kritis ini mengambil tema tentang “Doa dan Arwah”. Dan sesuai tema, isinya memang tak jauh-jauh dari doa dan arwah. Betapa kekuatan doa dapat mengantarkan manusia dalam mendapatkan mukjizat sederhana, namun sangat berharga. Selain itu, berbagai kisah tentang makhluk gaib juga bergentayangan, nyaris di setiap babnya. Lalu, menyadur judul, novel ini memang ditulis dengan simpel. Tidak seperti novel sastra lainnya yang rumit dan kadang menjemukan, Simple Miracle disampaikan secara ringan, mengalir, namun tidak abai terhadap nilai-nilai.

Yola Sastra
Dimuat dalam SKK Ganto edisi 183 November-Desember 2014 dengan judul Spritualis, Namun Kritis.