Kamis, 14 Januari 2016

Cahaya Matahari Lahir Hari Ini

Ilustrasi: http://id.gutbilder.com/


Hari ini Kamis, 14 Januari 2016. Dua puluh empat tahun lalu, sebuah Cahaya Matahari lahir. Meski kecil, ia mencerahkan. Mencerahkan siangku yang kelabu.

Aku ingat betul, seorang yang kau panggil Abang mengenalkanku padamu. Waktu itu, awal 2012. Katanya, kita sejurusan. Jadilah ini sebagai pemicu aku mencarimu.

Tersebutlah pada sebuah siang, kita berkenalan. Di bawah pencakar langit kampus ungu. Berbagai sorot mata mengarah padamu—tentu juga kepadaku. Tapi kita tak ambil pusing, begitu banyak hal yang memusingkan yang perlu kita pikirkan.

Katamu aku hadir sebagai sedikit harapan. Sedahan kayu, yang setidaknya dapat melindungi tubuh mungilmu di kala hujan.

Waktu itu, sebuah masalah akan pencarian kekasih abadi menerpamu. Adalah aku—katamu—yang setidaknya mau mendengarkan apa yang kamu kesahkan. Dan itu berlanjut, berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan. Hingga akhirnya tercetuslah sebuah harapan, aku pendengarmu; kamu pendengarku.

Setidaknya kehadiranku—katamu—menghadirkan sebuah tenaga yang membangkitkanmu dari titik paling rendah dalam hidupmu. Hingga kamu menghadiahkan aku sebuah sajak, sebagai bukti bahwa aku adalah saudaramu yang terlahir dari ayah dan rahim yang berbeda.

I NEED SOME POWER

Jika harus jujur
hal apa yang dapat membuatku bahagia dan tersenyum,
aku akan menjawab
aku tak ingin dilukai
aku tak ingin melihat kesombongan, keangkuhan
aku tak ingin dianggap rendah
Saat ini
Keangkuhan sedang kuhadapi
kebutaan seseorang terhadap kata
Ia menutup mata hatinya untuk segalanya
segalanya yang dulu selalu ada di belakangnya
Bahkan ia menutupnya untuk orang yang paling berjasa dalam hidupnya
Saat ini dan selamanya
aku hanya ingin bebas darinya tanpa harus beranjak darinya
aku akan menangguhkan hatiku untuk segalanya
aku tak ingin lemah di hadapnnya.
Untuk saat ini
aku ingin bersyukur
aku memiliki secercah cahaya
Membangkitkan aku dari keterpurukanku
Mengangkatku dari jatuhku
Selamatkan aku dari hancur itu.
Terima kasih adikku…
Semoga segala kebaikanmu dibalas Allah
dan semoga saja aku jadi saudaramu
saudara yang sanggup membuatmu bahagia.
Selamanya….
Tak ada simbol apapun untuk mengungkapkan terima kasihku
Hanya waktu yang kupunya, saat ini milikmu saudaraku…
Kasih sayang dari saudara
Hanya itu yang sanggup kuberi
Dan sebuah janjiku padamu
Untuk selalu ada di sisimu…

Terima kasih My Sastra Brother

Februari 2012
NS



Dalam belasan bulan setelah itu, kita hidup dalam sebuah fase kenormalan—tertawa, menangis, bermain, bersenandung, berharap, berjuang, berdiaman, bermaafan, berbaikan, dan berber lainnya. 

Semuanya kita lewati setiap hari.

Hingga akhirnya suatu hari, sebuah rumah mengalihkan dimensiku. Sebuah rumah berdinding yang perlahan membatasiku memandangimu. Perlahan-lahan, aku mulai membelakangi. Dan kamu terlalu lelah untuk meneriaki. Itu berlangsung berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Hingga kamu tamat. Dan tak setangkai bunga pun sempat kuantarkan kepadamu.

Aku terlalu malu untuk menampakkan wajah padamu.

Sesekali, aku masih mengintip ke balik dindingmu. Cuma sesekali. Habis itu tak lagi. Maaf aku terlalu sibuk dengan duniaku. Dan kamu sepertinya sudah menemukan saudara lainnya yang lebih bisa mendengarkanmu di setiap hari-harimu.

Aku terlalu malu untuk menampakkan wajah padamu.

Entah berapa tahun aku menghilangkanmu dari kepalaku. Entah berapa tahun pula aku tak berusaha mencarimu di kepalaku. Tapi aku yakin, kamu masih ada. Hingga sebuah petaka datang mendera.

Suatu hari di pertengahan September tahun lalu, sebuah kabar menghunus jantungku. Saat itu aku baru pulang dari rumahku. Beberapa detik, aku tak bisa berkata, tak bisa berpikir, tak bisa berbicara; tak bisa apa-apa. Bahkan untuk sekadar menintikkan air mata aku tak bisa. Air itu terlalu kering; habis mengalir, membanjiri relung jiwaku yang kosong sebab lama tak kamu tinggali.

Dua puluh empat kini tak jadi. Hanya sebuah doa dengan sepenuh hati, kubisikkan pagi ini. Semoga dapat menjadi penghibur hati dan menemanimu di ruang sepi.

Maaf, aku tak sempat membisikkan kata “maaf” ke telingamu.

Rumah Sepi, 14 Januari 2016
Yola Sastra


NB: Maaf aku tak menepati janji untuk mengundangmu di hari kelulusanku nanti.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar