Ilustrasi: http://4.bp.blogspot.com/
Jenuh tidak ada pekerjaan
setelah lebaran, akhirnya saya putuskan untuk ikut menjemput pasir dengan Pak
Etek. Dengan mobil pick up kecil kami
menyusuri jalan menuju daerah Lubuak Batingkok, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten 50
Kota. Di tepi Sungai Sinamar, tampak para penambang sedang memuat pasir ke atas
bak mobil. Tiga mobil berjejer di tepian itu. Ada pick up, ada juga truk ukuran besar. Dari arah lain, di hulu
sungai, tampak seorang penambang membawa hasil jerihnya dengan sampan sambil
sesekali mendayung.
Asyik mengamati
para penambang bekerja, saya tergelitik mendengar celotehan salah seorang
pemilik mobil. Tampak tiga orang laki-laki paruh baya sedang maota ditemani segelas kopi di sisi
masing-masing.
Ceritanya
tentang bersawah. Salah seorang paota
berkata, lebih baik menyuruh orang yang tidak pandai bersawah daripada orang
yang pandai. Dua paota lainnya
termenung. Kenapa demikian?
Nan tidak pandai
akan bekerja lebih baik daripada nan pandai. Misalnya saja mencangkul sawah.
Nan tidak pandai akan mencangkul tunggul padi sampai hancur—karena tidak tahu
trik. Sehingga lumpur sawah akan lebur dan menyatu dengan tunggul. Lumpur
menjadi lembur. Dan padi akan tumbuh subur. Memperkerjakan nan tidak pandai
juga menghemat biaya. Nan tidak pandai bisa dibayar murah karena kurang
pengalaman. Namun pekerjaannya dinilai lebih efektif dan efisien bagi pemilik
sawah.
Sedangkan nan
pandai—banyak pengalaman—punya trik-trik sendiri agar pekerjaannya lebih mudah.
Apabila mencangkul, nan pandai tidak akan mencangkul tunggul sampai habis.
Cukup dengan membalik tunggul dua kali balik, kerja pun selesai. Memang
terlihat bersih di atas permukaan, namun tunggul dan lumpur tidak lebur
sehingga pertumbuhan padi terhambat. Memperkerjakan nan pandai akan memboroskan
biaya. Bayaran mahal, namun hasil tak maksimal.
Sesaat saya
merenung. Menimbang benar tidaknya pernyataan itu. Namun karena kekurangan waktu berpikir—atau barangkali sedang tidak mau
berpikir—saya pun menunda memikirkannya.
Setelah tiga
puluh menit menunggu, pasir kami pun selesai dimuat. Saatnya untuk mengangkut
pasir pulang. Di tengah perjalanan, cerita tentang nan pandai pun berlanjut.
Kali ini Pak Etek yang memulai. “Beginilah orang nan pandai bekerja,” celetuknya.
Dan kali ini, saya pula yang tercengang seperti dua paota tadi.
Kata Pak Etek, pasir
yang kami angkut lebih ringan dari sebelumnya. Ini tentu ada kaitannya dengan
kisah nan pandai tadi. Orang nan tidak pandai akan memuat pasir dengan
bertumpuk-tumpuk. Dengan demikian pasir yang dinaikkan menjadi padat dan isinya
sudah tentu banyak. Sedangkan nan pandai akan menaikkan pasir dengan mengirai. Dengan demikian pasir yang
naik ke mobil menjadi gembur. Pasir yang dimuat akan lebih sedikit. Beban akan
lebih ringan dan pekerjaan penambang tentu juga lebih ringan.
Lalu, pada
tataran lebih tinggi ada pula kisah nan pandai. Semisal pegawai negeri atau
pejabat negara lainnya. Banyak kita dapati PNS senior—tentunya sudah
pandai—bekerja dengan santai. Pandai bermain dengan aturan, namun hidupnya
sangat permai. Sedangkan PNS baru akan berusaha bekerja keras. Menunjukkan
dedikasinya untuk perubahan. Namun karena dianggap belum pandai, usaha itu
kurang dihargai.
Ada pula kisah tentang
beberapa anggota DPR yang tentu saja sudah pandai. Pandai memikat hati rakyat.
Pandai membuat peraturan. Tapi, pandai juga mencuri-curi waktu untuk tidur di
tengah-tengah jam rapat. Kerja santai, nasib permai.
Begitulah
fenomena orang pandai. Semakin tinggi sekolah semakin pandai. Kerja semakin
santai. Hidup pun semakin permai. Tapi ingat pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, sesekali tentu akan tergerapai juga.
Payakumbuh, 31 Oktober 2014
Yola Sastra

Tidak ada komentar:
Posting Komentar