Judul : Simple Miracle
Penulis : Ayu Utami
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, Oktober 2014
Tebal : 177 Halaman
“Aneh, ibuku mengajarkan aku
ragu akan hantu, tapi ia mengajari aku beriman perihal Tuhan.” (hal 12)
Apa
beda hantu dengan Tuhan? Dari segi bunyi, sama saja. Hantu adalah kebalikan
bunyi dari Tuhan. Tuhan kebalikan bunyi dari hantu. Kalau dieja cepat-cepat,
jadinya, Tuhantuhantuhantuhantuhan.
Sama kan? Dari segi wujudnya pun begitu. Hantu dan Tuhan sama-sama tidak bisa
dibuktikan secara material dan objektif. Keduanya tidak dapat dilihat kasat
mata. Keduanya tidak dapat dibuktikan secara empiris.
Namun,
di balik dari kesamaan itu, ada prinsip mendasar yang membuat hantu dan Tuhan
berbeda sama sekali. Hantu tidak datang dengan paket nilai-nilai, sedangkan
Tuhan datang dengan paket nilai-nilai. Hantu tidak datang dengan etika dan
ajaran. Tuhan justru datang membawa etika dan ajaran. Kepercayaan terhadap
hantu tidak membawa manusia ke mana-mana. Sebaliknya, kepercayaan terhadap
Tuhan membawa manusia ke suatu arah, dan tentunya lebih baik.
Konsep-konsep
seperti inilah yang sering dipergulatkan Aku di dalam pikirannya. Sikap kritis
dan skeptis membuatnya selalu meragukan hal-hal gaib yang tak kasat mata,
bahkan untuk konsep tentang Tuhan. Prinsip ini pun membuatnya terjebak dalam proses
pencarian Tuhan yang begitu rumit. Dan layaknya sejarah pemikiran Eropa, Aku
juga melalui periode religiusitas, sekularisme, dan pasca-sekularisme.
Pada
periode religiusitas, Aku sempat menjadi pribadi yang taat. Bahkan sering
berkirim surat secara intim dengan Tuhan. Namun, memasuki usia 20-an Aku mulai
meninggalkan Tuhan. Aku memilih nalar dalam menimbang baik-buruk sesuatu dan
mengenyampingkan ayat-ayat Tuhan. Periode ini dinamai sebagai sekularisme. Lalu,
memasuki periode pasca-sekularisme, Aku kembali menjadi makhluk bertuhan,
tetapi dapat menyeimbangkan antara religi dan nalar. Aku mengistilahkannya
dengan “Spiritualisme Kritis”, yaitu penghargaan terhadap yang spiritual tanpa
mengkhianati nalar kritis (hal 12).
Dalam
Mukjizat Sederhana ini—demikian
kira-kira terjemahan bahasa Indonesianya—Ayu Utami ingin menyampaikan bahwa
agama bukanlah sebuah keyakinan yang harus diterima mentah-mentah, tanpa proses
berpikir kritis. Agama harus dijadikan alat untuk menciptakan perdamaian, bukan
permusuhan yang nyatanya bertentangan dengan ajaran Tuhan.
Bagian
pertama dari Seri Spiritualisme Kritis ini mengambil tema tentang “Doa dan
Arwah”. Dan sesuai tema, isinya memang tak jauh-jauh dari doa dan arwah. Betapa
kekuatan doa dapat mengantarkan manusia dalam mendapatkan mukjizat sederhana,
namun sangat berharga. Selain itu, berbagai kisah tentang makhluk gaib juga
bergentayangan, nyaris di setiap babnya. Lalu, menyadur judul, novel ini memang
ditulis dengan simpel. Tidak seperti novel sastra lainnya yang rumit dan kadang
menjemukan, Simple Miracle
disampaikan secara ringan, mengalir, namun tidak abai terhadap nilai-nilai.
Yola Sastra
Dimuat dalam SKK Ganto edisi 183 November-Desember 2014 dengan judul Spritualis, Namun Kritis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar