Kamis, 14 Januari 2016

Cahaya Matahari Lahir Hari Ini

Ilustrasi: http://id.gutbilder.com/


Hari ini Kamis, 14 Januari 2016. Dua puluh empat tahun lalu, sebuah Cahaya Matahari lahir. Meski kecil, ia mencerahkan. Mencerahkan siangku yang kelabu.

Aku ingat betul, seorang yang kau panggil Abang mengenalkanku padamu. Waktu itu, awal 2012. Katanya, kita sejurusan. Jadilah ini sebagai pemicu aku mencarimu.

Tersebutlah pada sebuah siang, kita berkenalan. Di bawah pencakar langit kampus ungu. Berbagai sorot mata mengarah padamu—tentu juga kepadaku. Tapi kita tak ambil pusing, begitu banyak hal yang memusingkan yang perlu kita pikirkan.

Katamu aku hadir sebagai sedikit harapan. Sedahan kayu, yang setidaknya dapat melindungi tubuh mungilmu di kala hujan.

Waktu itu, sebuah masalah akan pencarian kekasih abadi menerpamu. Adalah aku—katamu—yang setidaknya mau mendengarkan apa yang kamu kesahkan. Dan itu berlanjut, berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan. Hingga akhirnya tercetuslah sebuah harapan, aku pendengarmu; kamu pendengarku.

Setidaknya kehadiranku—katamu—menghadirkan sebuah tenaga yang membangkitkanmu dari titik paling rendah dalam hidupmu. Hingga kamu menghadiahkan aku sebuah sajak, sebagai bukti bahwa aku adalah saudaramu yang terlahir dari ayah dan rahim yang berbeda.

I NEED SOME POWER

Jika harus jujur
hal apa yang dapat membuatku bahagia dan tersenyum,
aku akan menjawab
aku tak ingin dilukai
aku tak ingin melihat kesombongan, keangkuhan
aku tak ingin dianggap rendah
Saat ini
Keangkuhan sedang kuhadapi
kebutaan seseorang terhadap kata
Ia menutup mata hatinya untuk segalanya
segalanya yang dulu selalu ada di belakangnya
Bahkan ia menutupnya untuk orang yang paling berjasa dalam hidupnya
Saat ini dan selamanya
aku hanya ingin bebas darinya tanpa harus beranjak darinya
aku akan menangguhkan hatiku untuk segalanya
aku tak ingin lemah di hadapnnya.
Untuk saat ini
aku ingin bersyukur
aku memiliki secercah cahaya
Membangkitkan aku dari keterpurukanku
Mengangkatku dari jatuhku
Selamatkan aku dari hancur itu.
Terima kasih adikku…
Semoga segala kebaikanmu dibalas Allah
dan semoga saja aku jadi saudaramu
saudara yang sanggup membuatmu bahagia.
Selamanya….
Tak ada simbol apapun untuk mengungkapkan terima kasihku
Hanya waktu yang kupunya, saat ini milikmu saudaraku…
Kasih sayang dari saudara
Hanya itu yang sanggup kuberi
Dan sebuah janjiku padamu
Untuk selalu ada di sisimu…

Terima kasih My Sastra Brother

Februari 2012
NS



Dalam belasan bulan setelah itu, kita hidup dalam sebuah fase kenormalan—tertawa, menangis, bermain, bersenandung, berharap, berjuang, berdiaman, bermaafan, berbaikan, dan berber lainnya. 

Semuanya kita lewati setiap hari.

Hingga akhirnya suatu hari, sebuah rumah mengalihkan dimensiku. Sebuah rumah berdinding yang perlahan membatasiku memandangimu. Perlahan-lahan, aku mulai membelakangi. Dan kamu terlalu lelah untuk meneriaki. Itu berlangsung berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Hingga kamu tamat. Dan tak setangkai bunga pun sempat kuantarkan kepadamu.

Aku terlalu malu untuk menampakkan wajah padamu.

Sesekali, aku masih mengintip ke balik dindingmu. Cuma sesekali. Habis itu tak lagi. Maaf aku terlalu sibuk dengan duniaku. Dan kamu sepertinya sudah menemukan saudara lainnya yang lebih bisa mendengarkanmu di setiap hari-harimu.

Aku terlalu malu untuk menampakkan wajah padamu.

Entah berapa tahun aku menghilangkanmu dari kepalaku. Entah berapa tahun pula aku tak berusaha mencarimu di kepalaku. Tapi aku yakin, kamu masih ada. Hingga sebuah petaka datang mendera.

Suatu hari di pertengahan September tahun lalu, sebuah kabar menghunus jantungku. Saat itu aku baru pulang dari rumahku. Beberapa detik, aku tak bisa berkata, tak bisa berpikir, tak bisa berbicara; tak bisa apa-apa. Bahkan untuk sekadar menintikkan air mata aku tak bisa. Air itu terlalu kering; habis mengalir, membanjiri relung jiwaku yang kosong sebab lama tak kamu tinggali.

Dua puluh empat kini tak jadi. Hanya sebuah doa dengan sepenuh hati, kubisikkan pagi ini. Semoga dapat menjadi penghibur hati dan menemanimu di ruang sepi.

Maaf, aku tak sempat membisikkan kata “maaf” ke telingamu.

Rumah Sepi, 14 Januari 2016
Yola Sastra


NB: Maaf aku tak menepati janji untuk mengundangmu di hari kelulusanku nanti.

Kamis, 03 September 2015

Tentang Kamu pada Suatu Sore bersama Kawan

Ilustrasi: Meri Susanti

Sore ini, aku begitu kalut hingga tersesat dalam kabut—kiriman Jambi dan sekitarnya. Aku kehilangan arah. Kepada ujung suatu entah. Terombang-ambing tanpa tujuan, tanpa pegangan, bagai umbang yang sekilas kuamati dibolak-balik ombak di tepian pantai sebelum malam menjelang.
Aku terjebak dalam diam. Sebuah kata yang ingin kuucapkan kepadamu (seseorang yang ada dalam kepalaku) dengan segera kutelan. Rasanya pahit, sepahit empedu yang akhirnya membuat lidahku bertambah kelu. Membuatku semakin hening dalam diamku. Sementara, bergudang-gudang kata telah antre di kerongkongan hingga ujung sebuah kepala.
Hari ini seperti puncak sebuah kesal. Muaranya sebuah kekecewaan. Tapi, aku tak punya alasan, oleh sebab apa aku kesal. Dan kenapa harus ada kecewa.
Aku lebih suka menyebut keadaan ini sebuah takdir. Takdir, kata seorang tokoh—entahlah, aku lupa namanya siapa—didefinisikan sebagai suatu keadaan yang begitu sulit didefinisikan. Takdir, katanya, berarti suatu kondisi saat manusia tak dapat merumuskan, membuktikan, dan memastikan, kenapa sesuatu terjadi, dan akhirnya ia menyerahkannya kepada Tuhan. Aku tak dapat memastikan apa yang sedang terjadi. Aku juga menyerahkannya kepada Tuhan.
Untunglah, saat itu aku punya seorang kawan yang berkerelaan mendengarkan keluhanku. Kami bercerita menghabiskan petang, bersama dua mangkuk pensi dan semangkuk langkitang. Sembari mencucut, kami lanjut beradu mulut. Ia, sesekali berkomentar. Sesekali memberi masukan. Sesekali memberi pujian. Sesekali memberi dukungan. Sesekali hingga beberapa kali, membuatku menyelipkan kepadanya sebuah senyuman.
Katanya, kalau aku kecewa karena cinta, itu sebuah biasa. Kawanku itu berkata tentang dirinya, “Aku mencintai dia (seseorang yang ada dalam kepala kawanku itu) sampai batas kecewaku.” Bila kawanku itu berhenti mencintai kecintaannya, berarti segitulah batas kekecewaannya.
Mestinya aku juga begitu. Mencintaimu sampai batas kekecewaanku—andai kau tahu, batas kekecewaanku adalah saat aku tak mampu lagi menatapmu. Kuharap aku tak pernah kecewa hingga aku bisa menatapmu sepanjang yang aku mau—maunya.
Kawanku yang satu itu, coba menghiburku. Hiburnya, ombak yang mencak-mencak di hadapan kami dapat melepaskan segenap kegaduhan. Dan perkataannya bisa menghadirkan sebuah ketenangan. Haha, terima kasih. Engkau memang pandai, kawanku. Bagiku, ombak yang gaduh itu juga menyadarkanku, ada yang lebih gaduh, lebih gundah, lebih ribut, lebih heboh dari segala yang ada dalam benakku. Itu membuatku bersyukur. Sebagaimana aku bisa bersyukur terhadap kabut pagi ini yang membuatku bisa menatap matahari—kuningnya pekat seperti telur itik mata sapi.  
Waktu adalah sesuatu yang penting dalam hidup. Bila seseorang mau meluangkan waktu untukmu, berarti kamu orang yang penting baginya, begitu kata kawanku itu. Harusnya aku meluangkan waktu untukmu. Agar kamu tahu, kamu begitu penting bagiku. Kuharap kamu mau meluangkan waktu untukku. Agar aku merasa penting bagimu.
Terima kasih kawanku yang telah mau mendengarkan ceritaku tentang kamu. Kuharap kamu membacanya.
Padang, 3 September 2015
Yola Sastra

Rabu, 02 September 2015

Kapan Anda Wisuda?

Ilustrasi: http://bahasa.aquila-style.com/

Pertanyaan pada judul di atas kadang menjadi sangat sensitif bagi mahasiswa tertentu. Percakapan yang hangat dan bersahabat, seketika buyar saat pertanyaan itu terlontar. Memang, banyak yang mengimpikan bisa diwisuda secepatnya, selain hemat biaya, juga bisa dicap sebagai mahasiswa luar biasa karena dapat lulus lebih cepat dari yang lainnya. Namun, tak sedikit pula yang memilih untuk terlebih dahulu berkarya selama menjadi mahasiswa.
Di samping itu, ada pula sebuah pertanyaan yang sering terlontar tentang wisuda. Isinya sebuah pilihan. Wisuda tepat waktu atau wisuda di waktu yang tepat? Saya rasa, akan berbagai jawaban yang didapatkan tentang pertanyaan itu. Lalu, apa maknanya? Mari kita kaji.
Wisuda tepat waktu berarti wisuda sesuai jangka waktu rata-rata. Biasanya tiga setengah sampai empat tahun. Wisuda tepat waktu, tidak memperhatikan apakah bekal yang dimiliki mahasiswa yang bersangkutan sudah cukup atau belum, yang penting wisuda sesuai tuntunan kurikulum. Yang wisuda lebih dari empat tahun atau delapan semester berarti tidak tepat waktu. Mahasiswa seperti itu sering dianggap sebagai mahasiswa yang tersingkir dari ketatnya kehidupan perkuliahan. Atau, dianggap pula sebagai mahasiswa yang tidak serius dan cuma menghabiskan uang orang tua.
Di sisi sebaliknya, ada yang namanya wisuda di waktu yang tepat. Artinya seseorang diwisuda di saat yang tepat. Jangka waktunya terserah, mau tiga setengah tahun atau tujuh tahun. Terserah, yang penting wisuda. Wisuda di saat yang tepat berarti bahwa mahasiswa yang bersangkut memilih, apakah ia sudah layak diwisuda atau tidak. Jika ilmu yang didapatnya di sebuah perguruan tinggi dirasa sudah cukup maka dia akan wisuda. Jika dirasa belum dia akan menunda wisudanya. Ilmu di sini tidak terbatas pada ilmu yang didapat saat kuliah. Tetapi juga termasuk ilmu yang didapat saat berkegiatan di luar jam kuliah. Seperti berorganisasi, berwirausaha, melakukan penelitian, pengabdian masyarakat, dan lainnya.
Dari segi hasil, terkadang, ada yang wisuda tepat waktu, namun bekalnya kurang cukup untuk menghadapi dunia kerja. Sehingga, tak sedikit orang yang wisuda tiga setengah tahun—menurut pengamatan saya—yang terlunta-lunta tidak dapat kerja. Mereka sepertinya belum siap dan belum cukup pengalaman dalam menghadapi tantangan hidup. Namun, sebaliknya, ada pula mahasiswa yang wisudanya lima tahun atau bahkan tujuh tahun, bernasib lebih baik dari yang wisuda tepat waktu. Setelah wisuda mereka langsung dicari pekerjaan, kadang tanpa harus melamar. Begitulah wisuda di waktu yang tepat.
Terserah mau kuliah berapa tahun dan diwisuda kapan. Mau tiga setengah tahun, empat tahun, lima tahun, atau bahkan tujuh tahun, terserah. Yang jelas, wisudalah di saat yang tepat. Jika ilmu yang didapat dirasa sudah cukup, wisudalah. Jika belum, tundalah sampai bekal itu cukup.
Kuliah merupakan tempat untuk mengembangkan diri. Belajar tentang kehidupan dan dunia kerja. Saat kuliah, reguklah ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya. Hal-hal yang nanti akan menjadi bekal untuk hidup selepas kuliah. Ibarat pendaki gunung, ia harus membawa bekal makanan dan minuman sebanyak kebutuhannya. Kalau kurang, pendaki itu tentunya terlunta-lunta di atas gunung, padahal tujuan masih jauh. Begitu pula kehidupan. (*)
Yola Sastra
Dimuat dalam Surat Kabar Singgalang Minggu
30 Agustus 2015

Minggu, 23 Agustus 2015

Menjadi Indonesia

Ilustrasi: mahasiswaunmmakassar.wordpress.com

“Cintailah produk-produk Indonesia.” Seruan dengan pelafalan yang sedikit terbata-bata oleh pria lansia itu sudah menjadi semacam sugesti bagi para penonton televisi di tanah air. Ia sering muncul pada iklan di televisi swasta, bahkan hampir setiap hari. Memang, kita sebagai bangsa Indonesia harus mencintai produk-produk Indonesia. Toh, Indonesia negara kita sendiri yang mesti dibela dan dicintai sepenuh hati. Tapi pertanyaannya, bagaimana mungkin kita mencintai produk Indonesia bila nama produk itu sendiri tidak mencerminkan identitas Indonesia, seperti Uchida, Maxim, dan sejenisnya?
Kasus lainnya yang tidak mencerminkan ke-Indonesia-an terjadi pada ajang pemilihan duta bahasa di suatu provinsi beberapa waktu lalu. Suatu kali, pada fase presenstasi makalah yang seharusnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, tiga dari tiga puluh kandidatnya yang tersisa berulang kali mengujarkan kata “ok”, “next”, “kayak”, “gitu”, dan semacamnya dengan logat ala anak gaul yang tidak ada dalam daftar bahasa Indonesia baku. Hal ini menjadi semacam kelatahan yang diperlihatkan generasi yang doyan ikut-ikutan. Padahal makalah yang mereka sampaikan tentang cara menjadikan bahasa Indonesia tuan rumah di negaranya sendiri. Akan tetapi, bagaimana caranya seseorang duta bahasa akan mengajak orang lain menggunakan bahasa dengan baik dan benar, terutama bahasa Indonesia, jika dutanya sendiri tak berbahasa dengan benar—kecuali jika mereka tukang kibul sejati. Mirisnya, mereka yang seperti itu, lolos jadi finalis.
Kelatahan lainnya, yang secara kasat mata dapat pula kita amati pada fenomena ramainya pengelola klub sepakbola Indonesia menunjukkan jati diri sebagai pribadi yang latah. Sebut saja ada Gresik United (awalnya Persatuan Sepakbola Gresik), Bontang Footbal Club (awalnya Bontang PKT), Semen Padang Football Club (awalnya Persatuan Sepakbola Semen Padang), dan lainnya yang tak disebut di sini. Pengelola klub seperti berlomba untuk menduniakan namanya karena bahasa Inggris adalah bahasa dunia. Perubahan nama itu memang sedikit menambah kesan bahwa klub-klub tersebut terdengar, setidaknya, agak lebih modern dan mendunia dengan adanya embel-embel united dan  football club, sebagaimana halnya klub tenar Liga Inggris, seperti Manchester United dan Chelsea Football Club. Kedua klub tersebut memang modern, berprestasi, dan mendunia. Tapi yang perlu diingat, kedua klub itu berasal dari Inggris dan bangga menggunakan bahasa Inggris.
Kecintaan terhadap bahasa negara sendiri juga diperlihatkan oleh Real Madrid Club de Futbol alias Real Madrid CF dan Associazione Calcio Milan alias AC Milan yang merupakan raja sepakbola di Eropa. Real Madrid CF yang merupakan peraih piala Liga Champion Eropa terbanyak (10 kali) tetap setia menggunakan bahasa Spanyol, tak mengganti nama menjadi Real Madrid FC agar modern. Begitupula AC Milan yang mendapat tajuk klub tersukses di dunia tetap menggunakan istilah Italia associazione calcio sebagai identitas. Mereka tidak mengganti nama menjadi Milan FC untuk bisa mendunia. Meskipun Milan bukan pelafalan Italia (Milano), melainkan Inggris. Akan tetapi pelafalan itu tidak di-Italia-kan karena merupakan bentuk penghargaan klub terhadap pendirinya yang merupakan orang Inggris. Terlepas dari hal itu, dua klub ini modern dan mendunia bukan karena nama, tapi karena prestasi. Hal inilah yang selama ini menjadi salah kaprah di Indonesia. Klub-klub Indonesia lebih peduli akan nama daripada prestasi.
Deretan contoh di atas merupakan segelintir ketidakbijakan dalam sikap berbahasa. Bahkan kadang seperti pendiskriminasian bangsa Indonesia terhadap bahasanya sendiri. Masyarakat Indonesia yang katanya cinta tanah air lebih bangga menggunakan bahasa asing daripada bahasanya sendiri. Menjadi Indonesia tak cukup dengan memasang bendera Indonesia pada nama di aplikasi BBM atau pergi ke gunung untuk upacara bendera setiap perayaan 17 Agustusan. Perlu tindakan menyeluruh dalam mencintai Indonesia, termasuk menggunakan bahasa Indonesia dengan bangga sebagai identitas kebangsaan.
André Möller pengamat bahasa dan penyusun Kamus Swedia-Indonesia bahkan pernah membandingkan secara implisit tentang perbedaan sikap berbahasa di Swedia dan Indonesia di dalam kolomnya yang dimuat di Kompas 10 April 2004. André mengatakan, di Swedia singkatan asing seperti DVD, VCD, dan TV telah men-Swedia—yang jika dalam bahasa Indonesia dilafalkan dengan /de-ve-de/, /ve-ce-de/, /te-ve/. Berbeda dengan di Indonesia yang masyarakatnya melafalkan singkatan itu dengan bahasa Inggris /di-vi-di/, /vi-si-di/, dan /ti-vi/. Jika memang pilihan masyarakat Indonesia menggunakan bahasa asing sebagai bentuk kemodernan dan kemenduniaan, Andre berkata, “Mungkin saja orang lain menganggap kami semua kampungan.” Sebuah tamparan keras dari penduduk negara yang jauh lebih modern daripada Indonesia yang membuat muka menjadi merah, bahkan lebam. Tamparan yang tidak akan pernah terasa bila kita memang tidak punya muka. Nah. (*)
Yola Sastra
Dimuat dalam Surat Kabar Singgalang Minggu
23 Agustus 2015

Senin, 27 Juli 2015

Yang Memimpikan Malam

Ilustrasi: deviantart.net

Inilah kisah tentang sang pemimpi. Yang selalu membutuhkan malam, untuk dapat terus bermimpi. Baginya siang adalah sisi dunia yang lain. Yang terlalu hiruk dan pikuk, menghambat setiap kesenangan duniawi.
Malam adalah yang terindah. Dari sekian waktu yang menjegal, hanya malam yang dapat memberi sedikit mabuk pada kantuk. Yang membuatnya hanyut dalam peluk.
Malam memberi sebuah kesunyian. Kesunyian yang menjanjikan sebuah keintiman, menyejukkan. Ia memberikan sebuah kekuatan bagi pemimpi untuk terus hebat dalam setiap pertarungan kehidupan. Ia memberikan nyawa pada raga untuk tak gontai melangkahi garis nasib. Nasib dapat ditulis ulang, direvisi, atau dihabisi—kalau ada malam.
Lalu bulan? Bulan adalah cerita lain. Ia sahabat malam dan pemimpi yang senantiasa memberi senyum. Menyumbat keluh dan menyinarkan harapan. Bulan datang sebagai kawan, menawarkan kelembutan. Bila malam dan mimpi tak kunjung akur, bulanlah pengkalibrasi sejati.
Ilustrasi: bibeh.com
Kadang malam cemburu akan bulan yang terlalu rapat dengan mimpi. Tapi malam kadang tak tahu, ia membuat mimpi jadi pencemburu. Malam selalu dipasangkan dengan siang. Sedangkan mimpi dipasangkan dengan kehampaan.
Bila siang adalah api, malam adalah air. Siang mengobarkan cemburu. Malam memadamkannya. Tetapi setiap pemadaman, selalu ada asap yang mengaburkan mata memandang. Pemimpi tersesat dalam lingkar ketidakpastian.
Pemimpi tak suka senja. Senja adalah keraguan. Senja menggerogoti mimpi antara iya atau tidak. Entah nyata atau ilusi. Tapi, entah kenapa, malam terlalu dekat dengan senja. Padahal ada magrib yang selalu mengawasi.
“Kasihan pemimpi,” kata sebuah hati.
“Hidup adalah ketidakpastian,” kata sebuah kepala.
“Dan dia butuh kepercayaan,” kata sebuah naluri.
Semuanya berterima. Tapi pemimpi lebih percaya naluri. Naluri memberikan kepastian di tengah kebimbangan. Kepastian yang menenangkan di dalam kesemuan. Dan itu lebih dari cukup untuk meyakinkan.

Bersambung….


Padang, 27 Juli 2015
Yola Sastra

Minggu, 12 Juli 2015

Kesalahan Berbahasa dan Fungsi Agen Bahasa


Ilustrasi: www.kompasiana.com

Bagi manusia, bahasa tak dapat dipisahkan dari kehidupannya. Tanpa bahasa, manusia tidak dapat hidup. Bahasa diciptakan manusia sebagai media untuk berkomunikasi. Dan kita pun tahu, manusia itu makhluk sosial yang butuh manusia lain, salah satunya dalam hal berkomunikasi.
Karena pentingnya bahasa, kita dituntut untuk berbahasa secara baik dan benar. Sesuai dengan konvensi para pembuat dan ahli bahasa. Kita tidak dapat mengubah bahasa seenaknya, apabila tidak ada kesepakatan dari banyak orang, masyarakat pengguna bahasa.
Banyak kesalahan dalam berbahasa, contohnya dalam penggunaan kata “bergeming”. Bergeming berarti diam. Tidak bergeming berarti tidak diam, atau bergerak. Namun, dalam kehidupan sehari-hari, dalam karya sastra umumnya, ditemukan penggunaan kata tidak bergeming yang mengacu pada makna diam. Hal ini tentu kontras sekali antara makna kata sebenarnya dengan makna kata yang dimaksudkan penulis atau pembicara.
Kata lainnya yang sering disalahgunakan adalah senonoh dan seronok. Senonoh berarti sopan. Seronok berarti enak dilihat. Namun, karena sering digunakan untuk mengemukakan hal negatif, seperti tidak senonoh atau kurang seronok, maka konotasi dua kata tersebut menjadi negatif. Akibatnya sekarang banyak yang menggunakan senonoh untuk menyatakan tidak sopan dan seronok untuk menyatakan tidak enak dilihat. Padahal makna sejatinya kontradiktif dengan makna yang sekarang mulai berkembang di tengah masyarakat.
Penyimpangan ini terjadi karena sang penutur kata tersebut hanya asal pakai kata, tanpa tahu maknanya. Hal ini terlihat pula dengan seringnya didengar orang yang mengucapkan kata “instruksi” untuk menyatakan “interupsi” di dalam rapat atau debat, “intensif” untuk menyatakan “insentif”, “interprestasi” untuk menyatakan “interpretasi”, dan banyak penyalahgunaan kata lainnya. Padahal seperti yang telah dikemukakan tadi, beda kata beda maknanya.
Kesalahan-kesalah itu tentu akan menciptakan kekacauan komunikasi. Bagi yang tahu makna aslinya maka akan lain pemahamannya. Bagi yang tidak tahu lain pula pahamnya. Untuk masalah kecil ini mungkin tidak terlalu berpengaruh. Tapi untuk hal urgen, barangkali ini akan membahayakan. Misalnya, ada dua orang yang salah paham saat terjebak di tengah-tengah jembatan yang nyaris rubuh karena lapuk. Di bawah jembatan itu ada bahaya yang mengancam, yakni sungai yang dalam dan penuh dengan buaya. Salah seorang di antara mereka berkata, “Jangan bergeming!” dengan maksud, “jangan bergerak” agar jembatannya tidak rubuh. Lawan bicaranya yang paham dengan maksud sebenarnya, kemudian “bergerak” karena maksud dari kata-kata itu, “jangan diam”. Akhirnya, karena kesalahpahaman, jembatan pun rubuh dan mereka tenggelam dalam sebuah celaka. Kesalahpahaman seperti ini tentu sangat berbahaya bagi para pengguna bahasa.
Peran agen bahasa
Kesalahan berbahasa seperti yang telah disebut harus segera dituntaskan. Harus segera diluruskan oleh para agen bahasa. Agen yang dimaksud di sini adalah orang-orang yang paham dan peduli terhadap bahasa Indonesia. Terutama mahasiswa dan dosen bahasa Indonesia. Inilah kesempatan mereka sebenarnya untuk menunjukkan keahliannya. Menunjukkan fungsinya sebagai orang yang mendalami ilmu bahasa Indonesia.
Orang-orang yang paham dan peduli dengan bahasa Indonesia itu harus segera meluruskan kesalahan-kesalahan berbahasa yang terjadi di tengah masyarakat. Tak perlu muluk-muluk, mulai saja dari diri sendiri. Sebab, tak sedikit pula orang yang mendalami bahasa Indonesia yang malah melakukan kesalahan itu sendiri. Benahi diri. Jangan sampai tunggak nan mambao rabah. Jangan sampai agen bahasa sebagai tonggak yang semestinya menegakkan bahasa Indonesia, malah menjatuhkan bahasa itu sendiri.
Setelah berbenah diri, maka langkah selanjutnya adalah meluruskan penggunaan bahasa di lingkungan sekitar. Jika menemukan sanak, saudara, atau kawan yang salah dalam menggunakan bahasa, segera luruskan dan beri pemahaman. Jika lingkungan sekitar telah dapat menggunakan bahasa secara baik dan benar, niscaya kebenaran berbahasa itu akan menyebar ke masyarakat lainnya, sehingga perlahan-lahan akan mengurangi kesalahan penggunaan bahasa di Indonesia.
Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional, bahasa resmi, bahasa negara, dan bahasa persatuan Indonesia. Kita sebagai bangsa Indonesia, yang mencintai negara, seharusnya menjaga dan menghargai bahasa Indonesia. Caranya, menggunakan bahasa Indonesia secara baik dan benar, serta meluruskan kesalahan berbahasa. (*)
Yola Sastra
Dimuat dalam Surat Kabar Singgalang Minggu, 7 Juni 2015

Sabtu, 25 April 2015

Nan Pandai

Ilustrasi: http://4.bp.blogspot.com/

Jenuh tidak ada pekerjaan setelah lebaran, akhirnya saya putuskan untuk ikut menjemput pasir dengan Pak Etek. Dengan mobil pick up kecil kami menyusuri jalan menuju daerah Lubuak Batingkok, Kecamatan Payakumbuh, Kabupaten 50 Kota. Di tepi Sungai Sinamar, tampak para penambang sedang memuat pasir ke atas bak mobil. Tiga mobil berjejer di tepian itu. Ada pick up, ada juga truk ukuran besar. Dari arah lain, di hulu sungai, tampak seorang penambang membawa hasil jerihnya dengan sampan sambil sesekali mendayung.
Asyik mengamati para penambang bekerja, saya tergelitik mendengar celotehan salah seorang pemilik mobil. Tampak tiga orang laki-laki paruh baya sedang maota ditemani segelas kopi di sisi masing-masing.
Ceritanya tentang bersawah. Salah seorang paota berkata, lebih baik menyuruh orang yang tidak pandai bersawah daripada orang yang pandai. Dua paota lainnya termenung. Kenapa demikian?
Nan tidak pandai akan bekerja lebih baik daripada nan pandai. Misalnya saja mencangkul sawah. Nan tidak pandai akan mencangkul tunggul padi sampai hancur—karena tidak tahu trik. Sehingga lumpur sawah akan lebur dan menyatu dengan tunggul. Lumpur menjadi lembur. Dan padi akan tumbuh subur. Memperkerjakan nan tidak pandai juga menghemat biaya. Nan tidak pandai bisa dibayar murah karena kurang pengalaman. Namun pekerjaannya dinilai lebih efektif dan efisien bagi pemilik sawah.
Sedangkan nan pandai—banyak pengalaman—punya trik-trik sendiri agar pekerjaannya lebih mudah. Apabila mencangkul, nan pandai tidak akan mencangkul tunggul sampai habis. Cukup dengan membalik tunggul dua kali balik, kerja pun selesai. Memang terlihat bersih di atas permukaan, namun tunggul dan lumpur tidak lebur sehingga pertumbuhan padi terhambat. Memperkerjakan nan pandai akan memboroskan biaya. Bayaran mahal, namun hasil tak maksimal.
Sesaat saya merenung. Menimbang benar tidaknya pernyataan itu. Namun karena kekurangan waktu berpikir—atau barangkali sedang tidak mau berpikir—saya pun menunda memikirkannya.
Setelah tiga puluh menit menunggu, pasir kami pun selesai dimuat. Saatnya untuk mengangkut pasir pulang. Di tengah perjalanan, cerita tentang nan pandai pun berlanjut. Kali ini Pak Etek yang memulai. “Beginilah orang nan pandai bekerja,” celetuknya. Dan kali ini, saya pula yang tercengang seperti dua paota tadi.
Kata Pak Etek, pasir yang kami angkut lebih ringan dari sebelumnya. Ini tentu ada kaitannya dengan kisah nan pandai tadi. Orang nan tidak pandai akan memuat pasir dengan bertumpuk-tumpuk. Dengan demikian pasir yang dinaikkan menjadi padat dan isinya sudah tentu banyak. Sedangkan nan pandai akan menaikkan pasir dengan mengirai. Dengan demikian pasir yang naik ke mobil menjadi gembur. Pasir yang dimuat akan lebih sedikit. Beban akan lebih ringan dan pekerjaan penambang tentu juga lebih ringan.
Lalu, pada tataran lebih tinggi ada pula kisah nan pandai. Semisal pegawai negeri atau pejabat negara lainnya. Banyak kita dapati PNS senior—tentunya sudah pandai—bekerja dengan santai. Pandai bermain dengan aturan, namun hidupnya sangat permai. Sedangkan PNS baru akan berusaha bekerja keras. Menunjukkan dedikasinya untuk perubahan. Namun karena dianggap belum pandai, usaha itu kurang dihargai.
Ada pula kisah tentang beberapa anggota DPR yang tentu saja sudah pandai. Pandai memikat hati rakyat. Pandai membuat peraturan. Tapi, pandai juga mencuri-curi waktu untuk tidur di tengah-tengah jam rapat. Kerja santai, nasib permai.
Begitulah fenomena orang pandai. Semakin tinggi sekolah semakin pandai. Kerja semakin santai. Hidup pun semakin permai. Tapi ingat pepatah, sepandai-pandai tupai melompat, sesekali tentu akan tergerapai juga.
Payakumbuh, 31 Oktober 2014

Yola Sastra