Jumat, 24 April 2015

Ibu itu, Aneh!


Ilustrasi: kapanlagi.com

Ibu itu, yang berkaca mata persegi, berkumis tipis, dan berbaju coklat dengan stelan jilbab hitam pudar, gelisah di bangku bagian belakang Trans Padang. Seorang laki-laki dewasa, kira-kita 28 tahun, tiba-tiba duduk di sebelahnya. Mata ibu itu jadi tak henti-henti mendelik curiga. Ia berhati-hati, menjaga agar tak sesenti pun tubuhnya tersentuh oleh laki-laki itu.
Sebelumnya, ia damai. Tenggelam dengan buku Suamiku adalah Surgaku yang dibacanya sejak saya mengamati dua menit lalu. Namun, ketenangan segera berubah setelah penumpang sebelahnya pergi dan si laki-laki berkumis tipis itu datang.
            Ibu itu, seolah-olah merasa ada yang ingin menyergap. Raut wajahnya selalu awas. Beruntunglah penderitaannya berakhir. Akhirnya ibu itu pindah, setelah ada penumpang di kursi seberang yang turun di salah satu perhentian.
            Bagi saya, ibu itu aneh. Entahlah, saya jarang, bahkan belum pernah bertemu dengan orang seperti dia. Biasanya, laki-laki dan perempuan, tak pernah peduli, bagian tubuhnya bersentuhan atau tidak dengan lawan jenisnya masing-masing. Hal itu sepertinya sudah lumrah di kampung Malinkundang ini. Dalam hati, saya menerka-nerka, barangkali ada kisah traumatik yang selalu menghantui ibu itu. Saya belum dapat menyimpulkan. Siapa yang aneh. Apakah ibu itu? Atau lingkungannya? Kadang bila kita terjebak di antara sekian banyak orang aneh, kita dianggap aneh.
            Bus berhenti lagi. Saya tidak tahu, terminal apa namanya. Beberapa penumpang naik berdesak-desakan. Rombongan itu terbagi dua. Separuh pergi ke depan. Sisanya duduk atau berdiri di belakang.
Seorang bapak berbadan besar tinggi, berbaju oranye, dengan rambut mulai beruban, berdiri tepat di depan si ibu. Ibu itu terancam lagi. Matanya tak henti-henti mendelik sang bapak. Kakinya bergerak-gerak kaku, menghindari kemungkinan bersentuhan dengan lawan jenisnya itu. Penumpang lainnya, walaupun seperti acuh, mulai memandangi sang ibu. Benarkah dia aneh? Saya mulai terpengaruh. Saya pikir ibu itu benar-benar aneh. Pikir saya, biasa saja bila laki-laki dan perempuan itu bersentuhan karena keadaan yang berdesak-desakan di atas angkutan umum. Tuhan pasti tahu, tidak ada yang berlaku macam-macam. Tidak ada niat. Mungkin ibu itu terlalu berlebihan. Dan…, sedikit aneh.
Saya tak henti-hentinya mengamati ibu itu. Penasaran. Apa ia benar-benar aneh? Dari yang saya lihat, ibu itu berwajah teduh. Sosok ibu penyayang dan cinta suami. Tapi kenapa berlebihan seperti itu? Atau, saya kah aneh?
Bus berhenti lagi. Tiga terminal telah lewat sejak pertama saya naik di simpang dekat Jasaraharja. Beberapa penumpang turun. Disambut dengan segerombolan lagi penumpang yang naik. Sang bapak yang “mengganggu” itu pindah, duduk di kursi kosong. Tapi, belum habis malang, sang ibu kesal kembali. Seorang anak laki-laki jangkung berseragam kuning, mungkin anak SMP, lewat di depannya. Saya tidak melihat pasti, apakah kaki ibu itu terinjak atau tersenggol. Yang jelas, ibu itu terlihat gusar. Seperti ada sesuatu yang sudah lama dijaganya, kemudian direnggut tiba-tiba.
Mata ibu itu, tak henti-hentinya memandangi anak laki-laki yang membuatnya kesal. Buku yang dari tadi akrab dengannya, diabaikan. Ibu itu terus memandangi. Anak laki-laki tadi terus merunduk. Takut dengan ibu yang selalu memandanginya itu. Ibu itu terus memandangi. Seraya mencari posisi yang tepat untuk terus dan terus memandangi. Ia ingin anak laki-laki itu membalas tatapannya yang mengatakan, Kamu salah, kamu harus minta maaf. Tapi upaya itu gagal. Jangankan membalas, anak itu makin tepekur.
Ah, ibu itu aneh. Kejam. Terlalu berlebihan. Biasa saja toh terinjak di atas bus kota. Harusnya dia mahfum. Itulah resikonya naik kendaraan umum. Berdesak-desakan dan terinjak sana-sini. Saya juga pernah diinjak, terjepit, bahkan terbakar oleh api rokok penumpang. Saya tidak dendam. Sumpah. Ibu itu aneh.
Lama menatap tanpa ditanggapi, ibu itu tiba-tiba memanggil petugas tiket. Mau apa dia? Saya menggumam. Ibu itu menyodorkan uang dua ribu. Kemudian berkata, “Tolong berikan tiket ini kepada anak berbaju kuning itu.” Nah, itu lebih aneh lagi. Kali ini saya tersenyum.

Padang, 24 April 2015

Yola Sastra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar