Ilustrasi: kapanlagi.com
Ibu itu, yang berkaca mata persegi,
berkumis tipis, dan berbaju coklat dengan stelan jilbab hitam pudar, gelisah di
bangku bagian belakang Trans Padang. Seorang laki-laki dewasa, kira-kita 28
tahun, tiba-tiba duduk di sebelahnya. Mata ibu itu jadi tak henti-henti
mendelik curiga. Ia berhati-hati, menjaga agar tak sesenti pun tubuhnya
tersentuh oleh laki-laki itu.
Sebelumnya, ia damai. Tenggelam
dengan buku Suamiku adalah Surgaku
yang dibacanya sejak saya mengamati dua menit lalu. Namun, ketenangan segera
berubah setelah penumpang sebelahnya pergi dan si laki-laki berkumis tipis itu
datang.
Ibu
itu, seolah-olah merasa ada yang ingin menyergap. Raut wajahnya selalu awas.
Beruntunglah penderitaannya berakhir. Akhirnya ibu itu pindah, setelah ada
penumpang di kursi seberang yang turun di salah satu perhentian.
Bagi
saya, ibu itu aneh. Entahlah, saya jarang, bahkan belum pernah bertemu dengan
orang seperti dia. Biasanya, laki-laki dan perempuan, tak pernah peduli, bagian
tubuhnya bersentuhan atau tidak dengan lawan jenisnya masing-masing. Hal itu
sepertinya sudah lumrah di kampung Malinkundang ini. Dalam hati, saya
menerka-nerka, barangkali ada kisah traumatik yang selalu menghantui ibu itu.
Saya belum dapat menyimpulkan. Siapa yang aneh. Apakah ibu itu? Atau
lingkungannya? Kadang bila kita terjebak di antara sekian banyak orang aneh,
kita dianggap aneh.
Bus
berhenti lagi. Saya tidak tahu, terminal apa namanya. Beberapa penumpang naik
berdesak-desakan. Rombongan itu terbagi dua. Separuh pergi ke depan. Sisanya duduk
atau berdiri di belakang.
Seorang bapak berbadan besar
tinggi, berbaju oranye, dengan rambut mulai beruban, berdiri tepat di depan si
ibu. Ibu itu terancam lagi. Matanya tak henti-henti mendelik sang bapak.
Kakinya bergerak-gerak kaku, menghindari kemungkinan bersentuhan dengan lawan
jenisnya itu. Penumpang lainnya, walaupun seperti acuh, mulai memandangi sang
ibu. Benarkah dia aneh? Saya mulai
terpengaruh. Saya pikir ibu itu benar-benar aneh. Pikir saya, biasa saja bila laki-laki
dan perempuan itu bersentuhan karena keadaan yang berdesak-desakan di atas
angkutan umum. Tuhan pasti tahu, tidak ada yang berlaku macam-macam. Tidak ada
niat. Mungkin ibu itu terlalu berlebihan. Dan…, sedikit aneh.
Saya tak henti-hentinya mengamati
ibu itu. Penasaran. Apa ia benar-benar
aneh? Dari yang saya lihat, ibu itu berwajah teduh. Sosok ibu penyayang dan
cinta suami. Tapi kenapa berlebihan seperti itu? Atau, saya kah aneh?
Bus berhenti lagi. Tiga terminal
telah lewat sejak pertama saya naik di simpang dekat Jasaraharja. Beberapa
penumpang turun. Disambut dengan segerombolan lagi penumpang yang naik. Sang
bapak yang “mengganggu” itu pindah, duduk di kursi kosong. Tapi, belum habis
malang, sang ibu kesal kembali. Seorang anak laki-laki jangkung berseragam
kuning, mungkin anak SMP, lewat di depannya. Saya tidak melihat pasti, apakah
kaki ibu itu terinjak atau tersenggol. Yang jelas, ibu itu terlihat gusar.
Seperti ada sesuatu yang sudah lama dijaganya, kemudian direnggut tiba-tiba.
Mata ibu itu, tak henti-hentinya
memandangi anak laki-laki yang membuatnya kesal. Buku yang dari tadi akrab
dengannya, diabaikan. Ibu itu terus memandangi. Anak laki-laki tadi terus
merunduk. Takut dengan ibu yang selalu memandanginya itu. Ibu itu terus
memandangi. Seraya mencari posisi yang tepat untuk terus dan terus memandangi.
Ia ingin anak laki-laki itu membalas tatapannya yang mengatakan, Kamu salah, kamu harus minta maaf. Tapi
upaya itu gagal. Jangankan membalas, anak itu makin tepekur.
Ah, ibu itu aneh. Kejam. Terlalu
berlebihan. Biasa saja toh terinjak
di atas bus kota. Harusnya dia mahfum. Itulah resikonya naik kendaraan umum.
Berdesak-desakan dan terinjak sana-sini. Saya juga pernah diinjak, terjepit,
bahkan terbakar oleh api rokok penumpang. Saya tidak dendam. Sumpah. Ibu itu
aneh.
Lama menatap tanpa ditanggapi, ibu
itu tiba-tiba memanggil petugas tiket. Mau
apa dia? Saya menggumam. Ibu itu menyodorkan uang dua ribu. Kemudian
berkata, “Tolong berikan tiket ini kepada anak berbaju kuning itu.” Nah, itu lebih aneh lagi. Kali ini saya tersenyum.
Padang, 24 April 2015
Yola Sastra

Tidak ada komentar:
Posting Komentar